The Fed Bersiap Naikkan Suku Bunga? Inflasi AS Bikin Peluang Tembus 85 Persen

Johan Panjaitan • Dipublikasikan Senin, 14 September 2026 | 09:30 WIB
Inflasi AS pada Agustus 2026 tercatat lebih tinggi dari perkiraan. (bareksa)
Inflasi AS pada Agustus 2026 tercatat lebih tinggi dari perkiraan. (bareksa/ilustrasi)

 

WASHINGTON, Sumutpos.jawapos.com – Harapan pasar terhadap penurunan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) kembali menghadapi tekanan. Inflasi AS pada Agustus 2026 tercatat lebih tinggi dari perkiraan, memicu ekspektasi bahwa The Fed akan mengambil langkah lebih agresif pada pertemuan pekan ini.

Peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) kini melonjak hingga sekitar 85 persen. Pasar mulai bersiap menghadapi kebijakan moneter yang lebih ketat di tengah tekanan harga yang belum sepenuhnya mereda.

Data Biro Statistik Tenaga Kerja AS menunjukkan inflasi inti, yang tidak memperhitungkan harga pangan dan energi, meningkat 0,3 persen secara bulanan pada Agustus. Angka tersebut melampaui perkiraan ekonom sebesar 0,2 persen.

Secara tahunan, inflasi inti berada di level 2,4 persen. Sementara inflasi konsumen secara keseluruhan mencapai 3,4 persen.

Baca Juga: Rybakina Tumbangkan Sabalenka, Takhta Nomor Satu Dunia Berpindah

Angka tersebut menjadi sinyal bahwa tekanan harga masih cukup kuat. Inflasi belum bergerak cukup dekat dan stabil menuju target The Fed sebesar 2 persen.

Tekanan semakin berat setelah harga minyak menembus USD 100 per barel. Kenaikan harga energi berpotensi kembali mendorong biaya produksi dan transportasi, sekaligus membuat tekanan inflasi bertahan lebih lama.

“Data inflasi inti 0,3 persen, ditambah kenaikan tajam harga energi dan ketegangan yang terus berlangsung dengan Iran, hampir memastikan kenaikan suku bunga The Fed pekan depan,” kata Chief Global Strategist Principal Asset Management Seema Shah seperti dilansir Reuters.

Kondisi tersebut membuat ruang bagi The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneter semakin terbatas.

Inflasi Jadi Penentu

Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan bahwa bank sentral perlu bertindak apabila belum memiliki keyakinan bahwa inflasi dasar bergerak menuju target 2 persen secara jelas dan dalam kecepatan yang memadai.

Data Agustus dinilai belum memberikan keyakinan tersebut.

Karena itu, tekanan terhadap The Fed untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan 15–16 September semakin besar. Jika keputusan tersebut benar-benar diambil, pasar akan kembali berhadapan dengan konsekuensi dari kebijakan moneter yang lebih ketat.

Baca Juga: 130 Penumpang Belum Ditemukan! Basarnas Kerahkan 15 Armada Cari Korban Virgo Transport 8

Kenaikan suku bunga berpotensi menekan konsumsi dan investasi, sekaligus meningkatkan biaya pinjaman. Di sisi lain, langkah tersebut diperlukan untuk meredam tekanan harga yang masih membandel.

Dengan inflasi yang belum sepenuhnya jinak dan harga energi yang kembali menanjak, perhatian pasar kini tertuju pada keputusan The Fed. Satu hal yang jelas, jalan menuju inflasi 2 persen masih belum sepenuhnya mulus.(jpg/han)

Editor : Johan Panjaitan
suku bunga the fed as inflasi