Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

WNA Kontak Erat Korban Hantavirus Dipantau Ketat di Jakarta

Johan Panjaitan • Selasa, 12 Mei 2026 | 07:15 WIB
Kasus hantavirus ternyata sudah ditemukan di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. (Instagram @pandemictalks).
Kasus hantavirus ternyata sudah ditemukan di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. (Instagram @pandemictalks).

 

JAKARTA, Sumutpos.jawapos.com-Pemerintah Indonesia meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penyebaran Hantavirus setelah seorang warga negara asing (WNA) yang pernah berada satu penerbangan dengan pasien meninggal dunia di kapal pesiar MV Hondius ditemukan berada di Jakarta.

WNA berusia 60 tahun tersebut kini menjalani karantina dan pemantauan intensif di RSPI Sulianti Saroso, Jakarta, meski hasil pemeriksaan awal menunjukkan negatif Hantavirus.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan, Andi Saguni, menjelaskan bahwa WNA itu masuk kategori kontak erat dengan pasien kedua Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang meninggal di kapal pesiar ekspedisi MV Hondius.

Riwayat perjalanan pria tersebut tergolong panjang dan lintas negara. Ia diketahui berada di sejumlah wilayah di Argentina pada 18–30 Maret 2026, lalu tiba di Ushuaia—titik awal pelayaran MV Hondius—pada 31 Maret 2026.

Baca Juga: Komisi B DPRD Sumut : Tambang Ilegal Bukan Hanya Rugikan PAD, Tapi Rusak Lingkungan

Kontak erat terjadi ketika keduanya sama-sama berada di Saint Helena dan menginap di lokasi yang sama. Mereka juga tercatat berada dalam satu penerbangan dari Saint Helena menuju Johannesburg, Afrika Selatan, pada 24 April 2026.

Setelah itu, WNA tersebut melanjutkan perjalanan ke Zimbabwe sebelum akhirnya kembali ke Indonesia melalui Qatar dan tiba di Jakarta pada 30 April 2026.

“Kami menerima notifikasi dari International Health Regulations National Focal Point Inggris pada 7 Mei 2026 terkait kontak erat tersebut,” ujar Andi dalam taklimat media, Senin (11/5/2026).

Sehari setelah menerima laporan, Kemenkes langsung melakukan penyelidikan epidemiologi bersama WHO, RSPI Sulianti Saroso, Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Jakarta, serta Dinas Kesehatan DKI Jakarta.

Pada 9 Mei, petugas menjemput WNA tersebut di kediamannya untuk menjalani pemeriksaan lanjutan dan observasi selama masa inkubasi virus berlangsung.

Lima jenis spesimen diambil untuk memastikan kondisi pasien, yakni serum, urin, saliva, usap tenggorok, dan whole blood. Hasil sementara menunjukkan negatif Hantavirus dan pasien juga tidak mengalami gejala serius.

Baca Juga: Alasan Arya Khan Cerai dengan Pinkan Mambo: Tidak Boleh Ada yang Ngebos

“Pasien dalam kondisi sehat dan tidak menunjukkan gejala mengkhawatirkan,” katanya.

Meski demikian, pemeriksaan berkala tetap dilakukan setiap dua minggu sesuai rekomendasi WHO. Selama masa pemantauan, pasien juga diminta menjalani work from home guna meminimalkan risiko kontak sosial.

Andi memastikan potensi penularan terhadap masyarakat relatif kecil karena yang bersangkutan telah menjalani isolasi mandiri sejak tiba di Indonesia dan tinggal seorang diri.

Kesiapsiagaan Nasional Diperketat

Merespons perkembangan tersebut, Kementerian Kesehatan memperkuat kesiapsiagaan nasional dengan menyiagakan 198 rumah sakit jejaring penyakit infeksi emerging, termasuk 21 rumah sakit sentinel di 20 provinsi.

Rumah sakit tersebut disiapkan untuk pemantauan kasus, isolasi pasien, hingga mencegah potensi kejadian luar biasa (KLB).

