SUMUT POS- Film Pesta Babi bercerita tentang perjuangan masyarakat adat di Papua Selatan—terutama suku Malind, Yei, Awyu, dan Muyu—dalam melawan proyek besar pemerintah dan korporasi yang mengubah hutan serta tanah adat mereka menjadi kawasan industri sawit, tebu, dan proyek pangan skala besar.
Film ini memperlihatkan masyarakat adat mempertahankan tanah leluhur mereka di tengah tekanan besar ekspansi industri dan pengerahan aparat keamanan.
Film ini juga diperkaya penelusuran data kepemilikan atau afiliasi bisnis perkebunan sawit dan tebu di wilayah tersebut. Sekaligus menunjukkan segelintir orang yang menerima manfaat utamanya.
Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi Nasional Tinggi di Q1, Tapi Melambat di Q2
Film dokumenter Pesta Babi (2026) adalah film garapan bareng WatchDoc, Ekspedisi Indonesia Baru, Pusaka Bentala Rakyat, Jubi.id, Greenpeace dan LBH Papua Merauke. Sutradaranya Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Dale.
Film ini pertama kali diputar dalam gala premiere di Taman Ismail Marzuki, Jakarta pada 12 April. Untuk pra-peluncuran digelar di Tanah Papua, Selandia Baru dan Australia pada Maret.
Penonton dari pemutaran perdana Film Pesta Babi di Jakarta, Wini Angraeni memberi impresi pada film ini.
"Di film ini kita dipertunjukkan bagaimana pemerintah itu dengan PSN (Proyek Strategis Nasional), yang katanya untuk kepentingan rakyat, ternyata sangat arogan," katanya.
Di sisi lain, sang sutradara Cypri Dale menegaskan Film Pesta Babi bukan sekadar tontonan semata. Kata dia, film ini "menuntut jawaban" atas persoalan yang saat ini terjadi di Papua.
"Karena itu harus film ini untuk didiskusikan, dibicarakan dan untuk dicarikan solusinya. Karena itu forum nobar kita ini sangat demokratis dari komunitas untuk komunitas kita menghubungkan titik-titik solidaritas ini termasuk orang membicarakan masalah dari tempatnya sendiri," kata Cypri. (bbs/ram)
Editor : Juli Rambe