Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Nasib Para Pelatih di Piala Dunia, Ada yang Mengundurkan Diri, Ada yang Dipecat

Juli Rambe • Kamis, 2 Juli 2026 | 06:00 WIB
Pelatih Hong Myung-bo. (Dok: FIFA)
Pelatih Hong Myung-bo. (Dok: FIFA)

 

SUMUT POS- Piala Dunia 2026 masih dalam tahap penyisihan 16 besar. Tetapi, beberapa pelatih sudah mengalami kisah sedih. Ada yang dipecat, dan ada pula yang mengundurkan diri karena tim asuhannya gagal.

Hingga babak 16 besar berlangsung, sedikitnya tujuh sosok memilih mundur atau diberhentikan setelah gagal memenuhi target membawa timnya melaju lebih jauh di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

Ronald Koeman

Baca Juga: Hakim Tolak Pembacaan BAP Baron, Sidang Korupsi Smartboard Langkat Soroti Peran Sosok Misterius

Nama paling menyita perhatian adalah Ronald Koeman yang resmi mengundurkan diri sebagai pelatih Belanda.

Legenda sepak bola Belanda itu mengambil keputusan sehari setelah tim Oranye disingkirkan Maroko melalui adu penalti pada babak gugur.

Melalui media sosialnya, Koeman mengaku bertanggung jawab penuh atas kegagalan tersebut. Menurutnya, sebagai pelatih kepala, seluruh hasil tim menjadi tanggung jawab yang harus diterima tanpa mencari alasan.

"Semalam saya memutuskan mengakhiri masa jabatan sebagai pelatih kepala tim nasional Belanda," tulis Koeman.

"Kami semua bermimpi menciptakan sejarah di Piala Dunia. Itu tidak terjadi dan tidak ada yang lebih kecewa daripada saya."

Koeman sebenarnya baru kembali menangani Belanda setelah Piala Dunia 2022 di Qatar. Itu merupakan periode keduanya setelah sebelumnya melatih De Oranje pada 2018 hingga 2020.

Hong Myung-bo

Legenda Korea Selatan Hong Myung-bo juga memilih mengakhiri masa jabatannya. Padahal, ia pernah menjadi kapten tim yang membawa Korea Selatan mencapai semifinal Piala Dunia 2002.

Popularitas Hong terus menurun setelah kegagalan pada Piala Dunia 2014. Kondisi itu kembali terulang di Piala Dunia 2026 ketika Korea Selatan tersingkir pada fase grup setelah kalah dari Meksiko dan Afrika Selatan.

Hong menyampaikan permintaan maaf kepada seluruh masyarakat Korea Selatan.

Ia menilai sudah saatnya memberikan kesempatan kepada sosok lain untuk memimpin tim nasional.

"Saya ingin meminta maaf dengan tulus kepada masyarakat yang selalu mencintai dan mendukung sepak bola Korea," ujar Hong. "Saya memutuskan mundur sebagai pelatih kepala tim nasional Korea Selatan."

Miroslav Koubek

Nasib serupa dialami pelatih Republik Ceko Miroslav Koubek. Ia mengundurkan diri setelah timnya hanya meraih satu poin dan menjadi juru kunci Grup A.

Koubek sebenarnya sukses membawa Republik Ceko lolos ke Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak 2006. Namun, performa tim di Amerika Utara jauh dari harapan sehingga ia memilih mengakhiri masa kerjanya.

Dalam pernyataannya, Koubek juga menyinggung tekanan dari media. Ia menyebut berbagai pemberitaan yang dianggap tidak benar ikut memengaruhi keputusannya untuk mundur.

Yasser Al Misehal 

Perubahan terbesar justru terjadi di Arab Saudi. Bukan hanya pelatih, Presiden Federasi Sepak Bola Arab Saudi Yasser Al Misehal juga memilih mengundurkan diri setelah Green Falcons gagal lolos dari fase grup.

