Oleh: Dr Agus Marwan SIP MSP
Ditengah tantangan global perubahan iklim dan ketimpangan ekonomi, konsep ekonomi biru hadir sebagai pendekatan pembangunan yang menempatkan laut bukan hanya sebagai sumber daya, tetapi sebagai ruang hidup yang harus dijaga keberlanjutannya. Ekonomi biru menekankan pemanfaatan sumber daya kelautan dan pesisir secara bertanggung jawab, dengan tujuan menciptakan kesejahteraan ekonomi, pelestarian lingkungan, dan keadilan sosial.
Sumatera Utara memiliki posisi strategis sebagai provinsi pesisir dan kepulauan, dengan garis pantai yang membentang dari pesisir barat hingga timur, serta potensi maritim yang melimpah. Mulai dari perikanan tangkap dan budidaya, ekowisata bahari hingga industri pelabuhan dan logistik. Namun, potensi ini belum sepenuhnya terkelola secara berkelanjutan dan inklusif.
Dalam konteks inilah, Bobby Nasution sebagai gubernur Sumatera Utara mengusung visi transformasi ekonomi daerah melalui pendekatan ekonomi biru. Ia menekankan pentingnya sinergi antara pembangunan dan pelestarian, antara pertumbuhan dan pemerataan. Visi ini bukan sekadar agenda teknokratis, melainkan panggilan untuk membangun Sumut yang berkah, unggul dan berkelanjutan dengan laut sebagai pusat harapan dan kemajuan.
Landasan Visi
Dalam Musrenbang RPJMD Sumatera Utara 2025-2029, Gubernur Bobby Nasution menegaskan arah pembangunan provinsi yang berfokus pada pertumbuhan ekonomi tinggi yang berkelanjutan, penurunan kemiskinan, peningkatan kualitas sumber daya manusia dan pelestarian lingkungan hidup. Visi yang diusung adalah: Kolaborasi Sumut Berkah menuju Sumatera Utara Unggul, Maju dan Berkelanjutan.
Visi ini sejalan dengan prinsip ekonomi biru yang menempatkan keberlanjutan sebagai fondasi utama pembangunan. Target-target makro seperti peningkatan indeks kualitas lingkungan hidup (dari 73,96 menjadi 77,87 poin) dan penurunan emisi gas rumah kaca (dari 1 persen menjadi 16,88 persen) sebagaimana yang telah tertuang dalam RPJMD Sumut menunjukkan komitmen kuat terhadap pembangunan rendah karbon dan pelestarian ekosistem pesisir dan laut.
Lebih dari sekadar angka, visi ini menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dan wilayah. Strategi pembangunan berbasis kawasan. Meliputi zona pertumbuhan, komoditas unggulan, swasembada pangan dan energi serta kawasan afirmasi dan konservasi. Menjadi kerangka kerja untuk menyatukan potensi daratan, pesisir dan kepulauan dalam satu arah pembangunan yang inklusif dan berdaya tahan.
Dengan pendekatan ini, ekonomi biru bukan hanya menjadi sektor, tetapi menjadi paradigma pembangunan Sumatera Utara: menghubungkan laut dan darat, ekologi dan ekonomi, tradisi dan inovasi.
Pilar Strategis Ekonomi Biru Bobby Nasution
Untuk mewujudkan Sumatera Utara yang unggul dan berkelanjutan, Bobby Nasution merumuskan sejumlah pilar strategis dalam pengembangan ekonomi biru. Pilar-pilar ini mencerminkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan, pemberdayaan masyarakat dan transformasi industri kelautan secara menyeluruh.
Pertama, pengelolaan laut dan pesisir yang berkelanjutan. Pembangunan diarahkan untuk menjaga keseimbangan ekologi laut melalui konservasi ekosistem penting seperti mangrove dan terumbu karang. Di sisi lain, penguatan regulasi dan pengawasan terhadap eksploitasi sumber daya menjadi prioritas agar pemanfaatan tetap terkendali dan berkeadilan.
Kedua, modernisasi industri maritim dan perikanan. Transformasi sektor perikanan dilakukan melalui pembaruan teknologi tangkap dan peningkatan kapasitas armada nelayan. Selain itu, hilirisasi produk perikanan didorong agar nilai tambah meningkat dan daya saing produk Sumut di pasar nasional maupun internasional semakin kuat.
Ketiga, pemberdayaan komunitas pesisir dan kepulauan. Pemerintah provinsi menyiapkan program pelatihan dan inkubasi usaha berbasis kelautan untuk masyarakat pesisir. Prinsip Gender, Disabilitas dan Inklusi Sosial (GEDSI) diterapkan agar setiap kelompok, termasuk yang rentan, memiliki akses dan peran dalam pembangunan ekonomi biru.
Keempat, integrasi dalam tata ruang dan infrastruktur. Pembangunan pelabuhan yang ramah lingkungan dan peningkatan konektivitas antar pulau menjadi bagian dari strategi integratif. Hal ini bertujuan memperkuat jaringan logistik, memperlancar mobilitas, dan membuka akses ekonomi bagi wilayah pesisir yang selama ini terpinggirkan.
