MEDAN, SUMUT POS- Berdasarkan hasil pemantauan melalui Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), harga cabai merah di Kota Medan naik hingga menyentuh Rp52.500 per Kg di pusat pasar.
Harga tersebut jauh melampaui kenaikan perdagangan sehari sebelumnya yang sempat berada di kisaran level Rp36.500 per Kg.
Pengamat Ekonomi Sumatera Utara (Sumut), Gunawan Benjamin mengatakan, ada beberapa faktor pemicu kenaikan harga cabai merah pada saat ini, yakni faktor cuaca.
Baca Juga: PLN Pulihkan Sistem Kelistrikan Sumatera Utara 72 Jam Lebih Cepat dari Estimasi
Saat ini curah hujan tinggi masih sering terjadi di sejumlah wilayah yang ada di Sumut yang berpotensi mengganggu proses distribusi dan produksi (panen), ditambah dengan gangguan pemadaman listrik yang juga turut berpotensi membuat pembentukan harga di level pedagang besar berantakan.
"Di saat terjadi hujan deras, petani kerap menunda panen, karena pertimbangan faktor keamanan hingga masalah distribusi cabai. Sementara di level distribusi (pedagang), penyusutan ditambah kondisi pasar yang bisa saja sepi pengunjung. Hal ini kerap membuat harga cabai bergerak volatile dan cukup liar di pasaran," katanya, Jumat (12/6).
Kedua, lanjutnya, ada demand yang cukup besar untuk sejumlah wilayah di luar Sumut. Wilayah Riau, Jambi hingga Jakarta terpantau melakukan pembelian cabai ke wilayah Sumut. Permintaan yang tinggi membuat pembentukan harga cabai di Sumut ke harga yang lebih mahal.
Selanjutnya yang ketiga, sambung Gunawan, adalah faktor dimana Harga Pokok Produksi (HPP) yang alami kenaikan dan berpeluang mendorong terjadinya kenaikan harga jual cabai itu sendiri.
"Seperti yang kita ketahui kenaikan harga plastik, dan kenaikan biaya input produksi lainnya sudah mulai terjadi sejak perang Iran-AS pecah, dan dampaknya ke harga akan mulai dirasakan konsumen pada bulan Juni ini," imbuhnya.
Menurutnya, meskipun sejauh ini faktor pemicu dominannya adalah karena cuaca, namun potensi harga cabai bertahan mahal, atau dalam tren kenaikan masih sangat terbuka.
"Cuaca akan lebih bersifat sementara dan fluktuatif, namun kenaikan biaya input produksi yang sempat terjadi dalam tiga bulan terkahir ini berpeluang menciptakan potensi kenaikan harga secara fundamental," tandasnya. (dwi/ram)
Editor : Juli Rambe