TAPSEL, Sumutpos.jawapos.com- Lebih dari sebulan pascabencana banjir, longsor, dan gerakan tanah yang melanda sejak 25 November 2025, ruas jalan provinsi Batangtoru–Sipirok hingga kini belum dapat dilalui kendaraan roda empat. Akses vital sepanjang 32,65 kilometer itu praktis hanya bisa dilintasi sepeda motor, sementara kendaraan bertonase besar sama sekali tak dapat melintas.
Pantauan Sumutpos.Jawapos.com, Minggu (4/1/2026), di jalur Simpang Sipenggeng Batangtoru–Marancar hingga tembus ke Sipirok, menunjukkan kondisi jalan masih memprihatinkan. Puluhan titik longsor parah menutupi sebagian badan jalan, sementara luapan tiga sungai—Aek Malakkut, Sitandiang, dan yang terparah Aek Nabara—membawa material kayu dan lumpur yang menghantam badan jalan serta jembatan, menyebabkan akses transportasi terputus.
Di lokasi Sungai Aek Nabara, Desa Aek Nabara, Kecamatan Marancar, terlihat kerusakan paling serius. Besi pembatas jembatan terlepas, badan jalan jebol, dan sebagian struktur penyangga rusak akibat derasnya arus sungai saat bencana terjadi.
“Kejadian itu pada 25 November. Selama ini kami benar-benar terkurung. Baru Rabu (31/12/2025) alat berat turun ke lokasi. Kami bergotong royong bersama TNI dan Polri membersihkan material longsoran agar jalan bisa minimal dilalui sepeda motor,” ujar seorang warga Desa Aek Nabara bermarga Hasibuan kepada Sumutpos.Jawapos.com, Senin (4/1/2026).
Hingga kini, penanganan darurat masih berlangsung. Di titik terparah Jembatan Aek Nabara, dua unit alat berat terlihat melakukan penimbunan kembali badan jalan yang jebol menggunakan material batu dan sirtu yang dikeruk dari alur sungai. Proses tersebut dilakukan dengan pengawalan personel TNI, termasuk Babinsa Marancar, serta dibantu masyarakat setempat.
Meski sejumlah titik longsor telah digeser ke tepi jalan, kondisi ruas Batangtoru–Sipirok masih dinilai rawan, khususnya bagi kendaraan roda empat dan truk. Longsoran susulan berpotensi terjadi, terutama saat hujan turun.
Sementara itu, Kepala UPTD Padangsidimpuan Dinas PUPR Provinsi Sumatera Utara, Daskur Dasopang, belum memberikan keterangan terkait progres dan target penanganan jalan provinsi alternatif Sipirok–Batangtoru tersebut. Upaya konfirmasi melalui aplikasi WhatsApp hingga berita ini diturunkan belum mendapat respons.
Terbatasnya akses ini berdampak besar terhadap mobilitas warga, distribusi logistik, serta aktivitas ekonomi antarwilayah. Warga berharap pemerintah provinsi segera mempercepat penanganan permanen agar jalur strategis penghubung Batangtoru dan Sipirok kembali normal dan aman dilalui.(mag-11/han)
Editor : Johan Panjaitan