Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

BI Yakin Rupiah Menguat pada Juli–Agustus 2026, Tekanan Dinilai Musiman

Johan Panjaitan • Selasa, 19 Mei 2026 | 09:00 WIB
Seorang pegawai bank menunjukkan mata uang Dolar dan Rupiah. (arikamedia)
Seorang pegawai bank menunjukkan mata uang Dolar dan Rupiah. (arikamedia)

 

JAKARTA, Sumutpos.jawapos.com – Bank Indonesia (BI) meyakini nilai tukar rupiah akan kembali menguat pada periode Juli–Agustus 2026, setelah sebelumnya mengalami tekanan hingga menembus level Rp 17.600 per dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan tersebut dinilai masih bersifat musiman dan mengikuti pola tahunan pada periode April hingga Juni.

Keyakinan itu disampaikan Gubernur BI Perry Warjiyo dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Jakarta, kemarin (18/5). Menurut Perry, tekanan terhadap rupiah pada kuartal kedua umumnya dipicu meningkatnya kebutuhan devisa, mulai dari pembayaran dividen, kewajiban utang luar negeri, hingga musim haji yang mendorong lonjakan permintaan dolar AS.

“Secara historis, April sampai Juni memang periode tekanan karena demand devisa tinggi. Setelah itu biasanya mulai mereda dan rupiah kembali menguat pada Juli–Agustus,” ujarnya.

Rupiah Tembus Level Terendah, DPR Soroti Kinerja BI

Di tengah pelemahan nilai tukar, sorotan tajam datang dari anggota Komisi XI DPR, Primus Yustisio. Ia menilai kondisi rupiah yang tertekan menunjukkan adanya persoalan kepercayaan pasar terhadap kebijakan moneter.

Primus bahkan menyinggung perlunya evaluasi terhadap kepemimpinan bank sentral, dengan menilai pelemahan rupiah tidak sejalan dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang masih berada di kisaran 5 persen lebih.

Baca Juga: Pemerintah Kaji Pembatasan BBM Subsidi Berdasarkan CC Kendaraan, Ini Arah Kebijakan Baru Energi Nasional

Ia juga menyoroti kinerja pasar saham domestik yang dinilai tertinggal dibandingkan negara lain yang lebih cepat pulih pasca-gejolak global.

BI: Rupiah Masih Undervalue, Fundamental Ekonomi Tetap Kuat

Menanggapi kondisi tersebut, Perry Warjiyo menegaskan bahwa pelemahan rupiah saat ini tidak mencerminkan pelemahan fundamental ekonomi Indonesia. Menurutnya, rupiah masih berada dalam posisi undervalue dan berpotensi kembali menguat seiring stabilisasi pasar global.

BI juga mencatat rata-rata nilai tukar rupiah secara year to date berada di kisaran Rp 16.900 per dolar AS, masih di atas asumsi dasar APBN 2026 yang dipatok Rp 16.500 per dolar AS.

Meski demikian, Perry memastikan bahwa BI tetap optimistis nilai tukar akan kembali ke kisaran asumsi tersebut seiring stabilisasi arus modal dan kebijakan moneter yang berjalan.

Intervensi Pasar hingga Pengetatan Valas

Untuk menjaga stabilitas rupiah, BI telah melakukan berbagai langkah agresif di pasar keuangan. Intervensi dilakukan baik di pasar valuta asing domestik maupun offshore, yang berdampak pada penurunan cadangan devisa sekitar USD 10 miliar. Namun, BI menegaskan posisi cadangan devisa masih berada di level aman menurut standar internasional.

Selain itu, BI juga menaikkan imbal hasil instrumen moneter SRBI untuk menarik kembali arus modal asing. Kebijakan tersebut mulai menunjukkan hasil dengan berkurangnya arus keluar dana asing dan mulai masuknya kembali investasi portofolio.

Baca Juga: Xi Jinping dan Putin Bertemu di Beijing, Bahas Energi hingga Ketegangan Selat Taiwan

BI juga aktif membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder untuk menjaga likuiditas rupiah, dengan total pembelian mencapai Rp 133 triliun tahun ini, setelah sebelumnya mencapai Rp 332 triliun pada tahun lalu.

Langkah lainnya adalah memperketat transaksi pembelian dolar tanpa underlying, yang mulai Juni 2026 dibatasi dari USD 50 ribu menjadi USD 25 ribu guna memastikan penggunaan valas benar-benar untuk kebutuhan riil.

Tekanan Rupiah dan Dampaknya ke Industri

Di sisi lain, pelemahan rupiah turut menjadi perhatian kalangan ekonom. Peneliti LPEM FEB UI, Teuku Riefky, menilai tekanan kurs lebih banyak dipengaruhi faktor domestik, termasuk meningkatnya beban fiskal dan ketidakpastian kebijakan.

Ia menilai sektor industri manufaktur menjadi pihak yang paling rentan terdampak karena ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor. Kenaikan biaya impor berpotensi mendorong naiknya harga produksi atau menekan margin keuntungan pelaku usaha.

Fluktuasi Rupiah Sepekan Terakhir

Data Bank Indonesia menunjukkan rupiah bergerak fluktuatif dalam sepekan terakhir, mulai dari Rp 17.362 hingga menyentuh Rp 17.666 per dolar AS, sebelum kembali bergerak stabil di kisaran tinggi.

Baca Juga: Bea Cukai Arab Saudi Sita 100 Slop Rokok dari Jamaah Haji Indonesia


Dengan kombinasi intervensi kebijakan moneter, pengetatan valas, serta ekspektasi musiman, BI tetap optimistis tekanan rupiah bersifat sementara dan akan mereda pada paruh kedua 2026. (jpg/han)

Editor : Johan Panjaitan
#bi #rupiah #dpr #dollar