MEDAN, SUMUT POS - Ratusan mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) mengikuti TASPEN Goes to Campus - USU 2026 di Auditorium USU, Medan, Rabu (16/9/2026).
Kegiatan tersebut menjadi ajang edukasi literasi keuangan sekaligus mendorong generasi muda mulai mempersiapkan masa depan dan dana pensiun sejak dini.
Kegiatan yang dikemas interaktif itu menghadirkan jajaran pimpinan PT TASPEN (Persero), Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sumatera Utara, serta perencana keuangan nasional. Edukasi yang diberikan mencakup pengelolaan pendapatan, investasi, pengendalian pengeluaran hingga persiapan menghadapi masa pensiun.
CEO dan Lead Financial Trainer QM Financial, Ligwina Hananto, mengingatkan mahasiswa agar tidak menunggu memasuki usia tua untuk mulai mengatur keuangan. Menurutnya, kebiasaan menyisihkan penghasilan harus dibangun sejak seseorang mulai memperoleh pendapatan.
Ligwina membagikan rumus sederhana dalam mengelola keuangan. Sedikitnya 10 persen penghasilan dapat dialokasikan untuk tabungan dan investasi, sementara pengeluaran gaya hidup seperti hiburan, makan di luar, ngopi, jalan-jalan dan hobi dibatasi sekitar 20 persen.
Sedangkan cicilan, menurutnya, sebaiknya tidak lebih dari 30 persen penghasilan. Sisa pendapatan digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
“Penghasilan harus selalu lebih besar dibandingkan pengeluaran. Harus surplus, tidak boleh defisit,” kata Ligwina.
Ia menegaskan, persentase tersebut bukan angka mutlak karena kondisi penghasilan dan kebutuhan setiap orang berbeda. Namun, prinsip menyisihkan penghasilan secara rutin harus mulai dibangun.
Baca Juga: Wabup Paluta Pastikan Fasilitas Relokasi Pasar Gunungtua Siap Digunakan
“Rata-rata saya ketemu orang nabung itu lima sampai 10 persen. Kenapa? Karena hidup itu nggak gampang, banyak pengeluarannya. Tapi mari bertarget, bisa nggak selalu menyisihkan, menabung lima sampai 10 persen paling sedikit,” ujarnya.
Ligwina juga mengingatkan mahasiswa agar tidak terjebak dalam gaya hidup yang membuat pengeluaran meningkat seiring bertambahnya penghasilan. Menurutnya, kondisi finansial yang kuat bukan hanya tentang memiliki kekayaan, tetapi juga kemampuan membantu orang lain tanpa mengorbankan kebutuhan sendiri.
“Cita-citanya jangan cuma ingin jadi orang paling kaya, tapi jadilah orang yang bermanfaat, dapat menolong orang lain tanpa harus terganggu,” katanya.
Selain pengelolaan keuangan, Ligwina mengenalkan sejumlah instrumen investasi yang dapat dipelajari generasi muda, seperti emas, saham, Surat Berharga Negara (SBN) ritel dan reksa dana.
Baca Juga: Pemko Binjai Sampaikan Duka, Pangkas Pohon Rawan Tumbang di Lapangan Merdeka
Ia juga mengingatkan mahasiswa untuk berhati-hati terhadap aktivitas finansial berisiko, terutama judi online, pinjaman online ilegal dan investasi bodong.
“Jangan sampai terlibat pinjol, judi online, dan investasi bodong. Hati-hati dan hindari tiga hal ini karena tidak akan membuat Anda cepat kaya, melainkan membuat Anda cepat bangkrut,” tegasnya.
Sementara itu, Direktur Operasional PT TASPEN (Persero), Tribuna Phitra Djaja, mendorong mahasiswa mulai memikirkan masa depan finansial sejak masih muda. Ia mengaku pernah berada pada fase ketika perencanaan keuangan belum menjadi perhatian utama.
“Saya dulu sekitar 10 tahun bekerja, sampai 20 tahun tidak pernah berpikir bagaimana caranya menabung. Ini sama kita ya, masih muda itu tidak pernah berpikir,” ujarnya.
Menurut Tribuna, pentingnya perencanaan keuangan semakin terasa ketika seseorang memasuki masa pensiun. Pendapatan yang diterima saat masih aktif bekerja dapat mengalami perubahan setelah memasuki masa purna tugas.
“Begitu pensiun, sudah tinggal gaji pokoknya saja. Ini memang harus kita manage pengelolaan,” katanya.
Karena itu, ia mengajak mahasiswa mulai menyisihkan sebagian penghasilan ketika sudah bekerja, meski jumlahnya disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.
“Kalau gaji saya katakanlah gajinya UMR, katakanlah UMR-nya sekitar Rp5 juta lebih, itu mungkin bisa ditabung sebulan Rp1 juta, dipaksakan untuk memikirkan masa tuanya kita,” ujarnya.
Tribuna juga menjelaskan peran TASPEN dalam memberikan perlindungan bagi aparatur sipil negara (ASN) dan pejabat negara melalui sejumlah program, antara lain Tabungan Hari Tua (THT), pensiun, Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), dan Jaminan Kematian (JKM).
Saat ini, TASPEN mengelola aset sekitar Rp430 triliun. Pengelolaan tersebut, kata Tribuna, diarahkan untuk memastikan perlindungan dan manfaat bagi peserta, termasuk melalui pengembangan layanan bersama anak perusahaan TASPEN Life.
Dari sisi regulator, Direktur Pengawasan Perilaku PUJK, Edukasi, Perlindungan Konsumen dan LMS OJK Provinsi Sumatera Utara, Yusri, mengatakan literasi dan inklusi masyarakat terhadap sektor dana pensiun masih perlu diperkuat.
Ia mengajak generasi muda tidak menganggap pensiun sebagai sesuatu yang masih terlalu jauh sehingga persiapannya dapat ditunda.
“Bagi anak-anak muda sekarang, pensiun adalah sesuatu yang masih jauh. ‘Sekarang ingin menikmati,’ begitu pikirnya. Padahal mempersiapkan pensiun itu bukan sesuatu yang harus ditunda,” kata Yusri.
Menurutnya, persiapan tersebut dapat dimulai sejak menerima penghasilan pertama dengan menyisihkan sebagian pendapatan secara rutin.
“Mulailah saat Anda mendapatkan penghasilan pertama, cicil, sisihkan. Jangan abaikan bekal hari ini karena kita tidak pernah tahu masa depan seperti apa,” tegasnya.
Yusri juga membagikan pengalamannya yang telah mempersiapkan kebutuhan masa pensiun sejak awal bekerja. Menurutnya, perencanaan yang dilakukan jauh hari dapat membantu seseorang menghadapi masa purna tugas dengan lebih terukur.
Kegiatan TASPEN Goes to Campus – USU 2026 tersebut merupakan bagian dari Bulan Dana Pensiun 2026 bertema “Muda Berkarya, Tua Bahagia”. Dalam kesempatan yang sama, TASPEN dan USU juga menandatangani nota kesepahaman kemitraan strategis.
Melalui kegiatan tersebut, TASPEN, OJK dan USU mendorong mahasiswa tidak hanya berorientasi pada pendapatan saat ini, tetapi juga membangun kebiasaan finansial yang sehat, disiplin menabung dan berinvestasi, serta mempersiapkan kebutuhan jangka panjang sejak usia produktif. (tri)
Editor : Redaksi