Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Film Animasi Jumbo Bercerita Tentang Anak Yatim

Juli Rambe • Selasa, 8 April 2025 | 21:35 WIB
Film animasi, Jumbo. (Dok: Humas Film Jumbo)
Film animasi, Jumbo. (Dok: Humas Film Jumbo)

 

SUMUTPOS.CO- Film animasi 'Jumbo' berhasil menarik perhatian masyarakat. Sejak mulai tayang pada 31 Maret 2025 yang lalu, film ini sudah ditonton lebuh dari 1 juta penonton. 

Karya animasi yang lahir dari tangan-tangan kreatif anak bangsa ini sukses menarik perhatian masyarakat Indonesia hingga mancanegara.

Produksi Jumbo memakan waktu yang tidak singkat. Prosesnya dimulai sejak 2019 dan memerlukan kerja keras lebih dari 400 kreator lokal dari berbagai bidang seperti animasi, musik, penulisan naskah, hingga seni visual.

Produksi secara resmi dimulai pada September 2021 di bawah naungan Visinema Animation dan melibatkan sekitar 200 tenaga kreatif aktif. Menurut sang sutradara, Ryan Adriandhy, setiap detik dari animasi dalam film ini memerlukan 24 frame gambar, yang seluruhnya digambar secara teliti dan detail. Inilah yang membuat proses produksi begitu menantang dan memakan waktu, namun juga menciptakan kualitas visual yang setara dengan animasi internasional.

Menariknya, Jumbo merupakan film animasi layar lebar pertama yang digarap oleh Ryan Adriandhy. Sebelumnya, ia dikenal sebagai komika yang memenangkan ajang Stand Up Comedy Indonesia tahun 2011.

Peralihan karier dari komedi ke penyutradaraan animasi menunjukkan luasnya potensi talenta seni di Indonesia. Tak hanya itu, Jumbo juga menjadi film animasi panjang pertama produksi Visinema Pictures, yang sebelumnya sukses dengan serial Nussa. Keputusan Visinema untuk masuk ke ranah animasi menjadi langkah strategis yang memperluas cakupan karya mereka sekaligus memperkaya ragam tontonan keluarga di Indonesia.

Film ini mengisahkan Don, bocah bertubuh besar yang harus menghadapi hidup setelah ditinggal orang tuanya. Dalam petualangannya, Don bertemu dengan roh anak perempuan bernama Meri yang ingin mencari tahu siapa yang membongkar makam orang tuanya.

Karakter-karakter lainnya pun terasa begitu membumi dan akrab, seperti Nurman sang penggembala kambing, Maesaroh yang ceria, dan Atta si anak populer.

Latar waktu cerita diletakkan pada awal 2000-an, era di mana anak-anak masih leluasa bermain di luar rumah tanpa ketergantungan pada gawai. Ryan menyampaikan bahwa ia ingin membawa penonton bernostalgia, menikmati masa kecil dengan permainan seperti kasti dan petak umpet, bukan sekadar mabar.

Tak hanya animasinya yang memukau, Jumbo juga didukung oleh pengisi suara dari kalangan selebriti ternama. Prince Poetiray menghidupkan suara Don versi 10 tahun, sementara Den Bagus memerankan Don kecil.

Ariel NOAH dan Bunga Citra Lestari menjadi orang tua Don, ditambah suara dari Cinta Laura, Angga Yunanda, Ratna Riantiarno, hingga Quinn Salman yang memperkaya emosi dalam cerita. Kehadiran nama-nama besar ini memberikan daya tarik tersendiri dan memperluas segmen penonton dari anak-anak hingga orang dewasa.

Salah satu kekuatan Jumbo ada pada detil kecil yang penuh makna. Nama kampung fiksi Seruni yang jadi latar cerita, berasal dari gabungan kata seru dan nih, yang menggambarkan suasana kampung yang hidup dan dinamis. Ada juga pelat nomor kendaraan R O35 LI yang ternyata bisa dibaca sebagai Rusli, nama tokoh kepala desa dalam film ini.

Menariknya, huruf R pada plat tersebut juga merupakan kode kendaraan dari wilayah Banyumas, yang ternyata tidak disengaja namun pas dengan nuansa lokal cerita. Warganet bahkan menemukan detail menarik pada kalender di kamar Don saat berusia 4 tahun yang menunjukkan tanggal 24 Februari 1994.

Ini mengarahkan penonton untuk menyimpulkan bahwa cerita utama berlangsung sekitar tahun 2000, yang kemudian dikonfirmasi oleh sang sutradara. (bbs/ram)

Editor : Juli Rambe