sumutpos.jawapos.com - Lonjakan harga tiket final Piala Dunia FIFA 2026 menghadirkan ironi baru dalam dunia sepak bola: pesta global yang kian sulit dijangkau publik luas. Di tengah euforia menuju turnamen lintas tiga negara—Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, pasar tiket justru bergerak ke arah yang tak terduga, bahkan melampaui nalar.
Melansir Instagram @lambegosiip, Jumat (24/4/2026), pantauan di platform resale resmi FIFA menunjukkan, empat tiket kategori 1 untuk partai final di MetLife Stadium dipasang hingga sekitar 2,3 juta dolar AS per tiket, setara kurang lebih Rp39 miliar.
Kursi tersebut berada di tribun bawah, tepat di belakang gawang. Di sektor yang sama, masih tersedia opsi lain dengan harga lebih “rendah”, meski tetap fantastis, mulai dari sekitar Rp174 juta per tiket.
Baca Juga: Wawako Binjai Bersama Bumantara dan Bank Sumut Tanam 1.000 Bibit Pohon
Fenomena ini memperlihatkan jurang lebar antara harga resmi dan harga pasar sekunder. FIFA sendiri tidak mengatur harga jual kembali, namun tetap mengambil komisi dari setiap transaksi.
Sebelum masuk ke pasar resale, harga tiket resmi final sudah memicu perdebatan. Kategori tertinggi dibanderol hingga sekitar Rp180 jutaan.
Kenaikan ini dipengaruhi sistem dynamic pricing, di mana harga mengikuti lonjakan permintaan. Dampaknya, akses terhadap ajang sepak bola terbesar dunia menjadi semakin eksklusif.
Edisi 2026 akan menjadi yang terbesar dalam sejarah dengan 48 tim. Popularitas yang melonjak membuat permintaan tiket sangat tinggi, namun sekaligus mendorong harga ke titik ekstrem.
Baca Juga: PSMS v Adhyaksa FC: Main Lepas tanpa Beban
Di satu sisi, sepak bola semakin bernilai secara ekonomi. Di sisi lain, muncul kekhawatiran bahwa atmosfer stadion akan didominasi kalangan elite, bukan lagi suporter akar rumput.
Di berbagai platform seperti X dan Instagram, perbincangan netizen memanas. Nada yang muncul cenderung satir, getir, hingga skeptis.
Sejumlah komentar menggambarkan keterkejutan publik:
“Rp39 miliar? Itu nonton bola atau beli stadion sekalian?”
Ada pula yang menyoroti ketimpangan akses:
Baca Juga: Sakit, Satu Jamaah Calon Haji Batal Berangkat
“Sepak bola katanya olahraga rakyat, tapi tiketnya buat sultan.”
Sebagian netizen mencoba melihat dari sisi realistis pasar:
“Selama ada yang beli, harga segitu akan tetap ada. Ini hukum supply-demand.”
Nada humor juga mewarnai respons:
“Fix, nonton di warung kopi jadi VIP versi rakyat.”
Baca Juga: Disperindag dan ESDM Sumut Cek Lapangan Terkait Dugaan Galian C di Luar Blok Izin di Deliserdang
Tak sedikit yang membandingkan dengan pengalaman menonton di layar kaca:
“Dengan harga segitu, TV di rumah jadi terasa paling worth it.”
Bahkan ada yang mengaitkan dengan kondisi ekonomi global:
“Dunia lagi susah, tapi tiket bola bisa sampai puluhan miliar. Kontras banget.”
Baca Juga: Kapolda Sumut Perintahkan Tindak Tegas Begal dan Narkoba
Lonjakan harga tiket final Piala Dunia 2026 bukan sekadar angka fantastis, melainkan sinyal perubahan besar dalam lanskap olahraga. Sepak bola kini berdiri di persimpangan,cantara identitasnya sebagai hiburan rakyat dan realitasnya sebagai industri premium bernilai tinggi.
Di tengah gegap gempita turnamen terbesar dunia, satu pertanyaan kembali mengemuka: ketika harga melambung setinggi itu, masihkah stadion menjadi milik semua orang?(lin)
Editor : Redaksi