PADANG LAWAS, Sumutpos.jawapos.comDi tengah kebutuhan akan akses yang aman dan layak, kondisi Jembatan Kanoko justru menggambarkan wajah lain pembangunan: rapuh dan terabaikan. Jembatan yang menjadi urat nadi mobilitas warga di Kecamatan Hutaraja Tinggi itu kini berada di titik kritis—bertahan dengan penopang darurat berupa batang kelapa.
Pantauan di lapangan, Minggu (20/4/2026), menunjukkan kerusakan serius pada lantai jembatan yang mulai ambrol. Untuk menjaga akses tetap terbuka, warga menyusun batang kelapa sebagai penyangga sementara. Solusi ini memang menjaga arus lalu lintas tetap berjalan, tetapi menyimpan risiko yang tak kecil.
“Kami terpaksa seperti ini supaya tetap bisa lewat. Tapi was-was, apalagi kalau hujan atau kendaraan berat melintas,” ujar seorang warga.
Pemandangan tersebut menghadirkan ironi: di jalur yang menjadi denyut ekonomi lokal, keselamatan justru dipertaruhkan setiap hari. Batang kelapa, secara teknis, bukan material yang dirancang untuk menopang beban dinamis kendaraan. Paparan cuaca mempercepat pelapukan, sementara konstruksi yang tidak terikat permanen membuatnya rentan bergeser kapan saja.
Baca Juga: 360 Jamaah Kloter 01 Resmi Masuk Embarkasi Medan
Ancaman paling nyata adalah keselamatan pengguna jalan. Celah lantai yang rusak mengintai pengendara, terutama sepeda motor, yang harus melintas dengan kehati-hatian ekstra agar tidak terperosok. Dalam kondisi seperti ini, satu kesalahan kecil bisa berujung fatal.
Di balik kondisi darurat ini, harapan warga tertuju pada pemerintah daerah. Mereka menanti langkah konkret dari dinas terkait untuk menghadirkan perbaikan permanen, bukan sekadar solusi sementara yang berulang.
Lebih dari sekadar penghubung antarwilayah, Jembatan Kanoko adalah jalur vital distribusi hasil bumi. Jika jembatan ini terputus, dampaknya tak hanya soal mobilitas, tetapi juga kelangsungan ekonomi masyarakat setempat.
Kini pertanyaannya menjadi semakin mendesak: sampai kapan jembatan ini bertahan dengan “nyawa cadangan” batang kelapa? Dan apakah perbaikan baru akan datang setelah risiko berubah menjadi tragedi? (mag-12/han)
Editor : Johan Panjaitan