LONDON, Sumutpos.jawapos.com – Arsenal kembali menapakkan kaki di final Liga Champions setelah penantian panjang selama dua dekade. Kepastian itu diraih The Gunners usai menundukkan Atletico Madrid 1-0 pada leg kedua semifinal di Emirates Stadium, Rabu dini hari WIB (7/5), sekaligus memastikan agregat 2-1 untuk wakil Inggris tersebut.
Gol tunggal Bukayo Saka pada penghujung babak pertama menjadi pembeda dalam laga yang berlangsung penuh tensi. Namun lebih dari sekadar tiket final, kemenangan itu mempertegas identitas baru Arsenal musim ini: tangguh, matang, dan belum tersentuh kekalahan di Eropa.
Pasukan Mikel Arteta melangkah ke final dengan status invincibles. Sejak fase league hingga semifinal, Arsenal mencatat 11 kemenangan dan tiga hasil imbang dalam 14 pertandingan Liga Champions musim 2025–2026. Catatan itu mengulang memori musim 2005–2006 ketika Arsenal terakhir kali mencapai final dengan rekor tak terkalahkan.
Bedanya, Arsenal edisi sekarang tampil lebih agresif. Jika tim era Thierry Henry hanya mencetak 14 gol menuju final, Arsenal musim ini sudah mengoleksi 29 gol. Intensitas permainan lebih tinggi, tekanan lebih berani, dan lini depan lebih produktif.
Baca Juga: Bupati Nisel Hadiri Pembukaan Karya Bakti TNI AD 2026, Sinergi Percepat Pembangunan Kepulauan Nias
Meski demikian, kritik tetap datang. Arsenal dianggap kurang tajam dalam beberapa pertandingan terakhir karena hanya menang dengan margin tipis. Namun, Bukayo Saka memilih menepis semua keraguan itu.
“Sekarang kami sudah di final, dan kami harus memenanginya,” ujar Saka kepada Football London.
Pemain yang mengenakan ban kapten sejak awal laga itu menegaskan bahwa Arsenal saat ini hanya fokus pada perkembangan tim, bukan pada komentar di luar lapangan.
“Abaikan itu dan fokus dengan pekerjaan diri sendiri. Kami merasa telah melangkah lebih maju,” tambahnya.
Di balik keberhasilan Arsenal, ada sentuhan masa lalu yang terasa begitu kuat. Thierry Henry, ikon Arsenal saat mencapai final 2006, disebut ikut memberi pengaruh melalui masukannya kepada Mikel Arteta.
Legenda asal Prancis itu menyarankan agar Myles Lewis-Skelly dimainkan sebagai gelandang pivot berdampingan dengan Declan Rice. Padahal posisi asli pemain muda tersebut adalah bek kiri. Arteta akhirnya mengikuti saran itu setelah eksperimen serupa sukses saat menghadapi Fulham di Premier League.
Keputusan tersebut terbukti efektif. Lewis-Skelly tampil disiplin menjaga ritme permainan sekaligus membantu Arsenal mendominasi lini tengah.
“Aku percaya dia bisa membantu tim ini memenangkan pertandingan, dan dia membuktikannya,” puji Arteta seperti dikutip dari laman resmi klub.
Atmosfer Emirates Stadium pun menjadi cerita tersendiri. Banyak pihak menyebut malam itu menghadirkan nuansa yang mengingatkan Arsenal pada Highbury, markas lama mereka sebelum pindah ke Emirates dua dekade silam.
Baca Juga: PH Minta Hakim Vonis Ringan Ngadinah di Kasus Pemalsuan Dokumen Asuransi
Kebetulan terasa semakin kuat karena skor kemenangan semifinal kali ini identik dengan laga semifinal Liga Champions 2005–2006 melawan Villarreal: sama-sama berakhir 1-0.
Kiper David Raya mengaku belum pernah merasakan dukungan sebesar itu sepanjang kariernya di Emirates. Menurutnya, energi dari para Gooners menjadi bahan bakar tambahan bagi tim untuk menuntaskan pertandingan.
“Mereka memberi energi kepada tim dan itu memberi tambahan motivasi bagi kami,” ujar Raya kepada TNT Sports.
Kini, Arsenal tinggal selangkah lagi menuju trofi Liga Champions pertama dalam sejarah klub. Dengan status tak terkalahkan dan mental yang terus tumbuh, mimpi menjadi invincibles Eropa bukan lagi sekadar romantisme masa lalu, melainkan peluang nyata yang sedang mereka kejar.(jpg/han)
Editor : Johan Panjaitan