Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Peluh di Balik Pelepah: Keteguhan Saman Harahap Menjaga Nafas Keluarga di Tengah Dahaga

Johan Panjaitan • Kamis, 26 Februari 2026 | 14:05 WIB

Saman saat mendodos buah sawit tetap beraktivitas di bulan suci Ramadan. (MITRA HARAHAP/SUMUT POS)
Saman saat mendodos buah sawit tetap beraktivitas di bulan suci Ramadan. (MITRA HARAHAP/SUMUT POS)

PALUTA, Sumutpos.jawapos.com-Matahari menggantung terik di langit Kabupaten Padang Lawas Utara. Di antara barisan pohon sawit yang menjulang, Saman Harahap (45) berdiri tegap dengan egrek di tangan. Gesekan besi dengan pelepah menjadi bunyi yang akrab di telinganya—irama kerja yang tak pernah libur, bahkan saat Ramadan mengetuk pintu langit.

Bagi Saman, bulan suci bukan alasan untuk berhenti. Puasa adalah kewajiban. Namun panen adalah kebutuhan.

Antara Ibadah dan Isi Dapur

“Sebenarnya ingin sekali istirahat di bulan Ramadan ini, tapi sawit tidak bisa menunggu,” ujarnya pelan, sembari menyeka keringat yang mengalir di pelipis.

Baca Juga: Serius Bidik Promosi, Binjai City SC Rekrut Empat Eks Liga 1 untuk Hadapi Liga 4

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi mengandung realitas yang keras. Dalam logika petani, menunda panen berarti membiarkan tandan buah segar membusuk. Dan ketika buah membusuk, pendapatan ikut lenyap. Sementara kebutuhan rumah tangga—beras, listrik, biaya sekolah, hingga persiapan Lebaran—tetap berjalan tanpa kompromi.

Di kebun sawit, waktu adalah uang. Dan uang adalah nafas keluarga.

Memanen sawit bukan sekadar memotong buah. Saman harus mengangkat tandan yang beratnya bisa mencapai puluhan kilogram. Ia berjalan di tanah yang tak selalu rata, di bawah suhu yang menyengat. Saat puasa, tantangannya berlipat.

Ia melawan dehidrasi tanpa seteguk air.
Ia menjaga fokus di antara duri dan alat tajam.
Ia menahan letih sambil memastikan ibadahnya tetap utuh.

“Puasa itu kewajiban agama, mencari nafkah itu kewajiban keluarga. Keduanya harus jalan bareng,” katanya, tersenyum tipis.

Baca Juga: Jangan Salahkan Pelembab, Ini Sebab Kulit Kering Tetap Muncul

Senyum itu bukan tanda ringan. Ia adalah bentuk keteguhan.

Kisah Saman bukan cerita tunggal. Ia adalah potret ribuan petani sawit di pelosok negeri—mereka yang jarang tampil di panggung, tetapi kehadirannya menentukan denyut ekonomi.

Di setiap tetes minyak sawit yang kita gunakan, tersimpan peluh yang jatuh di tanah kebun. Ada doa yang terucap lirih saat azan magrib dinanti. Ada tubuh-tubuh yang tetap tegak meski energi menipis.

Ramadan mengajarkan kesabaran. Namun bagi Saman, Ramadan juga mengajarkan ketahanan.

Di bawah terik Paluta, di antara pelepah dan tandan, ia membuktikan bahwa iman dan kerja keras bukan dua kutub yang saling meniadakan. Keduanya bisa berjalan beriringan—selama ada tekad untuk tidak menyerah pada dahaga, dan tidak tunduk pada keadaan.(mag-12/han)

Editor : Johan Panjaitan
#sawit #pelepah kelapa sawit #ramadan