sumutpos.jawapos.com - Di tengah perkembangan teknologi komunikasi yang membuat hampir setiap orang memiliki ponsel pintar, Jepang memilih tetap mempertahankan keberadaan telepon umum sebagai bagian dari infrastruktur keselamatan publik.
Melansir Instagram @pandemictalks, Rabu (8/7/2026), Pemerintah Jepang melalui regulasi layanan telekomunikasi masih mewajibkan operator Nippon Telegraph and Telephone Corporation (NTT) menyediakan puluhan ribu telepon umum di berbagai ruang publik. Fasilitas tersebut tidak lagi hanya dipandang sebagai alat komunikasi biasa, melainkan menjadi sarana penting ketika terjadi kondisi darurat.
Telepon umum di Jepang dirancang untuk tetap berfungsi saat masyarakat membutuhkan bantuan cepat. Perangkat tersebut dilengkapi akses khusus untuk menghubungi layanan kepolisian melalui nomor 110 serta pemadam kebakaran dan ambulans melalui nomor 119.
Baca Juga: Biaya Haji 2027 Rp107 Jutaan, CJH Cukup Bayar Rp42 Jutaan
Menariknya, panggilan darurat melalui telepon umum tersebut dapat dilakukan secara gratis, tanpa harus memasukkan koin maupun menggunakan kartu telepon. Fitur ini memungkinkan siapa saja, termasuk masyarakat yang tidak membawa uang atau mengalami kendala pada ponsel, tetap dapat meminta pertolongan.
Keberadaan telepon umum juga tersebar di berbagai lokasi strategis, mulai dari jalan umum, stasiun, rumah sakit, hingga kantor polisi. Jepang mempertahankan fasilitas ini sebagai bagian dari sistem kesiapsiagaan menghadapi berbagai risiko bencana, terutama gempa bumi yang kerap melanda negara tersebut.
Selain telepon umum biasa, Jepang juga memiliki telepon khusus bencana yang ditempatkan di pusat-pusat evakuasi. Fasilitas ini disiapkan untuk digunakan masyarakat ketika jaringan telepon seluler mengalami gangguan akibat kerusakan infrastruktur saat gempa besar atau bencana lainnya.
Baca Juga: Kemenhaj Usulkan BPIH 2027 Rp107,3 Juta, Jamaah Cukup Bayar Sekitar Rp42 Juta
Bagi Jepang, kemajuan teknologi tidak berarti menghapus seluruh infrastruktur lama. Keberadaan telepon umum dianggap sebagai cadangan komunikasi yang tetap memiliki peran penting ketika teknologi modern mengalami kegagalan.
Berbeda dengan Jepang, Indonesia memilih mengurangi penggunaan telepon umum secara bertahap sejak awal tahun 2000-an. Perkembangan ponsel yang semakin terjangkau membuat fasilitas telepon umum kalah bersaing dan mulai ditinggalkan.
Akibatnya, telepon umum yang dahulu mudah ditemukan di berbagai sudut kota kini hampir tidak lagi terlihat di ruang publik Indonesia. Padahal, dalam situasi tertentu seperti bencana alam atau gangguan jaringan seluler, keberadaan sarana komunikasi alternatif dapat menjadi bagian penting dari sistem tanggap darurat.
Baca Juga: Jerhemy Owen Tebang 10 Hektare Sawit Ilegal di Aceh Tamiang, Kembalikan Fungsi Hutan Lindung
Perbandingan antara Jepang dan Indonesia menunjukkan bahwa sebagian negara tetap mempertahankan teknologi lama bukan karena tertinggal, melainkan karena melihat nilai strategisnya sebagai infrastruktur cadangan untuk melindungi masyarakat saat kondisi krisis.(lin)
Editor : Redaksi