Program Ekonomi Biru Bobby Nasution
Sebagai bagian dari transformasi ekonomi berkelanjutan di Sumatera Utara, Bobby Nasution merancang serangkaian program Ekonomi Biru yang menitikberatkan pada pelestarian ekosistem laut, pemberdayaan masyarakat pesisir dan penguatan sektor perikanan.
Program utama pertama adalah penguatan tata kelola kawasan konservasi laut melalui program Pemberdayaan Nelayan sebagai Pasukan Penjaga Laut (Semesta).
Pemerintah provinsi mendorong sistem pengawasan terpadu untuk menjaga kawasan konservasi laut dan perairan pesisir, dengan pendekatan lintas sektor dan teknologi pemantauan yang adaptif. Semestw menjadikan nelayan bukan sekadar pencari ikan, tetapi penjaga laut, pelindung ekosistem, dan mitra pembangunan hijau Sumatera Utara.
Kedua, rehabilitasi mangrove dan wilayah pesisir berbasis partisipasi masyarakat. Upaya restorasi ekosistem pesisir dilakukan secara inklusif, melibatkan kelompok masyarakat lokal sebagai pelaksana utama, sekaligus membuka peluang ekonomi hijau di wilayah pesisir.
Ketiga, pengembangan zona unggulan perikanan tangkap dan budidaya. Identifikasi kawasan produktif untuk perikanan dilakukan secara strategis, disertai dukungan teknologi, pelatihan dan akses pasar bagi nelayan dan pembudidaya agar lebih kompetitif dan berkelanjutan.
Keempat, peningkatan industri halal kelautan. Produk-produk hasil laut diarahkan untuk memenuhi standar halal nasional dan internasional. Membuka peluang ekspor dan memperkuat posisi Sumatera Utara dalam ekosistem industri halal nasional.
Kelima, fasilitasi investasi maritim di kawasan strategis pesisir. Pemerintah menyediakan lahan sebagai kawasan prioritas investasi maritim, dengan target penciptaan lapangan kerja dan nilai investasi yang signifikan.
Keenam, kemitraan multipihak untuk akselerasi ekonomi biru. Untuk mempercepat transformasi ekonomi biru di Sumatera Utara, Bobby Nasution mengusung pendekatan kemitraan multipihak yang melibatkan pemerintah, dunia usaha, komunitas pesisir dan lembaga legislatif.
Tantangan dan Peluang
Penerapan ekonomi biru di Sumatera Utara menghadapi sejumlah tantangan struktural dan ekologis yang perlu diatasi secara kolaboratif. Salah satu tantangan utama adalah kesenjangan pembangunan antara wilayah pesisir dan daratan. Banyak komunitas pesisir yang masih tertinggal dalam akses layanan dasar, infrastruktur dan peluang ekonomi, sehingga memerlukan pendekatan afirmatif dan pemerataan investasi.
Disisi lain, ancaman perubahan iklim semakin nyata. Kenaikan muka air laut, abrasi pantai dan degradasi ekosistem laut seperti terumbu karang dan mangrove mengancam keberlanjutan sumber daya alam dan mata pencaharian masyarakat pesisir. Hal ini menuntut kebijakan adaptif yang berbasis ilmu pengetahuan dan partisipasi masyarakat.
Namun, dibalik tantangan tersebut, terbuka peluang besar untuk membangun ekosistem ekonomi biru yang tangguh dan inklusif. Kolaborasi dengan perguruan tinggi dapat memperkuat riset dan inovasi teknologi kelautan. Keterlibatan komunitas adat membawa nilai-nilai kearifan lokal dalam pengelolaan sumber daya. Sementara itu, kemitraan dengan sektor swasta membuka ruang investasi hijau dan pengembangan usaha biru yang berkelanjutan.
Epilog
Visi ekonomi biru yang digagas Bobby Nasution bukan sekadar agenda pembangunan, melainkan ajakan untuk bergerak bersama lintas sektor, lintas generasi, dan lintas wilayah. Dari pemerintah hingga komunitas adat, dari akademisi hingga pelaku usaha, semua memiliki peran penting dalam mewujudkan Sumatera Utara yang unggul dan berkelanjutan.
Dengan potensi maritim yang besar dan semangat kolaboratif yang terus dibangun, Sumut memiliki peluang nyata untuk tampil sebagai pelopor ekonomi biru di tingkat nasional. Sebuah model pembangunan yang tidak hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga menjunjung keadilan sosial, ketahanan ekologi dan kebanggaan budaya.
Melalui langkah-langkah strategis dan komitmen bersama, Sumatera Utara dapat menjadi contoh bagaimana laut bukan hanya sumber daya, tetapi juga sumber harapan. Menuju Sumut yang berkah, tangguh, dan menjadi inspirasi bagi Indonesia. (Penulis adalah Ketua Forum Masyarakat Literasi Indonesia, alumni Program Doktor Studi Pembangunan Universitas Sumatera Utara)
Editor : Johan Panjaitan