Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Izin Interview di Bank, Nazwa Diketahui Meninggal di Kamboja

Juli Rambe • Sabtu, 16 Agustus 2025 | 23:30 WIB
FOTO: Lanniari Hasibuan saat menunjukkan foto anaknya, Nazwa Aliyah yang meninggal di Kamboja. (Dok: istimewa)
FOTO: Lanniari Hasibuan saat menunjukkan foto anaknya, Nazwa Aliyah yang meninggal di Kamboja. (Dok: istimewa)

 

SUMUT POS- Nasib tragis dialami gadis asal Sumatra Utara (Sumut), Nazwa Aliyah (19). Gadis tamatan SMK ini diketahui meninggal dunia di Kamboja.

Warga Jalan Bejo, Gang Sejahtera, Dusun XVl, Kecamatan Percut Seituan, Kabupaten Deliserdang ini memang memiliki keinginan untuk bekerja diluar negeri. Tetapi, niatnya itu ditentang sang ibu, Lanniari Hasibuan (53).

"Saya menentang. Karena dia ingin kerja ke Kamboja," ujarnya.

Ternyata, tanpa sepengetahuan Lanniari, Nazwa telah menyusun rencana agar dapat merealisasikan niatnya. Awalnya, dia mengatakan ingin study tour, tetapi langsung ditolak.

"Terus kedua, anak saya meminta izin untuk interview di salah satu bank, saya izinkan dia interview di situ,” jelas Lanniari Hasibuan.

Karena sudah mendapat izin untuk interview, Nazwa pun menyiapkan diri dan mengatakan bahwa dia akan interview selama dua hari.

Pada hari Selasa tanggal 27 Mei 2025, Lanniari dan Nazwa masih berkomunikasi. Bahkan, saat malam hari, dia meminta izin pada ibunya untuk ikut interview pada keesokan harinya. 

“Si Nazwa pergi interview pada tanggal 28 (Mei) sekitar pukul 05.00 WIB, udah pergi dari rumah. Saya sempat bangun tapi karena saat itu kondisi lelah dan mengantuk jadi saya sedikit acuh saat Nazwa pergi bekerja,” lanjutnya.

Paginya, Lanniari mendapatkan kabar dari anaknya lewat WhatsApp. Isinya, “saya taruh kunci pintu rumah di jendela.”

Siang harinya Nazwa tidak memberi kabar sama sekali, sehingga membuat Lanniari panik dan mencoba menghubungi putrinya tersebut.

“Pagi gak saya telpon anak, habis makan siang sekitar jam 1 saya telepon, terus anak saya bilang jangan menelpon. Dia bilang SMS saja,” ujarnya.

Kemudian, pada 29 Mei 2025 sekitar pukul 18.00 WIB, Lanniari kembali menghubungi Nazwa dan mendapatkan kabar bahwa anaknya tersebut sudah berada di Bangkok, Thailand.

“Saya sempat pingsan waktu itu, terus saya tanya lagi sama siapa pergi ke Bangkok, Nazwa mengatakan bersama temannya praktik kerja lapangan (PKL) nya. Itu pengakuan dari dia. Terus saya tanya kembali dia (jawab) pergi sendiri ke Bangkok tanpa kawan,” ungkapnya.

Setelah itu, Nazwa bermalaman di salah satu penginapan di Hotel Center Point di Bangkok.

“Waktu itu saya telpon dia, tak mau angkat. Kalau adik saya telpon dia mau angkat, tapi macam ada orang mengawasinya, sebentar-sebentar aja (percakapan di telepon),  padahal belum selesai sudah dimatikannya,” katanya.

Lanniari panik dengan kondisi anak bungsu dari dua bersaudara. Ia pun sempat berupaya membuat laporan atas kehilangan anak di Mapolsek Medan Tembung.

Namun, laporannya ditolak dengan alasan jika pihak keluarga telah mengetahui keberadaan Nazwa dan korban bukan lagi anak di bawah umur.

Sementara itu, pada Kamis tanggal 7 Agustus 2025, Lanniari menerima kabar dari pihak KBRI di Phnom Penh, bahwa anaknya tengah mendapatkan perawatan intensif di Rumah Sakit State Hospital, yang ada di Provinsi Siemreap, Kamboja.

Setelah empat hari mendapat perawatan, Nazwa dikabarkan meninggal dunia pada 12 Agustus 2025, kemarin.

“Saya dapat kabar tanggal 7 Agustus 2025 kalau Nazwa lagi dirawat di RS, dan akhirnya kemarin tanggal 12 (Agustus) saya kembali dikabarkan kalau anak saya itu telah meninggal dunia,” pungkasnya sambil menangis sedih. (bbs/ram)

 

Editor : Juli Rambe
#Pekerja ilegal #Meninggal di Kamboja