sumutpos.jawapos.com - Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa pada akhir Juni 2026 membawa dampak yang sangat serius, tidak hanya dalam bentuk korban jiwa, tetapi juga melumpuhkan berbagai sektor kehidupan di sejumlah negara. Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization) mencatat lebih dari 1.300 kematian berlebih di seluruh benua sejak 21 Juni, yang secara langsung dikaitkan dengan paparan suhu tinggi ekstrem.
Melansir Instagram @pandemictalks, Jumat (3/7/2026), di Prancis, situasi menjadi salah satu yang paling memprihatinkan dengan laporan sekitar 1.000 kematian melebihi angka normal, mayoritas korban merupakan lansia berusia 65 tahun ke atas. Kondisi ini menunjukkan kerentanan kelompok usia lanjut terhadap tekanan panas yang semakin intens dan berkepanjangan.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyebut gelombang panas sebagai “pembunuh senyap” yang kerap diremehkan dampaknya. Ia menegaskan bahwa banyak rumah, tempat kerja, hingga fasilitas pendidikan di Eropa tidak dirancang untuk menghadapi suhu setinggi ini, sehingga memperbesar risiko kesehatan masyarakat.
Baca Juga: Influencer Vietnam An Thy Didiagnosis Leukemia, Soroti Gaya Hidup Ekstrem
Rekor suhu pun tercatat di berbagai negara. Jerman mencatat suhu hingga 41,7 derajat Celsius, sementara Polandia melaporkan suhu tertinggi sepanjang sejarah pencatatan meteorologi di negara tersebut. Lonjakan suhu ini menandai intensitas gelombang panas yang semakin ekstrem dan meluas di kawasan Eropa.
Dampaknya tidak berhenti pada krisis kesehatan. Di Jerman, sejumlah ruas jalan tol Autobahn mengalami kerusakan serius akibat fenomena pemuaian beton yang dikenal sebagai “blow up”. Jalan-jalan retak dan terangkat, memaksa penutupan jalur serta pengalihan arus lalu lintas yang berdampak pada puluhan ribu pengendara.
Sementara itu di Spanyol, gelombang panas memicu kebakaran hutan besar di wilayah Huesca. Api dengan cepat meluas, melahap lahan pertanian dan kawasan hutan, serta memaksa ratusan warga mengungsi demi keselamatan mereka. Kondisi kering dan suhu ekstrem mempercepat penyebaran api, menyulitkan upaya pemadaman di lapangan.
Baca Juga: Makan Kiwi saat Malam, Lapar Hilang dan Tidur Makin Nyenyak
WHO menegaskan bahwa perubahan iklim menjadi faktor utama di balik meningkatnya frekuensi dan intensitas gelombang panas di Eropa. Menurut Tedros, Eropa kini mengalami pemanasan dua kali lebih cepat dibanding rata-rata global, sehingga membuat peristiwa ekstrem seperti ini menjadi semakin sering terjadi.
“Fenomena gelombang panas yang dulu terjadi sekali dalam satu generasi kini muncul nyaris setiap tahun,” ujarnya.
Kondisi ini menjadi peringatan keras bagi dunia bahwa krisis iklim bukan lagi ancaman di masa depan, melainkan realitas yang sedang berlangsung, dengan dampak yang semakin luas terhadap kesehatan, infrastruktur, dan keselamatan manusia di seluruh dunia.(lin)
Editor : Redaksi