MEDAN, SUMUT POS- Ancaman hidrometeorologi tengah membayangi sebagian besar wilayah Sumatera Utara (Sumut). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Balai Besar MKG Wilayah I Medan secara resmi mengeluarkan peringatan dini prospek cuaca ekstrem yang diprediksi bakal mendominasi kawasan ini hingga 9 November 2026.
Masyarakat di 28 kabupaten/kota diminta meningkatkan kewaspadaan ekstra menyusul potensi hujan berintensitas sedang hingga sangat lebat, yang kerap disertai sambaran petir serta angin kencang berdurasi singkat secara lokal.
Fenomena cuaca buruk ini umumnya terpantau mulai berlangsung sejak siang hari hingga menjelang dini hari.
Kepala BMKG Wilayah I Medan, Hendro Nugroho menjelaskan, kondisi atmosfer di Sumatra Utara saat ini masih sangat mendukung terbentuknya awan-awan hujan sarat air.
Dalam sepekan terakhir saja, sejumlah daerah bahkan telah diguyur hujan dengan intensitas ekstrem yang memecahkan catatan pengamatan klimatologi harian.
"Kondisi tersebut dipengaruhi sejumlah faktor dinamika atmosfer, di antaranya adanya sirkulasi siklonik di Pantai Utara Aceh, terbentuknya daerah konvergensi dan belokan angin, serta aktifnya fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) di Samudera Hindia," ujar Hendro, Jumat (6/11).
Ia menambahkan, dinamika tersebut turut diperkuat oleh tingginya labilitas atmosfer lokal dan anomali suhu muka laut yang relatif hangat di sepanjang perairan barat hingga timur Sumatra Utara. Kombinasi faktor-faktor ini menjadi pemicu utama masifnya pertumbuhan awan konvektif penghasil hujan lebat.
Catatan pos pengamatan BMKG menunjukkan, betapa masifnya curah hujan yang mengguyur Sumut sepanjang sepekan ke belakang. Puncaknya, tercatat mulai dari Stasiun Meteorologi Kualanamu, Kabupaten Deliserdang, yang mendulang curah hujan hingga 93 milimeter pada 26 Oktober 2026.
Intensitas kian meninggi pada hari-hari berikutnya. Pos Hujan Kebun Boyan di Kabupaten Langkat mencatat curah hujan fantastis sebesar 160 milimeter pada 27 Oktober. Sehari berselang, giliran Pos Hujan Tarabintang di Kabupaten Humbang Hasundutan yang merekam curah hujan menembus angka 125 milimeter.
Memasuki akhir Oktober, curah hujan tinggi secara konsisten merata di berbagai daerah. Tercatat Pos Hujan BPP Batang Toru (Tapanuli Selatan) membukukan 53 milimeter pada 29 Oktober, disusul Pos Hujan Tanjung Langkat (Langkat) sebesar 70 milimeter pada 30 Oktober, serta Pos Hujan PDAM Tirtanadi Sibolangit (Deliserdang) mencapai 72 milimeter pada 31 Oktober.
Lonjakan curah hujan yang masif ini langsung memicu reaksi berantai di lapangan, mulai dari peningkatan debit sungai hingga bencana genangan di wilayah perkotaan.
Kota Medan Siaga, Deliserdang dan Batubara Dilanda Bencana
Dampak nyata cuaca ekstrem ini sudah mulai dirasakan warga sejak akhir pekan. Hujan deras yang mengguyur Kota Medan sejak Jumat (6/11) dini hari hingga pagi hari membuat sejumlah sungai utama mengalami kenaikan volume air secara signifikan.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Medan, Yunita Sari, mengungkapkan, peningkatan debit air terpantau di lima sungai besar, yakni Sungai Deli, Sungai Babura, Sungai Sikambing, Sungai Belawan, hingga Sungai Denai.
"Cukup banyak ruas jalan yang tergenang akibat hujan deras tadi malam sampai pagi ini. Alhamdulillah, genangan masih aman terkendali, dan sampai saat ini belum ada warga yang mengungsi," kata Yunita.
