MEDAN, SUMUTPOS.CO- Forum Masyarakat Nasional (Formanas) menggelar pertemuan dengan berbagai elemen masyarakat terkait desakan dilakukannya pembangunan jembatan layang Medan-Berastagi, yang di laksanakan di Liga Cafe, Jalan Parang IV, Padang Bulan, Medan Johor, Minggu (12/1/2025).
Dalam kesempatan tersebut, Formanas menginginkan adanya pembangunan Fly Over yang sudah dicanangkan sejak tahun 2019 lalu.
Kordinator Formanas Petrus Sembiring dalam sambutannya, mengatakan awal dari pengajuan pembangunan Fly Over Medan Berastagi dilakukan sejak
5 September 2019, dengan komisi V DPR RI serta dokumen dukungan pembangunan sudah disetujui dan ditandatangani oleh 8 kepala daerah yakni Medan, Deli Serdang, Karo, Dairi, Simalungun, Humbang Hasundutan, Pakpak Bharat, dan Samosir dan ormas yakni Formanas dan Ikatan Cendikiawan Karo (ICK).
"Pada 6 September telah dilakukan pertemuan dengan Dirjen Jalan dan Pembangunan bapak Arif Setyo, dan mengatakan untuk memberikan waktu dan Gubsu saat itu Edy Rahmayadi sebagai leading sector," ucapnya.
Namun, lanjut Petrus, usulan pembangunan tersebut akhirnya tertunda arena adanya wabah pandemi Covid 19 jadi ditunda pembangunan fly Over
"Karena usulan tersebut menjadi beku setelah Covid 19, akhirnya kami kembali menagih janji itu melalui PJ gubernur dan juga adanya karena ada korban bencana longsor di Kabupaten Karo pada 27 November 2024 lalu," ucapnya.
"Jadi untuk diskusi kali ini hanya untuk lebih pendekatan birokrasi," ucapnya.
Cendikiawan Karo Budi Sinulingga mengatakan, penggunaan jalan sebanyak 2 juta orang, sekali kejadian 3 miliar rakyat rugi, dan usulan ini sudah masuk dalam draf usulan PUPR.
"Saya sempat merasa bangga, atas rencana tersebut," ucapnya.
Ia menjelaskan, kapasitas jalan Medan-Berastagi sudah tidak mampu menampung jumlah kendaraan, dan juga
dari mulai sembahe sampai Tirtanadi masih berpotensi terjadinya longsor dan
menyarankan untuk penelitian geologi yanh lebih akurat, adanya perlu pembangunan jembatan yang lebih efisien.
"Bangun jalan nasional pengganti yang tidak kenak longsor, kemudian panjang bangunan jalan tol 40 km Medan Berastagi dengan Biaya 10-11 triliun," ucapnya.
Jonatan Tarigan ahli geologi mengatakan, ada jenis batuan yang dilintasi pada perbukitan atara Sembahe - Tirtanadi yang pertama ada batuan gunung api, yang terbentuk 2 juta tahun yang lalu, dan yang kedua, hasil letusan gunung Sibayak, dan satunya bebatuan di Tirtanadi terjadi pelapukan.
"Ini bisa berpotensi akan menciptakan longsor yang berbeda," ucapnya.
Ia mengatakan untuk mengantisipasi adanya longsor kembali, harus ada pembuatan jaring baja, dan jaring baja itu sudah standard international, harus diimport dari Swiss. Kemudian memasang tanggul-tanggul dan sudah diusulkan ke Kementerian Keuangan dan terakhir harus dibuat jalan layang sepanjang 1 Km.
"Saya rasa usulan tersebut bisa diterima oleh kawan-kawan untuk segera melakukan pembangunan," ucapnya.
Anggota DPRD Fraksi PDIP Jusuf Ginting yang hadir dalam diskusi tersebut mengatakan sangat mengapresiasi perjuangan Formanas dalam perjuangan pembangunan jalan layang Medan-Berastagi.
"Kita perlu gerakan agar bisa langsung berkoordinasi dengan komisi V, yang pastinya harus ada biaya dan keringat untuk mendapatkan itu," ucapnya.
Ia berharap agar ini bukan jalan layang namun harus dibangun jalan tol, karena belum ada akses yang cepat jalur dari Medan ke Tanah Karo, karena selama ini yang ada hanya jalur Medan, ke Prapat.
"Karena jalan Tol ini merupakan gawean nasional bukan gawean pemerintah provinsi, jadi harus kita Desak ke Komisi V, DPR RI" ucapnya.
Diakhir pertemuan dilaksanakan penandatanganan dokumen kesepakatan dan direncanakan dokumen tersebut akan dibawa ke Komisi V DPR RI, namun direncanakan masih ada pertemuan kembali
Hadir pada pertemuan tersebut Anggota DPRD Karo Fraksi PDIP Raja Edward Sebayang, Anggota DPRD Karo Fraksi Demokrat Endamia Kaban, dan beberapa ormas Masyarakat Karo, seperti ICK, HMKI, CMKI, dan Himpaks serta ormas lainnya.(san/han)
Editor : Redaksi