LABUSEL, Sumutpos.jawapos.com-Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 di Kabupaten Labuhanbatu Selatan tidak sekadar menjadi agenda seremonial. Di Lapangan Santun Berkata Bijak Berkarya (SBBK), Kotapinang, Senin (4/5/2026), pesan yang disampaikan justru menukik pada inti persoalan: pendidikan bermutu harus dimulai dari ruang kelas.
Bupati Labusel, Fery Sahputra Simatupang, yang bertindak sebagai inspektur upacara, membacakan amanat Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah. Dalam amanat tersebut ditegaskan bahwa Hardiknas adalah momentum refleksi—menimbang kembali arah dan tujuan pendidikan nasional di tengah tantangan zaman.
Pendidikan, sebagaimana disampaikan, bukan sekadar proses transfer ilmu. Ia adalah upaya memanusiakan manusia—dijalankan dengan ketulusan, kasih sayang, dan dedikasi. Di sanalah potensi dan fitrah manusia diasah, dibimbing, dan dikembangkan.
Baca Juga: Pengungkapan 53 Kg Sabu di Deliserdang, DPRD Apresiasi Kinerja Polisi Selamatkan Ratusan Ribu Jiwa
Pemikiran Ki Hajar Dewantara kembali ditegaskan sebagai fondasi. Sistem among dengan nilai asah, asih, dan asuh menjadi kerangka penting dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara karakter.
Arah pendidikan nasional pun tetap berpijak pada amanat konstitusi—mencerdaskan kehidupan bangsa, membangun watak, serta melahirkan peradaban yang bermartabat. Tujuannya jelas: menciptakan manusia Indonesia yang beriman, berakhlak, cakap, mandiri, dan bertanggung jawab.
Dalam konteks pembangunan nasional, sektor pendidikan juga menjadi pilar penting dalam mewujudkan visi Indonesia maju. Pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning) kini didorong sebagai strategi utama, agar proses belajar tidak lagi dangkal, melainkan mampu menggali potensi peserta didik secara utuh.
Satu kalimat dalam amanat itu menjadi penegas arah: jika ingin memajukan bangsa, perbaiki pendidikan—dan jika ingin memperbaiki pendidikan, mulailah dari ruang kelas.
Pemerintah pun telah merumuskan lima langkah strategis untuk memperkuat kualitas pendidikan. Mulai dari pembangunan dan digitalisasi sekolah, peningkatan kualitas guru, penguatan karakter, peningkatan literasi dan numerasi, hingga perluasan akses pendidikan yang inklusif.
Baca Juga: Pengadaan Guru Sekolah Rakyat Dimulai, Sumut Belum Alami Kekurangan Tenaga Pengajar
Lebih dari itu, pendidikan tidak lagi dipandang sebagai tanggung jawab sekolah semata. Kolaborasi empat pilar—sekolah, keluarga, masyarakat, dan media—menjadi kunci dalam mewujudkan “pendidikan bermutu untuk semua”.
Usai upacara, suasana beralih menjadi lebih semarak. Penampilan marching band dari berbagai jenjang pendidikan menambah warna peringatan, sekaligus mencerminkan semangat dan kreativitas generasi muda Labusel.(mag-5/han)
Editor : Johan Panjaitan