Doli Kurnia Tanjung Jenguk Anak Korban Kekerasan Berat di Dairi

Juli Rambe • Dipublikasikan Selasa, 25 Agustus 2026 | 18:30 WIB
JENGUK: Anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan (Dapil) Sumatera Utara III, Ahmad Doli Kurnia Tanjung, menjenguk Alfi, seorang anak yang menjadi korban kekerasan berat di Kabupaten Dairi, Sumatera Utara.(Dok : Ihsan Syahreza/Sumut Pos)
JENGUK: Anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan (Dapil) Sumatera Utara III, Ahmad Doli Kurnia Tanjung, menjenguk Alfi, seorang anak yang menjadi korban kekerasan berat di Kabupaten Dairi, Sumatera Utara.(Dok : Ihsan Syahreza/Sumut Pos)

 

MEDAN, SUMUT POS- Anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan (Dapil) Sumatera Utara III, Ahmad Doli Kurnia Tanjung, menjenguk Alfi, seorang anak yang menjadi korban kekerasan berat di Kabupaten Dairi, Sumatera Utara. Alfi saat ini menjalani perawatan di Rumah Sakit Haji Medan, Selasa (25/8/2026).

Doli datang untuk melihat langsung kondisi Alfi sekaligus memastikan penanganan medis dan pemulihan korban berjalan dengan baik. 

Doli mengungkapkan, dirinya pertama kali mendapatkan informasi mengenai kondisi Alfi sekitar empat hari sebelum kedatangannya ke Rumah Sakit Haji. 

Baca Juga: Sepekan Kedepan Sumut Diguyur Hujan Intensitaa Sedang hingga Sangat Lebat

Menurut Doli, Alfi ditemukan dalam kondisi memprihatinkan ketika berusaha melarikan diri dari tempat tinggal orang yang selama ini ditugaskan untuk merawatnya. Anak tersebut bahkan disebut sempat mencari makanan di tempat sampah.

Politisi Partai Golkar tersebut mengatakan, kondisi Alfi sangat mengenaskan. Berdasarkan informasi yang diterimanya, korban mengalami sejumlah luka akibat dugaan tindakan kekerasan yang dilakukan secara berulang.

“Kepalanya bengkak karena dibenturkan ke tembok berkali-kali. Bibir dan kemaluannya dibakar dengan mancis. Kemudian seluruh tubuhnya seperti dikuliti dengan benda tajam dan disetrika dengan besi panas,” ungkapnya.

Ia menilai tindakan tersebut sudah berada di luar batas kemanusiaan dan tidak dapat ditoleransi. Menurutnya, anak seharusnya mendapatkan perlindungan, kasih sayang, serta lingkungan yang aman, terlebih ketika dititipkan kepada orang lain untuk diasuh.

“Ini adalah tindakan yang sangat kejam terhadap seorang anak. Anak adalah titipan Tuhan yang harus kita jaga, bukan untuk dipukul, dianiaya, disiksa, apalagi dirusak masa depannya,” tegas Doli.

Saat ini, kata Doli, Alfi mendapatkan perawatan dari tim dokter di Rumah Sakit Haji Medan. Tim tersebut melibatkan sejumlah dokter dengan keahlian berbeda, termasuk dokter anak, dokter ortopedi, serta tenaga yang menangani kondisi psikologis korban.

“Sekarang sudah ditangani dengan serius. Ada sekitar lima sampai enam dokter yang menangani, termasuk dokter anak, ortopedi dan konselor untuk kondisi psikisnya,” katanya.

Doli menegaskan bahwa pemulihan Alfi tidak boleh hanya berfokus pada luka fisik. Trauma akibat kekerasan yang dialami korban juga harus mendapatkan perhatian serius agar tidak berdampak panjang terhadap kehidupan dan masa depannya.

Menurut dia, negara memiliki kewajiban memastikan korban mendapatkan pemulihan secara menyeluruh, termasuk menjamin hak pendidikan setelah kondisi kesehatan Alfi membaik.

“Yang paling penting sekarang adalah bagaimana anak ini bisa pulih secara fisik dan psikis. Setelah itu pendidikan dan masa depannya juga harus kita pikirkan. Jangan sampai kekerasan yang dialaminya hari ini menghancurkan masa depannya,” ujar Doli.

Di sisi lain, Doli menyampaikan bahwa pihak yang diduga sebagai pelaku telah diamankan dan ditahan di kepolisian. Ia meminta proses hukum berjalan cepat, transparan dan tidak memberikan ruang bagi intervensi dari pihak mana pun.

Ia secara khusus meminta kepolisian, kejaksaan dan pengadilan tidak menganggap kasus kekerasan terhadap anak sebagai perkara biasa. Menurutnya, penanganan yang lambat justru dapat menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat terhadap aparat penegak hukum.

Doli mengaku prihatin karena kasus kekerasan terhadap anak masih terus terjadi di Sumatera Utara. Ia menyebut setidaknya terdapat sejumlah kasus kekerasan terhadap anak yang tengah menjadi perhatian dan membutuhkan penanganan serius.

Ia juga menyinggung kasus kekerasan terhadap anak di Kabupaten Batubara, yang menurutnya semakin menunjukkan bahwa perlindungan anak harus menjadi perhatian bersama, termasuk di lingkungan keluarga.

“Bahkan ada kasus di Batubara, orang tua sendiri melakukan kekerasan terhadap anak kandungnya. Ini menunjukkan bahwa persoalan perlindungan anak tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah atau aparat. Masyarakat dan keluarga juga harus ikut menjaga,” ujarnya.

Doli juga menyatakan komitmennya untuk terus mengawal persoalan perlindungan anak. Ia menilai kekerasan terhadap anak bukan sekadar persoalan keluarga atau tindak pidana individual, tetapi menyangkut masa depan bangsa.

Ia berharap kasus Alfi menjadi momentum bagi seluruh pihak untuk memperkuat sistem perlindungan anak, mulai dari keluarga, pemerintah daerah, aparat penegak hukum hingga masyarakat.

Doli juga mengingatkan agar proses hukum kasus kekerasan terhadap anak tidak berlarut-larut. Ia menyinggung adanya kasus sebelumnya di Kisaran yang disebutnya belum tuntas di pengadilan meski telah berjalan sekitar empat hingga lima bulan.

“Jangan sampai kasus seperti yang terjadi di Kisaran terulang. Sudah empat sampai lima bulan tetapi belum juga selesai di pengadilan. Untuk kasus anak seperti ini, jangan dibiarkan berlarut-larut,” katanya.

Sementara itu, penanganan Alfi di Rumah Sakit Haji Medan terus dilakukan. Selain pemulihan luka fisik, pendampingan psikologis dinilai menjadi bagian penting agar korban dapat kembali menjalani kehidupan secara normal setelah melewati trauma berat akibat kekerasan yang dialaminya.

Kasus ini sekaligus menjadi pengingat bahwa perlindungan terhadap anak membutuhkan keterlibatan semua pihak. Kekerasan terhadap anak tidak boleh dianggap sebagai persoalan domestik, melainkan harus dipandang sebagai tindak pidana serius yang membutuhkan respons cepat, perlindungan terhadap korban, serta penegakan hukum yang tegas. (san/ram)

 

Editor : Juli Rambe
anak disiksa anak disiksa di dairi penyiksaan di dairi