Kendati demikian, genangan air sempat memicu kemacetan arus lalu lintas di beberapa titik sebelum akhirnya berangsur surut.
Yunita tak lupa mengingatkan warga Kota Medan untuk tetap siaga, khususnya yang tinggal di bantaran sungai. Pasalnya, suplai air dari kawasan hulu di dataran tinggi seperti Sibolangit terpantau masih tinggi.
Tim BPBD bersama aparatur kelurahan dan kecamatan kini terus bersiaga melakukan pemantauan ketat terhadap pergerakan permukaan air sungai.
Sementara itu, bencana hidrometeorologi skala lokal telah dilaporkan terjadi di dua kabupaten tetangga berdasarkan data BPBD Sumut hingga Jumat pagi pukul 08.00 WIB. Kepala BPBD Sumut, Tuahta Ramajaya Harahap, menyebutkan bahwa peristiwa tersebut terjadi sehari sebelumnya, Kamis (5/11).
Di Kabupaten Deliserdang, banjir menerjang dua kecamatan akibat luapan sungai. Sekitar pukul 11.15 WIB, debit air Sungai Sei Putih meluap setelah hujan lebat mengguyur Desa Punden Rejo, Kecamatan Tanjung Morawa, merendam permukiman warga setinggi 10 hingga 20 sentimeter dan berdampak pada 40 kepala keluarga (KK).
Disusul kemudian pada pukul 15.10 WIB di Kelurahan Syahmad, Kecamatan Lubuk Pakam, di mana luapan Sungai Kualanamu menggenangi Lingkungan I dan III setinggi 10 hingga 25 sentimeter yang berdampak pada 11 KK. Total 51 kepala keluarga terdampak di wilayah ini tanpa adanya korban jiwa maupun warga yang mengungsi.
Kecelakaan akibat angin kencang juga dilaporkan di Kabupaten Batubara. Pohon besar dilaporkan tumbang dan menimpa rumah warga di Desa Perkebunan Petatal, Kecamatan Datuk Tanah Datar, pada Kamis dini hari sekitar pukul 03.00 WIB. Peristiwa ini merusak ringan dua unit rumah warga.
Pemerintah daerah melalui BPBD Batu Bara bergerak cepat membersihkan puing-puing serta menyalurkan bantuan paket sembako kepada para korban terdampak.
28 Wilayah Diminta Waspada Maksimal
Melihat potensi ancaman yang masih membentang hingga 9 November 2026, BMKG memperingatkan agar seluruh pemangku kepentingan tidak lengah. Sebanyak 28 wilayah di Sumatra Utara masuk dalam peta zona siaga cuaca ekstrem.
Wilayah tersebut meliputi Kabupaten Langkat, Kota Binjai, Kota Medan, Kabupaten Deliserdang, Kabupaten Serdang Bedagai, Kota Tebing Tinggi, Kabupaten Asahan, Kabupaten Batubara, Kabupaten Labuhanbatu, Kabupaten Labuhanbatu Utara, dan Kabupaten Labuhanbatu Selatan.
Ancaman serupa juga mengintai wilayah dataran tinggi dan pesisir barat-selatan, yakni Kabupaten Pakpak Bharat, Dairi, Karo, Humbang Hasundutan, Simalungun, Toba, Samosir, Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Padang Lawas, dan Mandailing Natal.
Kewaspadaan juga dipatok tinggi di Kota Sibolga, Kota Padangsidimpuan, Kabupaten Nias Selatan, Nias, Nias Barat, hingga Kota Gunungsitoli.
Kepala daerah di seluruh wilayah Sumut didesak untuk memperkuat koordinasi lintas sektoral bersama BPBD, TNI, dan Polri guna mengantisipasi kemungkinan terburuk dari ancaman banjir, banjir bandang, tanah longsor, maupun pohon tumbang. (san/map/adz)
Editor : Juli Rambe