TEBING TINGGI, Sumutpos.jawapos,com- Di tengah denyut kota yang terus bergerak, Masjid Raya Nur Addin tetap berdiri sebagai penanda sejarah dan pusat kehidupan religius masyarakat. Berlokasi di Kelurahan Badak Bejuang, Kecamatan Tebing Tinggi Kota, masjid ini bukan sekadar tempat ibadah, melainkan simpul kebersamaan yang menjaga warisan tradisi turun-temurun.
Kota Tebing Tinggi dikenal kaya akan nilai sejarah dan kultur keagamaan. Di antara jejak tersebut, Masjid Raya Nur Addin menjadi salah satu simbol penting syiar Islam yang terus hidup di tengah masyarakat.
Pusat Ibadah dan Aktivitas Sosial
Di bawah kepemimpinan Badan Kemakmuran Masjid (BKM) yang diketuai Khuzamri Amar, masjid ini aktif menggelar berbagai kegiatan keagamaan. Momentum Ramadan menjadi waktu paling semarak. Jamaah dari berbagai kalangan — anak-anak, remaja, hingga orang tua — memadati saf-saf salat, menghidupkan suasana ibadah dengan kekhusyukan.
Baca Juga: DPD AMPI Sumut Resmi Sahkan Komposisi KORDA AMPI Kota Medan
Namun denyut masjid tak berhenti pada ritual semata. Ia juga tumbuh sebagai ruang sosial yang menyatukan warga.
Bubur Daging, Tradisi yang Menjadi Identitas
Salah satu tradisi yang tetap dijaga adalah pembagian takjil bubur daging setiap Ramadan usai salat Asar. Menu sederhana itu bukan sekadar santapan berbuka, tetapi telah menjelma menjadi identitas Masjid Nur Addin.
Setiap tahun, panitia dan masyarakat bergotong royong menyiapkan bubur daging untuk dibagikan kepada jamaah dan warga sekitar. Proses memasak hingga pembagian dilakukan bersama, memperkuat ikatan sosial yang menjadi ciri khas masyarakat setempat.
“Saya selalu ikut membagikan bubur daging ini sebagai bagian dari tradisi khas Ramadan di masjid kita,” ujar Khuzamri Amar, yang juga menjabat sebagai Ketua Baznas Kota Tebing Tinggi.
Tradisi ini membuktikan bahwa masjid bukan hanya ruang spiritual, tetapi juga pusat solidaritas sosial.
Menjaga Warisan, Merawat Kebersamaan
Di tengah perubahan zaman, Masjid Raya Nur Addin tetap memelihara nilai gotong royong dan kebersamaan. Ia menjadi ruang di mana generasi muda belajar tentang tradisi, kepedulian, dan pentingnya berbagi.
Baca Juga: Polresta Deli Serdang Gagalkan Peredaran 33,8 Kg Sabu dan 40 Kg Ganja, Sembilan Tersangka Diringkus
Keberadaannya memberi makna lebih dari sekadar bangunan fisik. Ia adalah simbol keberlanjutan nilai, pengikat silaturahmi, dan kebanggaan masyarakat Kelurahan Badak Bejuang serta Kota Tebing Tinggi secara umum.
Di bawah kubahnya, sejarah dan harapan bertemu. Dan selama tradisi terus dijaga, Masjid Raya Nur Addin akan tetap menjadi cahaya yang menerangi perjalanan spiritual dan sosial warganya. (mag-3/han)
Editor : Johan Panjaitan