Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Alansyah Putra Tepis Isu Miring Lapas Tanjung Gusta Medan, Sejak Dipimpin Fonika Affandi Jauh Lebih Baik

Juli Rambe • Kamis, 2 April 2026 | 14:52 WIB
Praktisi hukum, Alansyah Putra Pulungan SH MH. (Dok: istimewa)
Praktisi hukum, Alansyah Putra Pulungan SH MH. (Dok: istimewa)

 

MEDAN, SUMUT POS- Sejak dulu Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) atau penjara menjadi neraka bagi para narapidana (napi). Banyak kasus, napi yang sakit atau cacat, bahkan meregang nyawa jika tak mampu 'survive' (bertahan hidup).

Hal ini menjadi traumatik bagi para napi yang sudah bebas, namun tetap saja segala bentuk kejahatan atau kriminalitas tidak berkurang.

Memang, untuk menerapkan peraturan serta kedisiplinan yang tegas di Lapas tidaklah salah, sebab yang dihadapi para sipir penjara tersebut bukanlah warga biasa yang tidak tersandung kasus hukum.

Baca Juga: Pansel Komisi Informasi Sumut Pastikan Seleksi Transparan dan Akuntabel

Berbagai napi dengan berbagai tingkat kejahatan harus mereka hadapi sehari hari, dari kasus pembunuhan, penganiayaan, begal, judi, perampok, narkoba, korupsi hingga pemerkosaan. Ini bukanlah hal yang mudah untuk dihadapi, apalagi kasus kejahatan itu masuk ke dalam kategori kejahatan luar biasa, bahkan banyak juga yang menjadi residivis.

Karena itu dibutuhkan kerja sama dari semua pihak, terutama yang berwenang, yakni Pemerintah Daerah (Pemda) dan Pemerintah Pusat, institusi Kepolisian Republik Indonesia (Polri), Lapas, Pengadilan, Kejaksaan hingga praktisi hukum dan masyarakat.

Demikian dikatakan Praktisi hukum, Alansyah Putra Pulungan SH MH dari Kantor Hukum AP Pulungan Law Office kepada Sumut Pos di Medan, Kamis (2/4).

Diketahui, sejumlah kasus kematian warga binaan di Lapas wilayah Sumatera Utara (Sumut), khususnya di Medan terjadi karena berbagai penyebab, mulai dari dugaan penganiayaan, bunuh diri, hingga kerusuhan. Kasus menonjol di antaranya, yakni pengeroyokan di Lapas Pangururan Samosir (2025), kematian napi narkotika (Juli, 2025), gantung diri di Rutan Labuhan Deli (2019), gantung diri di Lapas Anak Tanjung Gusta (2017), dan kerusuhan berujung tewasnya beberapa orang di Lapas Tanjung Gusta (2013).

"Lembaga pemasyarakatan adalah transformasi dari penjara yang mengubah paradigma dan tujuan dari lembaga tersebut yang bertujuan sebagai penghukum pembuat jera menjadi pemasyarakatan yang lebih menjunjung Hak Asasi Manusia (HAM), dan sebagai sarana pemulihan dari seorang terpidana untuk dapat dibentuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi, agar dapat kembali ke masyarakat dalam kondisi pribadi terbaiknya," katanya.

Tujuan ini, sambung Alansyah, tentu saja menjadi tugas yang berat bagi segenap petugas yang bekerja di Lapas yang tentu saja perlu mendapat dukungan masyarakat dalam mencapai tujuannya, dimana memiliki banyak tantangan untuk memenuhi tujuan mulia dalam lembaga tersebut, salah satunya adalah tingginya jumlah warga binaan yang tak sebanding dengan petugas lapas yang membuat petugas harus bekerja ekstra dengan tetap humanis tapi juga disiplin dan aman. 

Namun belakangan ini, Alansyah yang sudah beberapa kali melakukan kunjungan ke Lapas, sejak dipimpin Kepala Lapas (Kalapas) Tanjung Gusta Medan, Fonika Affandi pada Desember 2025 silam ini sudah jauh lebih baik.

Sesuai pengalamannya, bahwa ada beberapa kliennya yang menjadi warga binaan di Lapas Kelas 1 Medan, yang berada di Jalan Tanjung Gusta Medan ini, menjadi salah satu Lapas terbaik di Indonesia.

Kepemimpinan yang humanis tetapi tegas membuat layanan di Lapas Kelas 1 Medan berjalan nyaman dan kondusif. 

"Saya selalu mendapat pelayanan yang baik, warga binaan selalu mendapat akses pada hak bantuan hukumnya tanpa kesulitan dan selalu menerapkan protokol keamanan yang ketat sehingga menciptakan nol peredaran narkoba, handphone dan tanpa pungutan liar (Pungli). saya sangat memahami beban berat yang diemban oleh Lapas di tengah semua keterbatasan, ditambah lagi dengan adanya isu yang dibangun secara terstruktur, sistematis dan masif oleh orang orang yang tidak bertanggung jawab yang mendiskreditkan kerja kerja Bapak Kalapas yang menuju fitnah menyesatkan," imbuhnya.

Namun, lanjut Alansyah, serangan terhadap kepemimpinan yang baik untuk kerja keras yang baik tentu saja bukan hanya menyasar ke Kalapas tapi juga masyarakat. 

"Pekerjaan baik tentu akan ada ujiannya, tetapi selama masyarakat bersatu solid dengan Lapas, tentu tidak akan menggoyahkan segala komitmen dan kerja nyata dari Bapak Fonika Affandi beserta semua jajaran," ujarnya.

Menurutnya, pekerjaan hebat para petugas Lapas haruslah diapresiasi dan didukung agar selalu bersemangat dalam menjaga integritas dan selalu meningkatkan layanannya, supaya selalu bertumbuh menjadi lebih baik. 

"Dukungan itu mungkin terkesan remeh tapi dampaknya tentu akan luar biasa. Karena jika seluruh petugas di Lapas dapat bekerja dengan baik dan mendapat dukungan penuh dari masyarakat maka besar kemungkinan keberhasilan pemasyarakatan akan berhasil, sehingga warga binaan yang pada waktunya bebas akan dapat kembali bersosialisasi di masyarakat menjadi pribadi terbaiknya dan bermanfaat bagi semua orang di lingkungannya," pungkasnya. (dwi/ram)

 

Editor : Juli Rambe
#fonika afandi #kerusuhan dalam lapas #lapas tanjung gusta