Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Irigasi Ditutup, Ratusan Hektare Sawah di Sergai Terancam Gagal Panen

Johan Panjaitan • Kamis, 12 Februari 2026 | 12:34 WIB
Salah seorang petani dusun II yang menunjukkan kondisi padi di sawahnya yang kering. ( Fadly/ Sumut Pos )
Salah seorang petani dusun II yang menunjukkan kondisi padi di sawahnya yang kering. ( Fadly/ Sumut Pos )

SERDANG BEDAGAI, Sumutpos.jawapos.com – Ratusan hektare lahan persawahan di Dusun II dan Dusun III, Desa Sei Rejo, Kecamatan Sei Rampah, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai), terancam gagal panen setelah saluran irigasi tidak lagi dialiri air selama dua pekan terakhir. Kondisi ini membuat tanaman padi mulai mengering, sementara tanah sawah tampak retak akibat kekurangan air.

Para petani terpaksa menggunakan mesin pompa untuk mengalirkan air ke lahan mereka sebagai solusi darurat. Namun, biaya operasional yang tinggi membuat upaya tersebut sulit dipertahankan dalam jangka panjang.

Mulihardi (56), petani di Dusun II, mengaku kondisi tersebut semakin memberatkan para petani yang sebelumnya juga telah terdampak banjir.
“Kami sudah tidak sanggup lagi menggunakan pompa air. Biayanya semakin besar. Kami berharap pemerintah jangan hanya diam saja dan segera mencarikan solusi,” ujarnya, Rabu (11/2/2026).

Keluhan serupa disampaikan Bambang (50), petani di Dusun III. Ia menjelaskan bahwa kekeringan terjadi setelah saluran irigasi di wilayah tersebut ditutup sehingga air tidak lagi mengalir ke areal persawahan.
“Baru saja kami mengalami gagal panen akibat banjir, sekarang kembali dilanda kekeringan karena irigasi tidak berfungsi. Saluran ditutup sehingga air tidak berjalan. Sawah kami sudah mulai kering dan tanahnya retak,” katanya.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sergai, Dedi Iskandar, membenarkan adanya persoalan pada saluran irigasi tersebut. Ia menyebut penutupan terjadi akibat perselisihan antara GP3A Desa Sei Rejo dengan pemilik lahan tempat saluran irigasi melintas.

Menurutnya, pihak dinas telah berupaya melakukan mediasi agar permasalahan segera terselesaikan dan aliran air dapat kembali normal sehingga petani tidak terus dirugikan.

Ketua GP3A Desa Sei Rejo, Sasrianto, mengakui adanya konflik dengan pemilik lahan bernama Yanto. Ia menjelaskan bahwa saluran irigasi sepanjang sekitar 30 meter tersebut berada di atas tanah milik warga dan telah ada sejak tahun 1973.

“Memang ada saluran irigasi di atas tanah yang bersangkutan, panjangnya sekitar 30 meter dan sudah ada sejak lama. Sekarang ditutup karena yang bersangkutan tersinggung dengan ucapan saya,” ujarnya.

Ia menambahkan, mediasi sudah dilakukan sebanyak tiga kali, namun belum menghasilkan kesepakatan. Salah satu tuntutan yang muncul dalam proses tersebut adalah agar dirinya diberhentikan dari jabatan Ketua GP3A sebelum saluran kembali dibuka.

Akibat belum adanya solusi, puluhan petani kini berada di ujung ketidakpastian. Jika dalam waktu dekat saluran irigasi tidak segera difungsikan kembali, mereka khawatir tanaman padi akan puso dan gagal panen untuk kedua kalinya setelah sebelumnya terdampak banjir.(fad/han)

Editor : Johan Panjaitan
#irigasi #sawah #gagal panen #Sergai