Selain itu, pemerintah juga memastikan kapasitas laboratorium tetap memadai melalui dukungan 221 alat PCR yang tersebar di berbagai daerah.

Menurut Andi, pemeriksaan PCR menjadi langkah penting untuk memastikan jenis dan strain virus Hanta yang ditemukan.

“Kalau hasilnya positif, baik HFRS maupun HPS, strain-nya harus diperiksa lebih lanjut melalui PCR,” jelasnya.

Hingga kini, kasus yang ditemukan di Indonesia masih berupa Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS), bukan HPS seperti yang terjadi di kapal pesiar MV Hondius.

Baca Juga: Ini Kata Megawati Hangestri setelah Resmi Gabung dengan Hyundai Hillstate

Data Kemenkes mencatat, sepanjang 2024 hingga Mei 2026 terdapat 23 kasus HFRS di Indonesia. Satu kasus ditemukan pada 2024, meningkat menjadi 17 kasus pada 2025, dan lima kasus tercatat hingga Mei 2026. Tiga pasien dilaporkan meninggal dunia.

Pengawasan di pintu masuk negara juga diperketat melalui 51 Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK). Petugas melakukan thermal scanner, pemeriksaan visual, hingga pemantauan pelaku perjalanan internasional melalui aplikasi All Indonesia.

Empat Kasus Terdeteksi di Jakarta

Di tingkat daerah, Dinas Kesehatan DKI Jakarta mencatat empat kasus Hantavirus ditemukan sepanjang 2026. Tiga pasien telah dinyatakan sembuh dengan gejala ringan, sementara satu kasus masih berstatus suspek dan menunggu hasil laboratorium.

Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Ani Ruspitawati menegaskan bahwa Hantavirus bukan penyakit baru dan hingga kini penularannya di Indonesia masih berasal dari tikus ke manusia, bukan antarmanusia.

Virus ditularkan melalui paparan air liur, urin, maupun kotoran tikus yang terkontaminasi. Penularan juga dapat terjadi ketika debu yang mengandung partikel virus terhirup manusia.

“Dari berbagai varian Hantavirus, hanya varian Andes di Amerika Selatan yang diketahui dapat menular antarmanusia,” ujarnya.

Meski demikian, Dinkes DKI tetap meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan dengan menjaga kebersihan lingkungan, rutin mencuci tangan, menggunakan masker di area berisiko tinggi, dan menjaga daya tahan tubuh.

Sumut Belum Temukan Kasus

Sementara itu, Dinas Kesehatan Sumatera Utara memastikan hingga saat ini belum ditemukan kasus Hantavirus terkonfirmasi di wilayah tersebut.

Namun, kewaspadaan tetap diperketat menyusul terbitnya surat edaran Kementerian Kesehatan terkait peningkatan kesiapsiagaan terhadap penyakit tersebut.

Baca Juga: DPRD Nisel Minta Pemkab Kembalikan TPP Dokter Spesialis

Sekretaris Dinas Kesehatan Sumut, Hamid Rizal, mengatakan seluruh fasilitas kesehatan diminta aktif melakukan pengawasan dan deteksi dini terhadap kemungkinan munculnya kasus suspek.

“Untuk di Sumatera Utara sendiri sampai saat ini belum ada kasus Hantavirus yang terkonfirmasi. Namun kami tetap meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan,” ujarnya kepada Sumut Pos.

Pemerintah daerah juga memperkuat koordinasi lintas sektor, sistem pelaporan cepat, hingga penilaian risiko lingkungan yang berpotensi menjadi sumber penularan.

Masyarakat diimbau menjaga kebersihan lingkungan, menutup akses masuk tikus ke rumah, menyimpan makanan dalam wadah tertutup, serta berhati-hati saat beraktivitas di area yang berpotensi menjadi habitat tikus.

“Kami berharap masyarakat tetap tenang, tidak panik, tetapi tetap waspada. Pencegahan menjadi langkah paling penting,” pungkas Hamid. (jpg/san/adz/han)

Editor : Johan Panjaitan
#hantavirus #kontak erat #wna #pengawasan #kemenkes