Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Penggunaan Headphone Bluetooth Aman bagi Otak, Ini Penjelasannya

Redaksi • Jumat, 3 Juli 2026 | 17:00 WIB
ilustrasi, headphone bluetooth banyak dipakai untuk menunjang aktivitas sehari-hari karena kepraktisan dan kenyamanan.(pexels.com)
ilustrasi, headphone bluetooth banyak dipakai untuk menunjang aktivitas sehari-hari karena kepraktisan dan kenyamanan.(pexels.com)

 

sumutpos.jawapos.com - Pengguna headphone bluetooth tampaknya boleh tenang. Pasalnya, alat itu aman digunakan dan tidak mengganggu otak.

Memang, jika volume dan durasinya berlebihan bisa mengganggu telinga. Namun secara umum headphone bluetooth bisa dikatakan aman.

Melansir Health, Kamis (2/7/2026), headphone bluetooth memang memancarkan radiasi. Meski begitu, keberadaan radiasi tersebut tidak otomatis berbahaya bagi kesehatan.

Bluetooth merupakan teknologi yang memungkinkan dua perangkat terhubung secara nirkabel dalam jarak dekat. 

Baca Juga: Levi’s®️ End of Season Sale Hadir Maksimalkan Gaya Musim Liburan dengan Promo Menarik:  Diskon Hingga 50% ! 

Teknologi ini bekerja menggunakan gelombang radio frekuensi pendek.

Perangkat bluetooth memancarkan radio frequency (RF) radiation, yang termasuk dalam radiasi elektromagnetik. Radiasi jenis ini juga dihasilkan oleh ponsel, radio AM dan FM, serta televisi.

Dan, profesor emeritus bioengineering dari University of Pennsylvania, Ken Foster, mengatakan perangkat bluetooth memancarkan radiasi yang lebih rendah dibandingkan ponsel.

Namun, paparan bisa meningkat jika seseorang menggunakan headphone bluetooth selama berjam-jam setiap hari. 

Baca Juga: RDP Dugaan Penyalahgunaan Wewenang Pengisian JPTP di Nisel Berulang Kali Gagal, Ketua Komisi I Soroti Minimnya Kehadiran Anggota DPRD

Meski begitu, paparannya tetap lebih kecil dibandingkan jika seseorang menempelkan ponsel langsung ke telinga saat menelepon.

Sebagai informasi, tadiasi terbagi menjadi dua jenis, yaitu radiasi non-ionisasi dan radiasi ionisasi. 

Radiasi non-ionisasi memiliki energi rendah. Radiasi ini dapat menggerakkan atom, tetapi tidak cukup kuat untuk merusak struktur atom atau DNA.

Sementara itu, radiasi ionisasi seperti sinar-X dan limbah radioaktif memiliki energi tinggi dan dapat merusak jaringan serta DNA.

Kekhawatiran utama masyarakat adalah paparan radiasi bluetooth yang dekat dengan kepala dan otak. 

Baca Juga: Soal Nobar Piala Dunia di Tengah OTT KPK, Sekda Langkat: Sudah Terjadwal dan Instruksi Kemendagri

Namun, bluetooth termasuk radiasi non-ionisasi yang tidak bersifat karsinogenik atau tidak menyebabkan kanker.

Sejauh ini, penelitian belum menemukan bukti kuat yang mengaitkan paparan radiasi RF dari perangkat nirkabel dengan dampak kesehatan serius, termasuk kanker. 

Meski demikian, para peneliti menilai studi lanjutan tetap diperlukan untuk memastikan dampak jangka panjangnya.

Menurut Foster, risiko penggunaan headphone yang lebih nyata bukanlah kanker, melainkan keselamatan dan pendengaran.

Baca Juga: Pasca OTT KPK, Wabup Langkat Tiorita Menangis: “Saya Tidak Tahu Keberadaan Pak Bupati”

Ia mencontohkan, berjalan di jalan raya sambil mendengarkan musik dengan volume tinggi jauh lebih berbahaya dibandingkan risiko tumor yang masih bersifat teori.(lin)

Editor : Redaksi
#kesehatan #Headphone Bluetooth #Radiasi #bluetooth #teknologi