SIPISPIS,SUMUTPOS.CO- Warga Desa Bartong mulai mengeluhkan keberadaan pabrik kelapa sawit (PKS) PT. Rezeki Abadi Sambosar (RAS). Pasalnya, selain pabrik beroperasi 24 jam juga mengeluarkan aroma tidak sedap.
PKS yang berada di Nagori Sambo Saraya, Kec. Raya Kahaian, Simalungun membuat warga berbatasan di Dusun I, Desa Bartong, Kec. Sipispis, Sergai mengeluh setiap hari karena menghirup aroma tidak sedap dan suara bising yang ditimbulkan pabrik yang beroperasi selama 24 jam.
Salah seorang warga Rizal, 35, warga Dusun I, Desa Bartong, Kec. Sipispis Rabu (13/3) mengeluh dengan keberadaan PKS tersebut.
" Selain menghirup bau busuk, suara mesin sangat mengganggu waktu istirahat, begitu juga dengan truk mereka yang hilir mudik, kami warga hanya bisa menghirup abu" papar Rizal.
Warga juga khawatir terhadap limbah PKS tersebut dapat mencemari lingkungan terutama sungai Bahbolon yang kini menjadi objek wisata andalan di Kab. Sergai. Sepekan terakhir, sungai Bahbolon sempat mengeluarkan aroma busuk diduga tercemar limbah.
Salah satu pemandu wisata arung jeram Sungai Bahbolon Leo Nardo, 28, membenarkan air sungai Bahbolon sepekan terakhir berbau busuk seperti tercemar limbah.
" Air sungai Bahbolon sering berbau busuk seperti tercemar limbah, sebelumnya air sungai Bahbolon ini sangat bagus, kita khawatir air sungai Bahbolon tercemar limbah," papar Leo Nardo.
Sementara itu J Purba selaku Humas PT RAS membantah hal tersebut . Menurutnya, belum pernah sama sekali pihaknya membuang limbah pabrik ke aliran sungai.
J Purba mengatakan, PT RAS memiliki kolam pengelolaan limbah, selama beroperasi hanya baru empat kolam terisi sedangkan dua kolam belum terisi dan belum penuh.
" Kita sudah membuat master plan ya untuk pembuangan limbah di areal sawit, bukan di aliran sungai. Dan saat ini limbah belum juga penuh dan belum pernah membuangnya, jadi jika ada tuduhan pencemaran itu semua tidak benar" papar J Purba.
Untuk aroma busuk , J Purba juga membantah. Lokasi PKS bisa dikatakan jauh dari permukiman warga jadi kita mau tahu warga mana yang merasa tidak nyaman.
"PKS ini belum sampai setahun beroperasi kolam limbahnya juga belum semua terisi, kita juga sudah punya pembuangannya di areal sawit bukan aliran sungai," Papar J Purba.
Saat disinggung kompensasi kepada warga. J Purba mengaku belum ada kompensasi, mengingat lokasi PKS berada di Wilayah Simalungun jadi semua izin maupun pajak ke Simalungun.
" Kompensasi belum ada, cuma untuk pekerja ada 20 persen dari warga setempat, PKS ini juga beroperasi 24 jam dengan target 20 ton perjam,"tutup J Purba. ( fad/han)
Editor : Redaksi