sumutpos.jawapos.com – Nama Yakuza Maneges mendadak menjadi perbincangan hangat di media sosial setelah resmi dideklarasikan di Kediri, Jawa Timur. Nama “Yakuza” yang identik dengan mafia Jepang sontak memancing rasa penasaran sekaligus kontroversi.
Namun di balik nama yang terdengar garang itu, tersimpan misi sosial dan spiritual yang justru bertolak belakang dengan citra kriminal.
Melansir Instagram @jakarta.keras, Selasa (12/5/2026), organisasi ini digagas oleh Thuba Topo Broto Maneges atau yang akrab disapa Den Gus Thuba, cucu ulama kharismatik KH Hamim Djazuli atau Gus Miek. Deklarasi Yakuza Maneges digelar pada Sabtu (9/5/2026) di Kediri dan dihadiri sejumlah tokoh, termasuk Vinanda Prameswati.
Baca Juga: FFI Berganti Nama Jadi Asosiasi Futsal Indonesia, Ini Pengurusnya
Den Gus Thuba menjelaskan, nama Yakuza bukan dimaksudkan untuk meniru kelompok kriminal Jepang. Ia memberikan makna filosofis: “Yang Awalnya Kotor Ujungnya Zuhud Abadi.”
Menurutnya, organisasi ini dibentuk sebagai wadah perubahan bagi orang-orang yang pernah hidup di jalan kelam, namun ingin memperbaiki diri dan kembali ke jalan yang benar.
Yakuza Maneges ditujukan bagi kelompok yang disebut sebagai “santri jalur kiri”, yakni mereka yang pernah terjerumus dalam kesalahan, kemaksiatan, atau kehidupan keras, tetapi masih memiliki tekad untuk bertobat dan menjadi pribadi yang lebih bermanfaat.
Organisasi ini berada di bawah naungan Majelis Semaan Al-Qur’an dan Dzikrul Ghofilin, majelis yang didirikan Gus Miek.
Baca Juga: Komisi D DPRD Sumut Soroti Kondisi Jalan Tol dan Kelayakan Bus Setelah Kecelakaan Maut
Dengan demikian, Yakuza Maneges disebut sebagai kelanjutan dari dakwah inklusif yang selama ini dikenal merangkul masyarakat marginal dan kalangan akar rumput.
Selain fokus pada pembinaan spiritual, organisasi ini juga memiliki misi sosial dan kemanusiaan, termasuk membantu masyarakat yang menghadapi persoalan sosial maupun hukum.
Di tengah munculnya berbagai spekulasi, Den Gus Thuba menegaskan bahwa Yakuza Maneges tidak bergerak dalam politik praktis dan tidak berseberangan dengan negara.
Ia menyatakan organisasinya justru ingin berjalan seiring dengan aparat penegak hukum dan menjadi pembela masyarakat kecil.
Baca Juga: Inara Rusli Minta Penundaan Proses Pemeriksaan Kasus Perzinahan
“Penjaga yang lemah, pembela yang benar, pembenah yang salah,” demikian visi yang diusung organisasi tersebut.
Wali Kota Kediri, Vinanda Prameswati, menyambut positif berdirinya Yakuza Maneges. Ia menilai pendekatan dakwah yang dilakukan Den Gus Thuba sejalan dengan semangat Gus Miek yang dikenal mampu merangkul semua kalangan tanpa memandang latar belakang.
Kehadiran pemerintah daerah dalam deklarasi juga mempertegas bahwa organisasi ini dipandang sebagai gerakan sosial, bukan kelompok kriminal.
Di media sosial, reaksi warganet mengalir deras begitu nama Yakuza Maneges muncul ke permukaan. Banyak yang semula terkejut, bahkan sempat mengira organisasi ini adalah geng jalanan atau kelompok preman. Namun rasa penasaran itu berubah menjadi apresiasi setelah mereka mengetahui makna di balik nama tersebut.
Baca Juga: Roby Kurniawan Diduga sebagai Bupati Inisial R
“Kirain organisasi preman, ternyata wadah untuk hijrah,” tulis seorang netizen. Komentar serupa bermunculan, menyoroti bagaimana nama yang terdengar keras justru menyimpan pesan tentang perubahan dan pertobatan.
Sebagian warganet memuji filosofi “Yang Awalnya Kotor Ujungnya Zuhud Abadi” sebagai konsep yang sederhana, tetapi mengena. Ada pula yang menilai langkah Den Gus Thuba sebagai strategi dakwah yang kreatif karena mampu menarik perhatian anak muda dan kelompok marginal.
“Nama boleh sangar, tapi niatnya mulia,” tulis netizen lainnya. Banyak yang berharap Yakuza Maneges tidak hanya viral karena nama yang unik, tetapi juga benar-benar menjadi ruang bagi orang-orang yang ingin memperbaiki hidup dan mendekat kepada Tuhan.(lin)
Editor : Redaksi