sumutpos.jawapos.com - Anak gemuk memang menggemaskan, namun jangan berlebihan hingga obisitas, bahaya!
Melansir Mayo Clinic, Selasa (20/10/2026), ada sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko anak mengalami obisitas.
Penyebab obisitas itu bukan hanya pola makan dan aktivitas fisik, tetapi juga tidur, stres, faktor genetik dan hormon, riwayat keluarga, serta lingkungan tempat anak tumbuh.
Artinya, tidak semua hal yang berkaitan dengan obesitas pada anak dapat dikendalikan orang tua.
Riwayat keluarga, perubahan pada gen tertentu, dan kondisi yang berkaitan dengan hormon dapat membuat sebagian anak memiliki risiko lebih tinggi mengalami obesitas.
Baca Juga: Konate Siap Bawa Real Madrid Bungkam RB Leipzig
Lingkungan tempat anak tumbuh juga ikut berpengaruh. Tidak semua keluarga memiliki akses yang sama terhadap makanan segar, supermarket, ruang terbuka, atau tempat yang aman untuk bermain dan beraktivitas.
Pada kondisi tertentu, makanan yang paling mudah diperoleh justru makanan olahan yang dapat disimpan lebih lama.
Meski begitu, ada kebiasaan sehari-hari yang tetap bisa dibangun bersama di rumah. Keluarga dapat menerapkan pola makan seimbang dan melakukan aktivitas fisik bersama.
Orang tua bisa mulai dengan menyediakan pilihan makanan yang lebih beragam, mengajak anak aktif bergerak, membatasi waktu layar untuk hiburan, dan memastikan anak mendapatkan waktu tidur yang cukup.
Baca Juga: Pemkab Padang Lawas Raih Penghargaan Keterbukaan Informasi Publik Sumut
Yang tidak kalah penting, perubahan kebiasaan tersebut sebaiknya tidak membuat anak merasa sedang dihukum karena berat badannya.
Obesitas memang dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan, tetapi kesehatan anak tidak bisa dinilai hanya dari angka di timbangan.
Kondisi emosional, kebiasaan sehari-hari, faktor biologis, dan lingkungan juga perlu diperhatikan.
Berikut sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko anak mengalami obisitas:
1. Pola makan
Anak yang sering mengonsumsi makanan tinggi gula tambahan, lemak jenuh, dan natrium lebih berisiko mengalami kenaikan berat badan.
Makanan cepat saji, makanan ringan, kue, permen, makanan penutup, hingga minuman manis seperti soda, jus buah, dan minuman olahraga termasuk jenis yang perlu dibatasi.
2. Kurang bergerak
Aktivitas fisik yang rendah juga dapat berkontribusi terhadap kenaikan berat badan.
Anak yang terlalu banyak menghabiskan waktu di depan televisi, bermain gim, atau menggunakan media sosial cenderung lebih banyak berada dalam kondisi tidak aktif.
Disarankan waktu layar untuk hiburan bagi anak usia 2 tahun ke atas dibatasi maksimal dua jam sehari, di luar kebutuhan sekolah.
Sementara itu, anak di bawah usia 2 tahun dianjurkan tidak mendapatkan waktu layar.
3. Stres dan kurang tidur
Stres pribadi maupun stres dalam keluarga dapat memengaruhi tubuh, termasuk hormon seperti kortisol.
Kadar kortisol yang tinggi dapat berkaitan dengan meningkatnya rasa lapar dan keinginan mengonsumsi makanan tinggi lemak serta gula.
4. Tidur
Tidur juga menjadi salah satu faktor yang dapat berperan terhadap obesitas pada anak.
Karena itu, ketika berat badan anak meningkat, orang tua sebaiknya tidak hanya memperhatikan pola makan, tetapi juga kondisi emosional, pola tidur, dan rutinitas sehari-hari.(lin)
Editor : Redaksi