Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Tolak Pembangunan Kopdes di Lapangan Bola, Karsianus Purba: Itu Warisan Swadaya Masyarakat, Bukan Aset Desa

Johan Panjaitan • Rabu, 18 Maret 2026 | 10:15 WIB

Kondisi Lapangan Bola Kaki Desa Gunung Rante sedang tahap pembangunan gedung Kopdes Merah Putih yang mendapat protes warga. ( Liberti H Haloho/Sumut Pos)
Kondisi Lapangan Bola Kaki Desa Gunung Rante sedang tahap pembangunan gedung Kopdes Merah Putih yang mendapat protes warga. ( Liberti H Haloho/Sumut Pos)

BATUBARA, Sumutpos.Jawapos.com– Polemik rencana pembangunan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di Lapangan Bola Desa Gunung Rante, Kecamatan Talawi, kian memanas. Tokoh masyarakat setempat, Karsianus Purba (83), angkat suara menyampaikan penolakan tegas atas rencana tersebut.

Bagi Karsianus, lapangan bola itu bukan sekadar sebidang tanah, melainkan simbol gotong royong dan sejarah panjang perjuangan warga. Ia menegaskan, lahan tersebut dibeli dari hasil swadaya masyarakat, bukan aset resmi desa seperti yang kerap dipersepsikan.

“Saya keberatan. Lapangan itu ada karena perjuangan masyarakat, bukan milik desa. Itu ruang publik untuk olahraga dan kegiatan penting seperti upacara 17 Agustus,” ujarnya, Senin (16/3/2026).

Baca Juga: H-5 Lebaran, Arus Mudik Tol Batubara–Asahan Masih Terkendali

Sebagai salah satu pelaku sejarah, Karsianus mengisahkan bagaimana pada era 1970-an, saat wilayah tersebut masih bagian dari Desa Panjang, masyarakat bersama perangkat desa bersepakat membeli lahan untuk dijadikan lapangan bola sekaligus pusat kegiatan warga.

Kala itu, pembelian dilakukan dengan cara yang jauh dari kata mudah. Warga mengumpulkan beras sedikit demi sedikit—“segantang demi segantang”—sementara perangkat desa rela gajinya dipotong demi menutupi kekurangan biaya.

“Tanah seluas 20 rante itu kami beli dari Sialagan dan Sitio, dengan ganti rugi tiga kaleng beras per rante. Karena dana masyarakat hanya cukup 60 persen, sisanya kami tutup dari pemotongan gaji perangkat desa,” ungkapnya.

Menurutnya, nilai historis dan sosial lapangan tersebut tidak bisa diukur semata dari aspek pembangunan fisik. Ia menilai, menjadikan lapangan sebagai lokasi pembangunan gedung Kopdes sama saja mengabaikan warisan kolektif masyarakat.

Baca Juga: Tragis di Sidikalang: Yolanda Malau Ditemukan Tak Bernyawa di Kamar Penginapan

Meski demikian, Karsianus menegaskan tidak menolak program pemerintah secara keseluruhan. Ia bahkan mendukung penuh gagasan Presiden RI Prabowo Subianto dalam mendorong penguatan ekonomi desa melalui Kopdes Merah Putih.

Namun, ia meminta pemerintah bersikap arif dan bijaksana dalam menentukan lokasi pembangunan, tanpa mengorbankan ruang publik yang telah lama menjadi milik bersama.

“Silakan bangun Kopdes, kami dukung. Tapi jangan di lapangan bola itu. Kalau tetap dipaksakan, pemerintah harus menyediakan lapangan pengganti,” tegasnya.

Di usia senjanya, Karsianus menitipkan harapan kepada generasi muda untuk menjaga dan memperjuangkan ruang publik yang sarat nilai sejarah tersebut. Baginya, lapangan bola Gunung Rante bukan hanya tempat bermain, tetapi juga jejak solidaritas dan identitas masyarakat yang tidak boleh hilang begitu saja.(lib/han)

Editor : Johan Panjaitan
#lapangan bola #tokoh masyarakat #Kopdes Merah Putih