LABUHANBATU, Sumutpos.jawapos.com-Sore itu, Rabu (22/4/2026) pukul 16.52 WIB, sebuah panggilan masuk ke layanan darurat 110 Polres Labuhanbatu. Di balik suara yang terdengar sederhana, tersimpan kegelisahan seorang suami yang sedang berpacu dengan keadaan.
Syahrial Lubis, pria itu, tengah menghadapi kenyataan pahit. Istrinya terbaring lumpuh dan dirawat di Rumah Sakit Elpi Al Azis Rantauprapat. Di tengah keterbatasan biaya dan rasa cemas yang kian menekan, ia hanya memiliki satu harapan tersisa: menghubungi Call Center 110.
Bagi sebagian orang, panggilan itu mungkin sekadar prosedur. Namun bagi Syahrial, itu adalah ikhtiar terakhir—sebuah pintu kecil menuju kemungkinan yang masih tersisa.
Baca Juga: Levante vs Sevilla: Bertaruh Nasib di Ujung Musim
Respons datang tanpa jeda. Petugas Call Center 110 Polres Labuhanbatu tidak hanya menerima laporan, tetapi juga segera mengarahkan Syahrial untuk datang ke Mapolres di Jalan MH Thamrin. Di sana, ia tidak disambut dengan kerumitan birokrasi, melainkan dengan empati yang nyata.
Personel piket dari SPKT, Samapta, dan operator Call Center bergerak serempak. Mereka tidak sekadar mendengar, tetapi juga memahami. Dan dari pemahaman itu, lahirlah tindakan.
Bantuan diberikan—bukan sekadar formalitas administratif, melainkan wujud kepedulian yang tulus. Sejumlah dana diserahkan untuk membantu biaya perjalanan Syahrial membawa istrinya pulang ke Riau.
Di titik itulah, fungsi kepolisian menemukan makna yang lebih luas. Tidak ada kasus yang harus diusut, tidak ada pelaku yang harus ditangkap. Yang hadir hanyalah kemanusiaan, dalam bentuknya yang paling sederhana namun paling berarti.
Kasi Humas Polres Labuhanbatu, AKP Aswin Irwan, menegaskan bahwa apa yang dilakukan jajarannya bukanlah sesuatu yang luar biasa. Justru sebaliknya, itu adalah bagian dari komitmen yang harus terus dijaga.
“Kami hadir tidak hanya dalam penegakan hukum, tetapi juga sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat. Ketika ada warga yang membutuhkan bantuan, sudah menjadi tanggung jawab kami untuk hadir dan memberikan solusi,” ujarnya.
Baca Juga: Anang Anas Azhar, Wartawan 'Profesor Berita' Kini jadi Profesor UIN Sumatera Utara
Kisah Syahrial menjadi potret kecil tentang bagaimana negara hadir melalui sentuhan yang manusiawi. Di tengah dinamika sosial yang kerap menguji kepercayaan, hal-hal sederhana seperti empati dan kepedulian justru menjadi fondasi yang menguatkan.
Call Center 110, yang selama ini identik dengan laporan darurat, kembali menunjukkan perannya sebagai jembatan antara masyarakat dan kepolisian. Ia bukan hanya saluran pengaduan, tetapi juga ruang harapan—tempat di mana seseorang dapat mengetuk pintu bantuan di saat paling genting.
Polres Labuhanbatu pun mengimbau masyarakat untuk tidak ragu memanfaatkan layanan tersebut. Sebab di balik setiap panggilan, selalu ada kemungkinan lahirnya solusi—bahkan secercah harapan baru.
Bagi Syahrial, bantuan itu mungkin belum menyelesaikan seluruh persoalan. Namun setidaknya, ia kini memiliki jalan untuk pulang.(fdh/han)
Editor : Johan Panjaitan