sumutpos.jawapos.com - Penggunaan gambar berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk kebutuhan promosi makanan tengah menjadi perbincangan di media sosial X.
Alih-alih membuat tampilan produk semakin menarik, sejumlah gambar hasil AI justru menuai kritik karena dinilai tidak mampu menghadirkan visual makanan yang realistis.
Melansir Instagram @pandemictalks, Minggu (8/2/2026), beberapa poster promosi makanan yang beredar menampilkan menu seperti ayam goreng, nasi kotak, hingga bihun. Namun, perhatian warganet justru tertuju pada kejanggalan visual yang muncul. Tekstur makanan terlihat tidak alami, bentuk lauk tampak berubah, hingga detail tertentu yang membuat makanan terlihat berbeda dari bentuk aslinya.
Baca Juga: Jepang Pangkas Pajak Makanan Jadi 1 Persen Mulai 2027
Tidak sedikit pengguna media sosial yang mengaku merasa kurang nyaman saat melihat gambar tersebut. Beberapa bahkan menyebut tampilan makanan hasil AI terlihat “aneh” dan menimbulkan rasa merinding karena tidak sesuai dengan gambaran makanan yang biasa ditemui sehari-hari.
Kritik tersebut kemudian berkembang menjadi diskusi mengenai penggunaan teknologi AI dalam dunia usaha, khususnya industri kuliner. Banyak warganet menilai teknologi memang dapat membantu mempercepat proses pembuatan materi promosi, tetapi penggunaannya tetap harus mempertimbangkan aspek keaslian dan kepercayaan konsumen.
Menurut sejumlah pengguna X, promosi makanan sebaiknya tetap mengutamakan foto produk asli. Visual yang menampilkan bentuk, warna, tekstur, dan penyajian makanan secara nyata dianggap lebih mampu menarik perhatian calon pembeli dibandingkan gambar hasil rekayasa digital.
Baca Juga: 8 Penyebab Motor Sulit Distarter Meski Aki Masih Baru, Nomor 5 Paling Sering Terjadi
Sebagian lainnya menyarankan pelaku usaha menggandeng fotografer makanan atau desainer grafis profesional untuk menghasilkan materi promosi yang lebih menarik tanpa menghilangkan karakter asli produk.
Dalam bisnis kuliner, tampilan makanan memang memiliki peran besar dalam membangun ekspektasi konsumen. Foto menu bukan hanya sekadar gambar, tetapi menjadi gambaran pertama mengenai kualitas makanan yang akan diterima pelanggan.
Penggunaan AI sendiri terus berkembang dan telah banyak dimanfaatkan dalam berbagai sektor, termasuk pemasaran, desain, hingga pembuatan konten digital. Namun, kasus gambar makanan yang menuai kritik menunjukkan bahwa teknologi tetap membutuhkan sentuhan manusia, terutama ketika menyangkut produk yang mengandalkan pengalaman visual dan kepercayaan.
Baca Juga: Kutukan Nomor 3 Berakhir, Tim Verstappen Raih Kemenangan Perdana
Bagi pelaku usaha kuliner, tantangannya bukan hanya bagaimana memanfaatkan teknologi baru, tetapi juga memastikan inovasi tersebut tetap mendukung nilai utama dalam promosi makanan: terlihat nyata, menggugah selera, dan sesuai dengan produk yang diterima pelanggan.
Perdebatan mengenai gambar makanan berbasis AI ini menjadi pengingat bahwa dalam era digital, keaslian visual masih menjadi faktor penting yang dapat menentukan keputusan konsumen untuk membeli sebuah produk.(lin)
Editor : Redaksi