MEDAN - Sistem perbankan syariah dinilai semakin relevan dengan gaya hidup generasi Z (Gen Z) yang peduli terhadap isu keberlanjutan lingkungan dan sosial (conscious living).
Hal itu disampaikan Komisaris PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI), Sigit Pramono, dalam kuliah umum bertajuk Capita Selecta: Perkembangan Perbankan Syariah di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Medan pada Rabu (15/7/2026).
Kegiatan tersebut turut dihadiri Komisaris Independen BSI, Nizar Ahmad Saputra, dan Regional CEO BSI Region 2 Medan, Taufan Anshari.
Dalam paparannya, Sigit mengajak mahasiswa melihat perbankan syariah sebagai sistem keuangan yang modern, inklusif, dan berlandaskan etika.
"Seluruh operasional perbankan syariah berlandaskan Maqashid Syariah yang esensinya sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs)," ujar Sigit.
Menurutnya, perbankan syariah tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga menjaga keseimbangan antara aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan.
"Sistem ini berupaya mencapai keseimbangan antara People, Profit, dan Planet. Karena itu, perbankan syariah memiliki batasan tegas untuk tidak mendanai industri yang dapat merugikan tatanan masyarakat, seperti pabrik minuman keras dan rokok," katanya.
Sigit juga menyoroti posisi Indonesia dalam industri ekonomi syariah global. Berdasarkan laporan Global Islamic Economic Indicator (GIEI) 2024/2025, Indonesia menempati peringkat ketiga dunia. Namun, pangsa pasar perbankan syariah di dalam negeri masih relatif kecil dibandingkan negara mayoritas Muslim lainnya.
"Pangsa pasar perbankan syariah di Indonesia masih tertinggal dibandingkan Arab Saudi yang mencapai sekitar 63 persen dan Malaysia sekitar 30 persen. Ini menjadi tantangan sekaligus peluang besar bagi kita," ungkapnya.
Untuk meningkatkan pangsa pasar tersebut, lanjut Sigit, industri perbankan syariah perlu memperkuat literasi masyarakat, mempercepat transformasi digital, serta memperkokoh permodalan.
Upaya tersebut sejalan dengan komitmen pemerintah yang menjadikan pengembangan ekonomi syariah sebagai salah satu program prioritas dalam Visi Asta Cita menuju Indonesia Emas 2045.
Menutup kuliah umum, Sigit mengajak mahasiswa untuk tidak ragu memanfaatkan layanan perbankan syariah yang kini telah didukung inovasi digital dan layanan mobile banking yang kompetitif.
"Saya mengajak generasi muda untuk mengenal dan menggunakan perbankan syariah. Dengan literasi yang baik, Gen Z dapat menjadi agen perubahan yang mendorong perekonomian nasional agar lebih adil, produktif, dan membawa keberkahan," tandasnya. (rel/tri)
Editor : Redaksi