Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Ronny Tanuwijaya: Adu Penalti Tak Lagi Soal Teknik, tapi Pertarungan Mental

Deking Sembiring • Rabu, 1 Juli 2026 | 15:12 WIB
Pengamat Sepak Bola Nasional, Ronny Tanuwijaya. (Dok Pribadi)
Pengamat Sepak Bola Nasional, Ronny Tanuwijaya. (Dok Pribadi)

MEDAN, SUMUTPOS - Dalam sepak bola modern, tidak ada lokasi di lapangan yang lebih menegangkan dibanding titik putih berjarak 12 yard atau 11 meter dari gawang. Di titik inilah kerja keras selama 120 menit dapat ditentukan hanya dalam hitungan detik. 

Menurut Pengamat Sepak Bola Nasional sekaligus Mantan Manajer Persebaya, Ronny Tanuwijaya, adu penalti menjadi 'ruang sidang' paling kejam karena tidak mengenal status, tradisi, maupun nama besar sebuah tim.

"Pahlawan dan pecundang di sepak bola modern sering kali hanya dipisahkan oleh jarak 11 meter. Di titik itu, teknik memang penting, tetapi mental menjadi penentu utama," ujar Ronny, Selasa (1/7).

Pernyataan tersebut kembali relevan setelah sejumlah pertandingan babak gugur Piala Dunia 2026 memperlihatkan bagaimana tim-tim unggulan harus menerima kenyataan pahit akibat kegagalan dalam adu penalti.

Baca Juga: 10 Hari Hilang di Sei Bilah, Jasad Habib Zuhri Ditemukan 10 Kilometer dari Lokasi Tenggelam

Ronny menjelaskan bahwa aturan tendangan penalti lahir pada 1891 sebagai respons terhadap tindakan tidak sportif pemain yang sengaja menggagalkan peluang gol dengan handball di garis gawang. Sejak saat itu, International Football Association Board (IFAB) menetapkan bahwa pelanggaran di dalam kotak penalti harus dihukum dengan tendangan dari titik 12 yard.

"Awalnya penalti dibuat untuk menegakkan keadilan. Namun dalam perkembangannya, justru menjadi momen paling menegangkan karena hasil pertandingan bisa berubah hanya dalam lima tendangan," katanya.

Ronny menilai, Piala Dunia 2026 kembali menunjukkan bahwa adu penalti tidak pernah memandang reputasi sebuah negara. 
Salah satu contohnya adalah tersingkirnya Belanda pada babak 32 besar setelah kalah dari Maroko melalui drama adu penalti. 

Baca Juga: Samha Putra Husin Kembali Pimpin AFK Binjai, Bidik Medali Porprovsu 2026

Setelah bermain imbang hingga babak tambahan waktu, Maroko tampil lebih tenang saat eksekusi penalti dan memastikan kemenangan 3-2.

"Penguasaan bola, kualitas pemain, hingga pengalaman tampil di turnamen besar bisa hilang nilainya ketika pertandingan memasuki adu penalti. Yang bertahan justru tim dengan mental paling kuat," ungkapnya.

Dia menambahkan bahwa sejarah juga memperlihatkan bagaimana negara-negara besar, termasuk Jerman, pernah merasakan manis sekaligus pahitnya adu penalti. Hal itu membuktikan tidak ada tim yang benar-benar kebal terhadap tekanan dari titik putih.

Ronny menilai tekanan psikologis dalam adu penalti tidak hanya dirasakan penendang, tetapi juga penjaga gawang.

Bagi penendang, setiap kegagalan berpotensi dikenang sepanjang kariernya. Dia mencontohkan kegagalan Roberto Baggio pada final Piala Dunia 1994 yang hingga kini masih menjadi salah satu momen paling ikonik dalam sejarah sepak bola.

Baca Juga: Sumut Sabet Juara Umum II Kejurnas ITFun 2026, Borong 18 Medali Emas

Sementara bagi penjaga gawang, situasinya tidak kalah berat. Selain harus menebak arah bola dalam waktu yang sangat singkat, mereka juga harus mematuhi aturan baru yang mengharuskan satu kaki tetap berada di garis gawang saat eksekusi dilakukan.

"Kalau berhasil menggagalkan penalti, kiper menjadi pahlawan. Sebaliknya, jika gagal membaca arah bola, sorotan langsung tertuju kepadanya," katanya.

Ronny mengingatkan bahwa Indonesia juga memiliki sejarah pahit dalam eksekusi penalti di berbagai pertandingan penting. Nama-nama seperti Anjas Asmara maupun Suaeb Rizal menjadi bagian dari catatan tersebut setelah gagal menjalankan tugas pada momen krusial.

Baca Juga: Amerika Vs Bosnia: Ancaman Kejutan The Dragons

Menurutnya, tekanan yang dirasakan pemain Indonesia sejatinya tidak berbeda dengan pemain kelas dunia.
"Ketika gagal mengeksekusi penalti, yang dipikul bukan hanya beban pribadi, tetapi juga harapan jutaan pendukung. Itulah mengapa adu penalti menjadi ujian mental yang sesungguhnya," ungkapnya. 

Ronny menegaskan bahwa adu penalti akan selalu menjadi bagian paling dramatis dalam sepak bola karena menghadirkan pertarungan psikologis yang sulit diprediksi.

"Penalti tidak peduli apakah yang menendang berasal dari Belanda, Jerman, Indonesia, atau negara mana pun. Jaraknya tetap sama, 11 meter. Yang membedakan hanyalah kesiapan mental pemain ketika berdiri di depan bola," tutupnya. (dek)

Editor : Redaksi
#Ronny Tanuwijaya #piala dunia #belanda