PADANG LAWAS, Sumutpos.jawapos.com – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Solidaritas Aktivis Mahasiswa Padang Lawas (SAMPAL) menggelar aksi unjuk rasa di Kantor PT PLN Rayon Sibuhuan, Kamis (2/7). Mereka mendesak PLN mengambil langkah tegas terhadap maraknya pemasangan kabel Wi-Fi dan jaringan serat optik yang diduga memanfaatkan tiang listrik tanpa izin.
Dalam aksi tersebut, massa menilai praktik penggunaan fasilitas negara untuk kepentingan bisnis internet ilegal telah berlangsung cukup lama dan belum mendapat penanganan serius.
Melalui orasi yang disampaikan secara bergantian, mahasiswa meminta PLN tidak hanya melakukan penertiban di lapangan, tetapi juga mengevaluasi sistem pengawasan internal agar praktik serupa tidak terus berulang.
Minta Dugaan Keterlibatan Oknum Diusut
SAMPAL juga mendesak manajemen PLN melakukan investigasi internal terkait dugaan adanya pembiaran terhadap penggunaan tiang listrik oleh penyedia layanan internet yang tidak memiliki izin.
Baca Juga: DPR: Tak Ada Evidence Base, Data BPKN Soal Usia Galon Dipertanyakan
Menurut mereka, keberadaan jaringan kabel di berbagai titik memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas pengawasan serta kemungkinan adanya oknum yang membiarkan aktivitas tersebut berlangsung.
Mahasiswa meminta setiap dugaan pelanggaran ditelusuri secara transparan agar kepercayaan masyarakat terhadap institusi tetap terjaga.
Kabel Menjuntai Dinilai Membahayakan
Koordinator aksi, Raja Sopang, menegaskan bahwa persoalan tersebut bukan hanya menyangkut legalitas pemanfaatan aset negara, tetapi juga keselamatan masyarakat.
Ia menyoroti banyaknya kabel internet yang dipasang tanpa penataan memadai hingga menjuntai ke badan jalan dan berpotensi membahayakan pengguna jalan.
"Ini sangat berbahaya. Kabel-kabel yang menjuntai rendah bukan hanya merusak estetika kota, tetapi juga berpotensi memicu korsleting, kebakaran, hingga kecelakaan bagi masyarakat yang melintas. Di mana standar pengawasan PLN?" ujarnya di hadapan peserta aksi.
Menurut massa, kondisi tersebut membutuhkan penanganan segera agar tidak menimbulkan risiko yang lebih besar di kemudian hari.
Pimpinan Tidak Berada di Tempat
Aksi berlangsung di bawah pengamanan aparat kepolisian dan berjalan tertib. Namun, mahasiswa tidak berhasil menyampaikan tuntutan secara langsung kepada pimpinan PLN Rayon Sibuhuan.
Baca Juga: Sengketa Lahan PT Bridgestone dan Kerajaan Nagur Bolag Belum Temui Titik Terang
Berdasarkan keterangan petugas keamanan, kepala PLN Rayon Sibuhuan sedang melaksanakan tugas di luar daerah sehingga tidak berada di kantor saat aksi berlangsung.
Kondisi itu membuat mahasiswa mengaku kecewa karena tidak memperoleh penjelasan maupun kepastian mengenai tindak lanjut atas tuntutan yang mereka sampaikan.
Sebelum membubarkan diri, massa menyatakan akan kembali menggelar aksi dengan jumlah peserta yang lebih besar apabila PLN tidak segera memberikan respons dan mengambil langkah nyata terhadap persoalan yang mereka soroti.(mag-12/han)
Editor : Johan Panjaitan