Sumutpos.jawapos.com-Dini hari yang seharusnya tenang mendadak berubah mencekam ketika gempa bumi tektonik mengguncang wilayah barat daya Kabupaten Nias Utara, Sumatera Utara, Minggu (19/4/2026) pukul 03.06 WIB. Getaran yang cukup kuat sempat membangunkan warga di sejumlah daerah.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan gempa dengan magnitudo 5,6 tersebut tidak berpotensi tsunami, meskipun sumbernya berasal dari aktivitas tektonik aktif di zona subduksi.
Pelaksana Tugas Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono, menjelaskan bahwa episenter gempa berada pada koordinat 1,11° Lintang Utara dan 97,02° Bujur Timur, atau sekitar 52 kilometer barat daya Nias Utara, dengan kedalaman 17 kilometer.
Baca Juga: Kopi Bikin Awet Muda atau Cepat Tua? Fakta Mengejutkan Ini Bikin Kaget
“Gempa ini tergolong dangkal dan dipicu oleh aktivitas subduksi Lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Lempeng Eurasia,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Hasil analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa gempa memiliki mekanisme pergerakan naik atau thrust fault. Karakter ini umum terjadi di zona tumbukan lempeng, yang memang dikenal aktif di sepanjang barat Sumatera.
Guncangan gempa terasa cukup signifikan di sejumlah wilayah. Di Gunungsitoli, intensitas mencapai skala V MMI—getaran dirasakan hampir seluruh warga dan menyebabkan banyak orang terbangun dari tidur.
Sementara itu, di wilayah Nias Barat, Nias Utara, dan Tapanuli Tengah, intensitas berada pada skala IV MMI, di mana getaran dirasakan jelas di dalam rumah oleh banyak orang.
Satu Kali Gempa Susulan
BMKG juga mencatat satu kali gempa susulan hingga pukul 03.40 WIB dengan magnitudo 3,7. Meski demikian, aktivitas tersebut masih dalam batas wajar untuk gempa tektonik jenis ini.
Baca Juga: Harga LPG Non-Subsidi Resmi Naik per 18 April 2026, Beban Baru di Tengah Gejolak Energi Global
Masyarakat diimbau tetap tenang dan tidak terpancing isu yang belum terverifikasi. BMKG menegaskan bahwa seluruh informasi resmi terkait gempa hanya disampaikan melalui kanal komunikasi resmi lembaga tersebut.
Di tengah dinamika alam yang tak terduga, kewaspadaan tetap menjadi kunci. Namun dengan informasi yang akurat dan respons yang tenang, risiko dapat diminimalkan tanpa menambah kepanikan.(jpg/han)
Editor : Johan Panjaitan