S&P Global Beri Inalum Rating BBB-, Perkuat Peran Strategis Hilirisasi Aluminium

Triadi Wibowo • Dipublikasikan Sabtu, 12 September 2026 | 14:59 WIB
Karyawan mendata produk Inalum usai produksi di pabrik Kuala Tanjung.
Karyawan mendata produk Inalum usai produksi di pabrik Kuala Tanjung.

 

JAKARTA, SUMUT POS - PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Inalum meraih peringkat kredit internasional ‘BBB-’ dengan outlook stabil dari S&P Global Ratings.

Peringkat tersebut menempatkan Inalum pada level investment grade sekaligus memperkuat kredibilitas perusahaan di pasar keuangan domestik maupun internasional.

Dalam laporan yang diterbitkan 7 September 2026, S&P Global Ratings menilai posisi strategis Inalum dalam Grup MIND ID serta kuatnya dukungan pemerintah melalui MIND ID. Inalum dinilai memiliki peran penting dalam mendorong hilirisasi bauksit dan pengembangan rantai nilai aluminium nasional.

Keterkaitan strategis dan finansial yang kuat dengan MIND ID turut memperkuat profil kredit Inalum. Sementara outlook stabil mencerminkan ekspektasi terhadap keberlanjutan kinerja operasional dan arus kas perusahaan serta konsistensi dukungan MIND ID.

Baca Juga: Keloria Moringa Jaya Teken MoU, Kelor Sumut Tembus Pasar Malaysia

Pencapaian tersebut melengkapi penguatan profil kredit Inalum di pasar domestik. Pada Agustus 2026, PEFINDO menaikkan peringkat Inalum satu tingkat, dari idAA-/Stable menjadi idAA/Stable, setelah sebelumnya mempertahankan peringkat idAA-/Stable selama tiga tahun.

Penguatan peringkat tersebut terjadi saat Inalum tengah mempersiapkan kebutuhan pendanaan yang lebih besar untuk mendukung sejumlah proyek hilirisasi aluminium pada periode 2026–2029.

Biaya Operasional Kompetitif

S&P Global Ratings juga menyoroti struktur biaya operasional Inalum yang kompetitif. Pada 2026, perusahaan dinilai mampu beroperasi pada kuartil pertama kurva biaya global, lebih rendah dibandingkan rata-rata industri.

Keunggulan tersebut didukung pasokan energi hidro yang stabil serta integrasi sumber bahan baku domestik. Struktur biaya yang kompetitif dinilai menjadi salah satu kekuatan kredit Inalum sekaligus memberikan daya tahan terhadap fluktuasi harga aluminium global.

Pemanfaatan pembangkit listrik tenaga air juga dinilai memberi keuntungan ganda. Selain membantu menekan emisi karbon, sumber energi tersebut mendukung profitabilitas dan efisiensi biaya produksi.

Baca Juga: Kejar Capaian Target Pajak, Bapenda Kota Medan Segera Digitalisasi Wajib Pajak

Saat ini, Inalum mengoperasikan smelter aluminium primer dengan kapasitas sekitar 275 ribu ton per tahun. Melalui kepemilikan mayoritas di PT Borneo Alumina Indonesia (BAI), Inalum juga telah mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan baku alumina.

BAI mengoperasikan Smelter-Grade Alumina Refinery 1 (SGAR 1) di Mempawah, Kalimantan Barat, dengan kapasitas sekitar 1 juta ton alumina per tahun.

Perkuat Rantai Nilai Aluminium

Posisi strategis Inalum dalam Grup MIND ID dan agenda hilirisasi aluminium dinilai menjadi landasan kuat bagi dukungan berkelanjutan dari induk usaha. Penguatan tersebut dilanjutkan melalui pengembangan SGAR 2 dan Smelter Aluminium 2 (Smelter 2), yang merupakan bagian dari Proyek Strategis Nasional.

SGAR 2 direncanakan menambah kapasitas produksi alumina sekitar 1 juta ton per tahun. Dengan demikian, kapasitas produksi alumina akan meningkat dua kali lipat dari kapasitas saat ini.

Sementara Smelter 2 dirancang memiliki kapasitas produksi sekitar 600 ribu ton aluminium per tahun. Jika terealisasi, total kapasitas produksi aluminium primer Inalum akan meningkat lebih dari tiga kali lipat dibandingkan kapasitas saat ini.

Pengembangan kedua proyek tersebut berpotensi meningkatkan kapasitas produksi sekaligus pendapatan Inalum secara signifikan hingga 2030.

Baca Juga: 20 Atlet Taekwondo Padang Lawas Unjuk Gigi di Piala Wali Kota Sibolga

S&P Global Ratings memperkirakan kondisi industri yang positif akan menopang kinerja Inalum dalam satu hingga dua tahun ke depan. Harga aluminium diproyeksikan tetap suportif seiring ketatnya pasokan global, sementara stabilnya volume penjualan dari smelter eksisting diperkirakan turut menopang pertumbuhan EBITDA perusahaan.

Direktur Utama Inalum, Melati Sarnita, mengatakan pencapaian investment grade menjadi pengakuan sekaligus momentum bagi perusahaan untuk terus memperkuat fundamental bisnis dan menjalankan transformasi industri aluminium nasional secara berkelanjutan.

“Investment grade ini merupakan pengakuan sekaligus tanggung jawab bagi Inalum untuk terus menjaga kinerja perusahaan secara prudent dan berkelanjutan. Di tengah agenda ekspansi dan hilirisasi, kami akan memastikan bahwa pertumbuhan tidak hanya mengejar skala, tetapi tetap dibangun di atas fundamental operasional yang kuat, disiplin finansial, serta tata kelola yang baik,” ujar Melati.

Dengan dukungan MIND ID, lanjutnya, Inalum akan terus memperkuat rantai nilai aluminium nasional dari hulu hingga hilir.

Baca Juga: 20 Atlet Taekwondo Padang Lawas Unjuk Gigi di Piala Wali Kota Sibolga

“Pengembangan SGAR 2 dan Smelter 2 tidak hanya untuk meningkatkan kapasitas, tetapi juga memperkuat kemandirian bahan baku, daya saing industri aluminium nasional, serta menciptakan nilai jangka panjang bagi Indonesia,” katanya.

Ke depan, Inalum berkomitmen menjaga keseimbangan antara pertumbuhan, disiplin finansial dan keunggulan operasional. Pengembangan rantai nilai aluminium yang semakin terintegrasi diharapkan mampu memperkuat daya saing industri nasional, mengurangi ketergantungan impor dan meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral Indonesia secara berkelanjutan. (rel/tri)

Editor : Redaksi
S&P Global Ratings Hilirisasi Aluminium Peringkat Kredit Inalum MIND ID inalum