Swedia Tarik Tablet dari Sekolah, Kembali ke Buku dan Pena

Redaksi • Dipublikasikan Selasa, 3 November 2026 | 19:48 WIB
Swedia Tarik Tablet dari Sekolah, Kembali ke Buku dan Pena
Swedia Tarik Tablet dari Sekolah, Kembali ke Buku dan Pena

sumutpos.jawapos.com - Swedia mulai mengubah arah kebijakan pendidikan dengan mengurangi penggunaan perangkat digital di sekolah. Negara Skandinavia tersebut kini kembali mengandalkan buku cetak, kertas, dan pena sebagai sarana utama pembelajaran untuk mengatasi penurunan kemampuan literasi siswa.

Melansir Instagram @pandemictalks, Selasa (3/11/2026), kebijakan ini menjadi langkah evaluasi terhadap penggunaan teknologi digital yang selama beberapa tahun terakhir semakin mendominasi ruang kelas.

Pemerintah koalisi sayap kanan yang berkuasa sejak 2022 bahkan mengusung slogan från skärm till pärm, yang berarti "dari layar ke map". Slogan tersebut mencerminkan keinginan pemerintah mengembalikan pembelajaran berbasis buku dan kegiatan menulis secara konvensional.

Baca Juga: Aneka Jenis Teh di Indonesia Berdasarkan Warna dan Nama Perkebunannya, Ini Daftarnya

Sejak 2025, penggunaan perangkat digital tidak lagi diwajibkan di pendidikan prasekolah. Anak-anak berusia di bawah dua tahun juga tidak lagi diberikan tablet sebagai sarana pembelajaran.

Tak berhenti di situ, pemerintah Swedia telah mengalokasikan lebih dari 2,1 miliar krona atau sekitar 200 juta dolar AS untuk pengadaan buku pelajaran.

Pemerintah juga menyiapkan kurikulum baru berbasis buku teks yang ditargetkan mulai diterapkan pada 2028.

Perubahan kebijakan tersebut bukan tanpa alasan. Pemerintah Swedia menyoroti penurunan kemampuan membaca siswa yang tercermin dalam hasil Programme for International Student Assessment (PISA).

Baca Juga: Redam Potensi Konflik Agraria, Forkopimda Paluta Kembali Mediasi PT Agrinas dan Masyarakat

Pada penilaian 2022, hampir seperempat siswa Swedia berusia 15–16 tahun tidak mampu mencapai tingkat dasar pemahaman membaca.

Kondisi ini menjadi alarm bagi dunia pendidikan Swedia. Penggunaan teknologi digital yang sebelumnya dianggap sebagai bagian penting dari modernisasi pembelajaran kini mulai dievaluasi kembali.

Juru Bicara Pendidikan Partai Liberal Swedia, Joar Forsell, menilai pembelajaran konvensional masih memiliki keunggulan dalam membangun pengetahuan dasar anak.

"Membaca buku sungguhan, menulis di kertas sungguhan, dan berhitung dengan angka sungguhan di atas kertas jauh lebih baik jika ingin anak-anak mendapatkan pengetahuan yang mereka butuhkan," ujarnya.

Baca Juga: Dugaan Penyimpangan Retribusi Sampah Langkat, APH Didesak Periksa Oknum DLH

Pandangan tersebut memperlihatkan perubahan cara pandang pemerintah terhadap teknologi pendidikan. Digitalisasi tidak lagi otomatis dianggap sebagai indikator kemajuan apabila tidak diikuti peningkatan kemampuan dasar siswa.

Meski demikian, kebijakan mengurangi perangkat digital di sekolah tidak sepenuhnya mendapat dukungan.

Perusahaan teknologi dan sejumlah kalangan pendidik menyampaikan kekhawatiran bahwa pembatasan penggunaan perangkat digital justru berpotensi membuat siswa kurang siap menghadapi dunia kerja.

Kekhawatiran itu memiliki dasar. Laporan Uni Eropa memperkirakan sekitar 90 persen pekerjaan akan membutuhkan keterampilan digital.

Artinya, kemampuan menggunakan teknologi tetap menjadi kompetensi penting yang harus dikuasai generasi muda.

Baca Juga: Dugaan Penyimpangan Retribusi Sampah Langkat, APH Didesak Periksa Oknum DLH

Bahkan, laporan Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) pada Januari 2026 menyimpulkan bahwa siswa Swedia secara umum tetap memperoleh manfaat dari akses terhadap perangkat digital.

Situasi ini menunjukkan bahwa persoalan pendidikan tidak sesederhana memilih antara buku cetak atau perangkat digital.

Tantangan sebenarnya adalah menemukan keseimbangan antara penguasaan kemampuan dasar, seperti membaca, menulis, dan berhitung, dengan kecakapan digital yang semakin dibutuhkan.

Langkah Swedia menjadi pengingat bahwa teknologi seharusnya berfungsi sebagai alat bantu pembelajaran, bukan menggantikan seluruh proses pendidikan konvensional.

Sebab, sekolah bukan sekadar tempat mengenalkan anak pada perangkat terbaru, melainkan ruang untuk membangun kemampuan berpikir, memahami informasi, dan mengembangkan pengetahuan.

Ketika teknologi semakin canggih, kemampuan membaca dan memahami sesuatu justru tidak boleh tertinggal.(lin)

Editor : Redaksi
Pendidikan Digital Literasi Membaca pendidikan literasi swedia