sumutpos.jawapos.com – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengungkapkan bahwa kasus hantavirus ternyata sudah ditemukan di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Hingga Mei 2026, tercatat ada 23 kasus positif dengan tiga kematian yang tersebar di sembilan provinsi.
Melansir Instagram @pandemictalks, Jumat (8/5/2026), temuan ini mencuat di tengah perhatian dunia terhadap wabah hantavirus yang sempat terdeteksi di kapal pesiar MV Hondius. Pemerintah Indonesia kini memperketat pengawasan dan menyiapkan sistem skrining untuk mencegah penyebaran lebih luas.
Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, menyebutkan dari total 23 kasus tersebut, sebanyak 20 pasien dinyatakan sembuh, sementara tiga lainnya meninggal dunia.
Baca Juga: Anggota BPK RI, Haerul Saleh Meninggal Dunia karena Kebakaran di Ruang Kerjanya
Seluruh kasus yang ditemukan di Indonesia diketahui merupakan jenis Seoul virus, berbeda dengan Andes virus yang ditemukan pada kasus di kapal pesiar dan dikenal memiliki kemungkinan penularan antarmanusia dalam kondisi tertentu.
Adapun sembilan provinsi yang melaporkan kasus hantavirus yakni DI Yogyakarta, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Banten, Sumatera Barat, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, dan Nusa Tenggara Timur.
Data Kemenkes menunjukkan lonjakan kasus terjadi pada 2025 dengan 17 kasus. Sementara pada 2024 hanya ditemukan satu kasus dan hingga awal 2026 sudah tercatat lima kasus baru.
Hantavirus sendiri merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan dari hewan pengerat seperti tikus dan celurut. Penularannya dapat terjadi melalui gigitan, air liur, urine, feses, hingga debu yang terkontaminasi partikel virus.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan pemerintah kini memperkuat sistem pengawasan dan deteksi dini. Indonesia juga telah berkoordinasi dengan WHO untuk memperoleh panduan penanganan serta metode skrining yang tepat.
“Kita siapkan skrining, apakah dalam bentuk rapid test atau reagen PCR seperti saat Covid-19,” ujar Budi.
Kemenkes menilai risiko penyebaran luas di Indonesia masih relatif rendah. Namun masyarakat tetap diminta waspada, terutama dengan menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari kontak langsung dengan tikus atau kotorannya.
Sementara itu, WHO menyebut wabah hantavirus yang berkaitan dengan kapal pesiar kemungkinan tidak berkembang menjadi epidemi besar karena terjadi di lingkungan yang terbatas.
Kabar mengenai hantavirus langsung ramai diperbincangkan di media sosial. Banyak warganet mengaku terkejut karena baru mengetahui virus tersebut ternyata sudah pernah ditemukan di Indonesia.
Baca Juga: Polsek Na IX-X Salurkan Bantuan untuk Korban Kebakaran, Hadirkan Kepedulian di Tengah Duka Warga
“Kirain cuma ada di luar negeri, ternyata di Indonesia sudah ada kasusnya juga,” tulis netizen.
“Mulai sekarang rumah harus lebih rajin dibersihkan, apalagi bagian gudang dan dapur,” komentar netizen lainnya.
Sebagian netizen juga mengaitkan kabar ini dengan pengalaman pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu. “Jangan sampai masyarakat lengah lagi soal penyakit menular,” tulis netizen lainnya.
Ada pula yang meminta pemerintah aktif memberikan edukasi mengenai penularan hantavirus agar masyarakat tidak panik namun tetap waspada.
Baca Juga: Ini Daftar Harga SimpelRoam Haji dari Indosat IM3
“Yang penting sosialisasi jelas, supaya orang tahu bedanya hantavirus dengan penyakit lain,” komentar netizen.
Sementara beberapa pengguna media sosial berharap pengawasan terhadap kebersihan lingkungan permukiman dan pengendalian populasi tikus lebih diperhatikan.
“Kalau lingkungan bersih dan sampah tertangani baik, risiko penyakit juga bisa ditekan,” tulis warganet lainnya.(lin)
Editor : Redaksi