Bekerja dari Rumah Bukan Berarti Menganggur, Kisah Para Remote Worker di Era Digital

Redaksi • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 20:31 WIB
Ilustrasi. Pekerja yang menjalankan sistem Work From Home (WFH) maupun Work From Anywhere (WFA) masih menghadapi stigma sosial.(Instagram @pandemictalks)
Ilustrasi. Pekerja yang menjalankan sistem Work From Home (WFH) maupun Work From Anywhere (WFA) masih menghadapi stigma sosial.(Instagram @pandemictalks)

 

sumutpos.jawapos.com - Di tengah perubahan pola kerja modern, masih banyak anggapan bahwa seseorang yang tidak berangkat ke kantor berarti tidak bekerja. Padahal, bagi para pekerja jarak jauh atau remote worker, produktivitas tidak lagi ditentukan oleh lokasi, melainkan oleh hasil pekerjaan yang mereka selesaikan.

Melansir Instagram @pandemictalks, Rabu (26/8/2026), cerita Aksa menjadi salah satu gambaran bagaimana pekerja yang menjalankan sistem Work From Home (WFH) maupun Work From Anywhere (WFA) masih menghadapi stigma sosial. Bekerja dari rumah kerap dianggap sebagai aktivitas santai atau bahkan disamakan dengan tidak memiliki pekerjaan.

Padahal, di balik layar komputer yang berada di rumah, terdapat berbagai tugas, target, rapat virtual, hingga tanggung jawab profesional yang tetap harus diselesaikan.

“Bekerja itu bukan soal duduk di gedung kantor selama delapan jam. Yang menentukan adalah kontribusi dan pekerjaan yang dihasilkan,” menjadi gambaran bagaimana para pekerja remote melihat perubahan dunia kerja saat ini.

Baca Juga: Rapidin Simbolon Instruksikan Kader, Fraksi dan Pengurus Guyub ke Akar Rumput

Perkembangan teknologi digital membuat batas antara kantor dan rumah semakin fleksibel. Banyak perusahaan mulai menerapkan sistem kerja hybrid yang memungkinkan karyawan memilih lokasi kerja selama tetap mampu memenuhi target dan menjaga komunikasi dengan tim.

Namun, tantangan lain muncul ketika bekerja dari rumah mulai terasa monoton. Rutinitas di ruang yang sama setiap hari dapat memengaruhi kreativitas, motivasi, hingga rasa keterhubungan dengan lingkungan profesional.

Karena itu, coworking space menjadi salah satu alternatif bagi para pekerja remote untuk mendapatkan suasana baru. Selain menyediakan fasilitas kerja yang nyaman, ruang kerja bersama juga memberikan kesempatan untuk berinteraksi dengan komunitas profesional lainnya.

Sejumlah studi menunjukkan bahwa penggunaan coworking space dapat membantu meningkatkan produktivitas, keterlibatan kerja (engagement), serta kesejahteraan mental para pekerja jarak jauh.

Baca Juga: Korupsi Kegiatan MFF 2024, Mantan Kadiskop Medan Divonis 4 Tahun Penjara

Bagi sebagian remote worker, berpindah tempat kerja bukan sekadar mencari meja dan koneksi internet, tetapi juga menciptakan suasana yang mendukung ide baru dan menjaga keseimbangan antara kehidupan pribadi serta pekerjaan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa konsep bekerja telah berubah. Kantor tidak lagi selalu identik dengan sebuah gedung, melainkan tempat di mana seseorang mampu menghasilkan karya dan menyelesaikan tanggung jawabnya.

Di era digital, ukuran seseorang bekerja bukan lagi dari seberapa sering terlihat datang ke kantor, tetapi dari seberapa besar nilai yang mampu diberikan melalui pekerjaannya.

Perubahan cara pandang ini juga mulai dirasakan masyarakat. Di media sosial, sejumlah netizen menilai sistem kerja fleksibel sebagai bagian dari perkembangan zaman. Banyak yang menyebut produktivitas tidak bergantung pada lokasi, selama pekerja memiliki disiplin dan tanggung jawab.

Baca Juga: Mahasiswa UDA Demo, Desak Yayasan Permudah Pindah Kampus

Sebagian lainnya mengaku pernah mengalami pengalaman serupa, ketika bekerja dari rumah justru dianggap sedang libur. Mereka berharap masyarakat semakin memahami bahwa dunia kerja kini telah mengalami transformasi besar.

Bagi pekerja seperti Aksa, bekerja dari rumah bukan berarti kehilangan profesionalitas. Justru, fleksibilitas menjadi kesempatan untuk membuktikan bahwa hasil kerja dapat lahir dari mana saja.(lin)

Editor : Redaksi
Remote Worker Dunia Kerja Digital Coworking Space wfa wfh