Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

ITS Kembangkan “Bensin Sawit”, Klaim Bisa Hemat 10 Persen BBM Konvensional

Redaksi • Kamis, 9 April 2026 | 15:47 WIB
Benwit (bensin sawit) dan digadang-gadang mampu menjadi solusi untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar fosil. (Instagram @pandemictalks)
Benwit (bensin sawit) dan digadang-gadang mampu menjadi solusi untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar fosil. (Instagram @pandemictalks)

 

sumutpos.jawapos.com – Inovasi energi alternatif kembali datang dari dunia kampus. Tim peneliti Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengembangkan bahan bakar berbasis kelapa sawit yang disebut sebagai bensin nabati atau biogasoline.

Melansir Instagram @pandemictalks, Kamis (8/4/2026), produk ini diberi nama Benwit (bensin sawit) dan digadang-gadang mampu menjadi solusi untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar fosil.

Penelitian ini dipimpin oleh Hosta Ardhyananta dari Departemen Teknik Material dan Metalurgi. Ia menjelaskan, Benwit dihasilkan dari proses konversi minyak kelapa sawit mentah (CPO) menjadi bahan bakar yang memiliki karakteristik mirip bensin.

Dalam satu kali proses produksi, efisiensinya tergolong tinggi. Dari sekitar 10 kilogram bahan baku sawit, dapat dihasilkan kurang lebih 5 liter bensin, dengan tingkat konversi sekitar 50–55 persen.

Baca Juga: Hari Ini, Final Four Proliga 2026 Seri Solo Dimulai!

Menariknya, proses ini juga minim limbah karena sisa produksinya masih bisa dimanfaatkan kembali, misalnya sebagai bahan bakar untuk kebutuhan lain.

Salah satu keunggulan utama Benwit adalah potensinya dalam menghemat konsumsi bahan bakar minyak nasional.

Penggunaannya saat ini masih melalui metode blending, yakni mencampurkan sekitar 10 persen Benwit dengan 90 persen bensin konvensional. Tanpa perlu modifikasi mesin, campuran ini sudah bisa digunakan pada kendaraan.

“Penghematan 10 persen saja sudah sangat besar dampaknya,” ujar Hosta.

Jika dikembangkan secara luas, inovasi ini dinilai mampu menekan konsumsi BBM berbasis fosil secara signifikan.

Baca Juga: Inalum Raih PROPER Emas dan Hijau 2025, Tegaskan Konsistensi Kinerja ESG Berkelanjutan

Dalam proses pembuatannya, tim ITS menggunakan metode catalytic cracking, yakni teknik pemecahan molekul besar menjadi molekul yang lebih kecil menggunakan katalis.

Pengembangan terbaru bahkan menggunakan katalis bimetalik berbasis nikel oksida (NiO) dan tembaga oksida (CuO) yang mampu meningkatkan efisiensi sekaligus menurunkan suhu operasi produksi.

Hasil akhirnya didominasi hidrokarbon rantai pendek (C5–C11), yang merupakan komponen utama bensin komersial. Selain itu, Benwit juga memiliki jejak karbon yang lebih rendah sehingga lebih ramah lingkungan.

Rektor ITS, Bambang Pramujati, menilai inovasi ini sebagai langkah strategis dalam menghadapi ancaman krisis energi global.

Baca Juga: Pemulihan Operasional hanya 3 Bulan, SKK Migas Beri Penghargaan pada PEP Field Rantau dan Field Pangkalan Susu

Menurutnya, pemanfaatan kelapa sawit sebagai bahan baku energi bisa menjadi peluang besar bagi Indonesia yang memiliki cadangan CPO melimpah.

Ke depan, ITS berencana berkoordinasi dengan pemerintah agar Benwit dapat diuji coba dalam skala nasional.

Jika berhasil diimplementasikan secara luas, bensin sawit ini tidak hanya berpotensi mengurangi impor BBM, tetapi juga memperkuat kemandirian energi nasional sekaligus mendorong penggunaan energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.

Inovasi ini pun ramai diperbincangkan di media sosial dan menuai beragam respons dari netizen. Sebagian besar menyambut positif terobosan tersebut, namun tak sedikit pula yang mempertanyakan implementasinya.

Baca Juga: Bologna vs Villa: Duel Emosi, Taktik, dan Pembuktian

“Kalau benar bisa hemat 10 persen, ini luar biasa sih. Indonesia memang harus mandiri energi,” tulis netizen.

Komentar senada juga datang dari akun lain yang merasa bangga dengan inovasi anak bangsa. “Anak ITS keren! Semoga bisa diproduksi massal dan nggak cuma wacana,” tulis netizen lain.

Namun, ada pula netizen yang bersikap lebih kritis. “Masalahnya bukan cuma teknologi, tapi distribusi dan kesiapan industri. Jangan sampai berhenti di riset saja,” komentar akun lainnya.

Beberapa juga menyinggung isu lingkungan terkait kelapa sawit. “Bagus, tapi tetap harus perhatikan dampak ekspansi sawit ke hutan,” tulis netizen.

Baca Juga: Arsenal Angkat Gengsi Premier League, Tiket Kelima Liga Champions di Depan Mata

Diskusi ini menunjukkan bahwa publik menaruh harapan besar terhadap inovasi energi alternatif, namun tetap menginginkan implementasi yang matang dan berkelanjutan.(lin)

Editor : Redaksi
#kelapa sawit #ITS #Bensin Sawit #Energi Alternatif #bbm