sumutpos.jawapos.com - Di tengah kemegahan prosesi jelang pernikahan El Rumi dan Syifa Hadju, perhatian publik justru tersedot pada satu momen yang lebih sunyi: pesan seorang ibu. Ucapan Maia Estianty kepada putranya menjadi bahan perbincangan luas, terutama di media sosial, yang memaknainya lebih dari sekadar nasihat keluarga.
Melansir Instagram @lambegosiip, Minggu (26/4/2026), alih-alih membahas kemewahan acara, netizen ramai menyoroti kedalaman kalimat Maia yang menekankan pentingnya membahagiakan pasangan. Bagi banyak pengguna, pesan itu terasa “relatable” dan mewakili harapan banyak orang tua terhadap pernikahan anaknya.
Sejumlah komentar menyebut pesan tersebut sebagai bentuk nasihat klasik yang jarang disampaikan secara terbuka oleh figur publik.
“Ini bukan cuma buat El, tapi buat semua laki-laki yang mau menikah,” tulis seorang netizen.
Baca Juga: Angkringan Rantauprapat: Oase Ekonomi Malam di Tengah Riuh Knalpot Bising
Komentar lain menambahkan, “Simple tapi dalam. Intinya ya tanggung jawab suami.”
Namun, tak sedikit pula yang melihat pesan itu dari sisi emosional yang lebih personal. Netizen mengaitkan ucapan Maia dengan perjalanan hidupnya di masa lalu, terutama dinamika keluarga yang sempat menjadi konsumsi publik.
“Ada luka lama yang kebawa, makanya pesannya terasa banget,” tulis salah satu pengguna.
“Kerasa banget ini bukan sekadar pesan, tapi pengalaman hidup,” sahut lainnya.
Di sisi lain, sebagian netizen juga menyoroti pesan Maia kepada Syifa. Harapan agar sang menantu bisa memberikan kehangatan bahkan lewat gestur sederhana seperti pelukan, dipandang sebagai simbol penerimaan yang tulus.
Baca Juga: Pemkab Labusel Gelar Tepung Tawar, Mengantar 147 Calon Jemaah Haji dengan Doa dan Harapan
“Jarang lihat ibu mertua ngomong sehangat ini ke calon menantu,” komentar seorang pengguna.
“Ini contoh hubungan keluarga yang sehat,” timpal lainnya.
Meski mayoritas respons bernada positif, ada pula suara yang lebih kritis. Beberapa netizen menilai pesan tersebut seharusnya juga menekankan keseimbangan dalam hubungan, bukan hanya tanggung jawab satu pihak.
“Harusnya dua-duanya saling membahagiakan, bukan cuma suami ke istri,” tulis komentar lain.
Perdebatan kecil itu justru memperlihatkan bagaimana publik membaca pesan tersebut dari berbagai sudut: sebagai nasihat universal, refleksi pengalaman pribadi, hingga bahan diskusi tentang relasi dalam pernikahan modern.(lin)
Editor : Redaksi