sumutpos.jawapos.com - Kentang enak dan menyehatkan hingga banyak yang menyetoknya di rumah. Artinya, siap dimasak kapan saja.
Namun kadang terlalu lama disimpan, kentang jadi bertunas. Nah, ini bahayanya, mengonsumsi kentang bertunas itu ada risikonya.
Melansir Eating Well, Jumat(27/3/2026), menurut para pakar, tunas-tunas kecil ini bukan sekadar tampilan yang mengganggu, melainkan indikasi adanya peningkatan kadar racun atau kandungan glycoalkaloid.
Sebagai informasi, glycoalkaloid adalah senyawa alami yang meliputi solanin dan chaconine.
Dalam jumlah tinggi, kedua zat ini dapat menyebabkan gangguan pencernaan seperti kram, diare, mual, dan muntah.
Dalam kasus yang sangat jarang, efek racun dari kentang bertunas bisa lebih serius.
Beberapa laporan bahkan mencatat kejadian kematian akibat konsumsi kentang dengan kadar racun tinggi.
Meski sangat jarang terjadi, tapi risiko ringan seperti gangguan lambung cukup umum dialami.
Warna hijau pada kulit kentang pun patut diwaspadai. Warna ini bukan akibat racun itu sendiri, melainkan kandungan klorofil yang muncul akibat paparan cahaya.
Klorofil ini menandakan bahwa kentang tersebut juga berpotensi mengandung lebih banyak glycoalkaloid.
Artinya, jika kulit kentang sudah tampak kehijauan, sebaiknya jangan ambil risiko, buang saja.
Meski ada bahaya makan kentang yang sudah bertunas, tapi kentang tetap bisa diolah jika memang stok terbatas.
Para ahli menyarankan untuk memotong bagian yang bertunas serta kulit yang berwarna hijau secara menyeluruh.
Gunakan pisau kecil dan tajam untuk mengupasnya dengan bersih. Namun perlu diingat, cara ini hanya mengurangi paparan racun, bukan menghilangkannya. (lin)
Editor : Redaksi