Arab Saudi datang dengan ekspektasi tinggi setelah pernah mengalahkan Argentina pada Piala Dunia 2022. Namun, mereka justru finis di dasar Grup H dengan hanya mengumpulkan dua poin.

Al Misehal mengakui hasil tersebut jauh dari target yang telah ditetapkan. Ia juga menyatakan bertanggung jawab penuh atas kegagalan tersebut.

"Kegagalan tim nasional lolos ke babak berikutnya merupakan hasil yang jauh dari ambisi kami," kata Al Misehal. "Saya memikul tanggung jawab penuh dan memutuskan tidak melanjutkan jabatan ini."

Sabri Lamouchi

Kasus paling ekstrem terjadi di Tunisia. Sabri Lamouchi langsung dipecat hanya setelah menjalani satu pertandingan di putaran final Piala Dunia 2026.

Tunisia kalah telak 5-1 dari Swedia pada laga pembuka. Federasi kemudian bergerak cepat dengan menunjuk mantan pelatih Arab Saudi Herve Renard sebagai pengganti.

Lamouchi sebenarnya baru mulai bekerja pada Januari 2026 dan hanya memimpin lima pertandingan. Ia kini tercatat sebagai pelatih pertama dalam sejarah yang diberhentikan setelah hanya satu laga di putaran final Piala Dunia.

Ironisnya, Tunisia datang ke turnamen dengan catatan impresif karena tidak kebobolan selama babak kualifikasi. Namun, mereka justru kalah dalam seluruh pertandingan fase grup dengan kebobolan total 12 gol.

Steve Clarke

Steve Clarke juga memilih mengakhiri masa baktinya bersama Skotlandia. Keputusan itu diambil setelah Skotlandia gagal lolos dari fase grup pada penampilan pertama mereka di putaran final Piala Dunia dalam 28 tahun terakhir.

Skotlandia memang finis di posisi ketiga Grup C dengan satu kemenangan dan dua kekalahan. Namun, perolehan poin mereka tidak cukup untuk masuk daftar delapan tim peringkat ketiga terbaik.

Dalam pesan perpisahannya, Clarke mengaku bagian paling emosional adalah meninggalkan para pemain yang telah bekerja sama dengannya sejak 2019.

Selama memimpin Skotlandia, ia mencatatkan 36 kemenangan, rekor terbanyak sepanjang sejarah pelatih tim nasional tersebut.

Sebastian Beccacece

Pelatih terakhir yang meninggalkan jabatannya adalah Sebastian Beccacece. Ia mengundurkan diri setelah Ekuador kalah 2-0 dari Meksiko pada babak 32 besar.

Ekuador sebenarnya sempat mencuri perhatian setelah mengalahkan Jerman pada fase grup untuk lolos ke babak gugur. Namun, perjalanan mereka akhirnya terhenti saat menghadapi Meksiko.

Beccacece mengungkapkan kontraknya memang berakhir setelah Piala Dunia 2026. Ia mengakui gagal memenuhi target yang dijanjikan sehingga memilih mengakhiri kebersamaan dengan tim nasional Ekuador.

"Kami tidak mampu mencapai pencapaian yang kami janjikan. Hari ini giliran saya mengucapkan selamat tinggal," ujar Beccacece. 

"Saya sebenarnya ingin melanjutkan pekerjaan ini, tetapi saya memahami bagaimana dunia sepak bola bekerja."

Pergantian pelatih menjadi salah satu konsekuensi paling nyata dari kerasnya persaingan di Piala Dunia 2026.

Seiring turnamen memasuki fase-fase penentuan, bukan tidak mungkin daftar pelatih yang kehilangan jabatan akan terus bertambah apabila negara-negara unggulan kembali gagal memenuhi ekspektasi. (jpc/ram)

 

Editor : Juli Rambe
#pelatih piala dunia 2026 #piala dunia 2026