MEDAN, Sumutpos.jawapos.com-Pemadaman listrik massal yang melanda sebagian besar wilayah Sumatera sejak Jumat (22/5/2026) malam hingga Sabtu (23/5/2026) tidak hanya memicu keluhan masyarakat, tetapi juga meninggalkan pukulan ekonomi serius bagi pelaku usaha kecil.
DPRD Sumatera Utara menilai kelompok usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi pihak yang paling merasakan dampak blackout tersebut. Selain kehilangan omzet, banyak pelaku usaha harus menanggung kerugian besar akibat rusaknya stok dagangan hingga peralatan usaha yang bergantung pada listrik.
Anggota Komisi B DPRD Sumut, Rudi, menyebut kondisi itu tidak bisa dianggap sepele karena menyangkut keberlangsungan ekonomi masyarakat kecil.
“Dampak yang paling terasa itu di pelaku UMKM. Mereka bukan hanya kehilangan omzet, tapi juga kehilangan barang dagangan yang rusak karena tidak ada listrik,” ujar Rudi, Minggu (24/5/2026).
Baca Juga: Inter Milan Tutup Musim dengan Drama Enam Gol, Ditahan Bologna 3-3 di Pekan Terakhir
Menurutnya, sektor makanan dan minuman menjadi yang paling terpukul. Pemadaman berjam-jam membuat freezer dan pendingin tidak berfungsi, sehingga stok ikan, daging, hingga produk beku milik pelaku usaha membusuk.
Kerugian juga dialami pedagang minuman dingin, penjual es krim, kafe, hingga usaha jus yang praktis tidak dapat beroperasi selama listrik padam.
“Bayangkan pelaku usaha yang menyimpan stok ikan atau daging di freezer. Ketika listrik mati berjam-jam, bahkan seharian, itu semua rusak. Belum lagi usaha minuman dingin yang bergantung penuh pada listrik, mereka praktis tidak bisa berjualan,” katanya.
Rudi menegaskan, kerugian yang ditanggung pelaku UMKM tidak kecil. Dalam satu hari saja, nilai kerugian disebut bisa mencapai puluhan juta rupiah, tergantung skala usaha masing-masing.
Tidak hanya kehilangan barang dagangan, sejumlah pelaku usaha juga melaporkan kerusakan alat elektronik akibat lonjakan arus saat listrik kembali menyala. Freezer, kulkas, mesin kasir, hingga alat produksi disebut ikut mengalami gangguan.
“Kerugian itu berlapis. Barang rusak, usaha berhenti, alat juga ikut rusak. Ini yang membuat pelaku UMKM benar-benar menjerit,” ungkap politisi PAN tersebut.
Melihat besarnya dampak ekonomi yang ditimbulkan, DPRD Sumut mendorong PT PLN (Persero) mengambil langkah konkret untuk membantu pemulihan usaha masyarakat.
Baca Juga: Trump Klaim Damai AS-Iran di Depan Mata, Selat Hormuz Disebut Segera Dibuka
Salah satu usulan yang disampaikan adalah penyaluran bantuan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) PLN kepada pelaku UMKM terdampak.
“Kami mendorong agar dana CSR dari PLN bisa dialokasikan untuk membantu pelaku UMKM yang terdampak. Ini penting agar mereka bisa bangkit dan melanjutkan usahanya,” ujarnya.
Ia juga meminta dilakukan pendataan cepat terhadap pelaku usaha yang mengalami kerugian agar bantuan yang diberikan tepat sasaran.
Menurut Rudi, keberlangsungan UMKM sangat menentukan stabilitas ekonomi daerah. Jika sektor usaha kecil terguncang tanpa pemulihan cepat, dampaknya bisa meluas terhadap daya beli masyarakat dan perputaran ekonomi di Sumatera Utara.
“UMKM ini tulang punggung ekonomi kita. Kalau mereka terpukul, dampaknya bisa ke mana-mana, termasuk ke daya beli masyarakat dan perputaran ekonomi daerah,” jelasnya.
Di sisi lain, ia mendesak PLN melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem kelistrikan agar blackout serupa tidak kembali terjadi.
“Keandalan listrik itu sangat vital. Jangan sampai kejadian seperti ini terus berulang dan masyarakat, khususnya pelaku UMKM, yang selalu menjadi korban,” pungkasnya.(san/han)
Editor : Johan Panjaitan