PADANG LAWAS, Sumutpos.jawapos.com – Penantian panjang masyarakat Kabupaten Padang Lawas (Palas) untuk memperoleh layanan cuci darah di daerah sendiri akhirnya mulai terjawab. Bupati Padang Lawas, Putra Mahkota Alam Hasibuan, SE, secara simbolis meresmikan proses kredensialing sekaligus peluncuran Unit Pelayanan Dialisis (hemodialisis) di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sibuhuan, Senin (6/7/2026).
Peresmian tersebut menandai babak baru pelayanan kesehatan di Palas. Selama ini, pasien gagal ginjal kronis harus menempuh perjalanan berjam-jam ke luar daerah, seperti Padangsidimpuan hingga Medan, untuk menjalani terapi cuci darah dua hingga tiga kali setiap pekan.
Hadirnya unit dialisis di RSUD Sibuhuan diharapkan mampu memangkas beban biaya transportasi, akomodasi, serta risiko kesehatan akibat perjalanan jauh yang selama ini menjadi kenyataan pahit bagi banyak pasien.
Namun, di balik optimisme itu, hadir pula sejumlah tantangan yang perlu dijawab. Sebab, layanan hemodialisis bukan sekadar menghadirkan mesin, melainkan membangun sistem pelayanan berkelanjutan yang bertumpu pada kesiapan sumber daya manusia, infrastruktur, logistik, hingga tata kelola yang profesional.
Kapasitas Awal Masih Terbatas
Direktur RSUD Sibuhuan, dr. Sukri Habibi P. Daulay, menjelaskan bahwa pada tahap awal unit dialisis diperkuat lima mesin hemodialisis.
Empat unit diperuntukkan bagi pasien reguler, sedangkan satu unit disiapkan khusus bagi pasien dengan penyakit infeksi seperti tuberkulosis paru, hepatitis, maupun HIV.
Dengan durasi tindakan sekitar empat hingga lima jam setiap pasien, kapasitas layanan diperkirakan mampu melayani maksimal sekitar 10 pasien setiap hari.
Pelayanan tersebut berada di bawah tanggung jawab dr. Erwin Pinayungan Siregar, Sp.PD, yang memimpin Unit Dialisis RSUD Sibuhuan.
Meski kapasitas awal relatif terbatas, kehadiran fasilitas tersebut menjadi langkah penting dalam memperluas akses pelayanan kesehatan bagi masyarakat Padang Lawas yang selama ini bergantung pada rumah sakit di luar daerah.
Ditopang UHC dan BPJS Kesehatan
Salah satu kabar yang paling dinantikan masyarakat adalah kepastian pembiayaan layanan.
Pemerintah Kabupaten Padang Lawas memastikan biaya hemodialisis bagi masyarakat yang memenuhi persyaratan akan ditanggung melalui skema Universal Health Coverage (UHC) daerah serta BPJS Kesehatan.
Kebijakan tersebut diharapkan mampu mengurangi beban ekonomi keluarga pasien yang selama bertahun-tahun harus mengeluarkan biaya tambahan untuk transportasi, konsumsi, hingga penginapan setiap kali menjalani terapi di luar daerah.
Bagi pasien gagal ginjal kronis yang membutuhkan terapi rutin sepanjang hidupnya, efisiensi biaya tersebut menjadi manfaat yang sangat signifikan.
Menjaga Keseimbangan Pelayanan dan Tata Kelola
Dalam sambutannya, Bupati Putra Mahkota Alam Hasibuan berharap Unit Dialisis tidak hanya meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat, tetapi juga mampu memberikan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).
"Semoga layanan ini dapat membawa perubahan nyata bagi masyarakat kita, sekaligus berkontribusi pada peningkatan pendapatan daerah Kabupaten Padang Lawas," ujarnya.
Pernyataan tersebut mencerminkan harapan agar rumah sakit daerah dapat berkembang menjadi institusi pelayanan publik yang sehat secara finansial.
Namun demikian, sejumlah pengamat tata kelola rumah sakit menilai keseimbangan antara fungsi pelayanan publik dan pengelolaan keuangan menjadi tantangan yang harus dijaga secara cermat.
Baca Juga: Swiss vs Kolombia: James dan Johan, Dua Generasi Pemburuh Sejarah
Sebagai fasilitas layanan kesehatan esensial, unit hemodialisis harus tetap mengedepankan keselamatan pasien, mutu pelayanan, dan akses yang adil bagi masyarakat, terutama peserta UHC dan BPJS Kesehatan. Prinsip tersebut menjadi fondasi penting agar orientasi efisiensi dan keberlanjutan tidak mengurangi hak masyarakat memperoleh pelayanan kesehatan yang layak.
Ujian Sesungguhnya Dimulai Setelah Peresmian
Peresmian Unit Dialisis menjadi langkah awal, bukan garis akhir.
Keberhasilan layanan ini akan sangat ditentukan oleh konsistensi operasional dalam jangka panjang.
Beberapa aspek menjadi perhatian penting.
Pertama, keandalan Water Treatment System (WTS) atau sistem pemurnian air. Dalam layanan hemodialisis, kualitas air merupakan komponen vital karena berhubungan langsung dengan keselamatan pasien.
Kedua, ketersediaan logistik medis, mulai dari dialyzer, selang, cairan dialisis, hingga bahan habis pakai lainnya. Gangguan pasokan dapat berdampak langsung terhadap kontinuitas pelayanan.
Ketiga, kesiapan tenaga medis dan perawat yang memiliki kompetensi khusus di bidang hemodialisis. Layanan ini membutuhkan standar operasional yang ketat serta pemantauan klinis yang berkesinambungan.
Keempat, transparansi sistem antrean. Dengan kapasitas layanan yang masih terbatas, manajemen rumah sakit dituntut menerapkan mekanisme pelayanan yang objektif, terbuka, dan berbasis kebutuhan medis sehingga seluruh pasien memperoleh akses secara adil.
Momentum Membangun Kepercayaan Publik
Peluncuran Unit Dialisis RSUD Sibuhuan menjadi tonggak penting bagi pelayanan kesehatan di Kabupaten Padang Lawas.
Keberadaan fasilitas tersebut memberi harapan baru bagi pasien gagal ginjal yang selama ini harus berjuang memperoleh layanan di luar daerah.
Baca Juga: Argentina vs Mesir: Messi Ditantang "26 Messi"
Namun, keberhasilan sebuah layanan kesehatan tidak hanya diukur dari seremoni peresmian ataupun jumlah mesin yang tersedia.
Kepercayaan publik akan dibangun melalui pelayanan yang konsisten, ketersediaan sarana dan tenaga medis, tata kelola yang transparan, serta komitmen pemerintah daerah menjaga keberlanjutan layanan dalam jangka panjang.(mag-12/han)
Editor : Johan Panjaitan