Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Dari Kebun ke Dapur MBG: Ketika Petani Lokal Menjadi Penopang Gizi Anak Negeri di Bilah Hilir

Johan Panjaitan • Senin, 11 Mei 2026 | 20:40 WIB
TINJAU: Yayasan Kumle Jaya Bermartabat dan SPPG Negeri Lama mengunjungi lokasi budidaya melon milik Sofyan Daulay di Desa Sei Tampang. (fajar)
TINJAU: Yayasan Kumle Jaya Bermartabat dan SPPG Negeri Lama mengunjungi lokasi budidaya melon milik Sofyan Daulay di Desa Sei Tampang. (fajar)

 

LABUHANBATU, Sumutpos.jawapos.com - Di tengah berbagai tantangan sektor pertanian dan fluktuasi harga hasil panen, hadirnya Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Negeri Lama bersama Yayasan Kumle Jaya Bermartabat membawa pola baru: petani tidak lagi hanya menunggu pasar, tetapi mulai menjadi mitra tetap dalam sistem pangan daerah.

Petani muda di Desa Sei Tampang, Kecamatan Bilah Hilir, Sofyan Daulay dengan pola kemitraan yang terbangun dengan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Negeri Lama. Sebab, hasil panen tersebut memiliki arti lebih besar dari sekadar komoditas pertanian.


Melon-melon milik perkebunannya kini menjadi bagian dari rantai pangan yang menyuplai kebutuhan dapur MBG—program yang tidak hanya berbicara tentang pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga tentang bagaimana ekonomi lokal ikut bergerak bersama.


Kepala SPPG Negeri Lama, Iroy Al Ridhan RF, bersama Aslab Busri Arjuna, Senin, 11 Mei 2026, mendatangi langsung lokasi budidaya melon milik Sofyan Daulay di Desa Sei Tampang.

Baca Juga: Dinkes Sumut Minta Masyarakat Tetap Waspada akan Hantavirus


Kunjungan itu bukan sekadar seremoni atau agenda formal biasa. Mereka ingin memastikan sendiri kualitas hasil pertanian yang akan masuk ke dapur MBG Negeri Lama. Di lahan tersebut, mereka melihat bagaimana proses budidaya dilakukan dan bagaimana hasil panen lokal dapat memenuhi standar kebutuhan pangan bergizi.


Bagi Sofyan, keterlibatan dalam program ini menjadi peluang baru bagi petani muda di kampungnya. Selama ini, petani kerap menghadapi persoalan klasik: hasil panen melimpah tetapi pasar tidak pasti. Harga dapat berubah sewaktu-waktu, sementara biaya produksi terus berjalan.


Kini, sebagian hasil panennya memiliki kepastian penyerapan. Melon dari kebunnya telah beberapa kali digunakan untuk memenuhi kebutuhan buah segar di dapur MBG Negeri Lama.


"Pola kemitraan seperti ini memberi dampak yang berbeda. Petani tidak lagi berdiri sendiri menghadapi pasar, melainkan masuk ke dalam ekosistem pangan yang lebih terstruktur," ujarnya.


Di banyak daerah, program makan bergizi sering dipahami hanya sebatas pembagian makanan. Namun di Negeri Lama, program ini mulai diarahkan menjadi penggerak ekonomi lokal.


Konsep yang dibangun SPPG Negeri Lama bersama Yayasan Kumle Jaya Bermartabat terlihat sederhana: kebutuhan dapur dipenuhi dari hasil masyarakat sekitar. Sayur, buah, hingga produk peternakan diupayakan berasal dari petani dan peternak lokal.


Kordinator Wilayah Labuhanbatu, Prisila Dinanti sendiri bahkan memberikan arahan agar seluruh dapur MBG di wilayah Labuhanbatu memberdayakan petani serta peternak di sekitar lokasi dapur.


Arahan tersebut memiliki dampak strategis. Jika setiap dapur MBG membeli kebutuhan pangan dari masyarakat sekitar, maka uang yang berputar dari program itu tidak keluar daerah, melainkan kembali menghidupkan ekonomi desa.
Skema ini juga menciptakan hubungan saling membutuhkan. Dapur MBG memperoleh bahan pangan segar dengan distribusi lebih cepat, sementara petani mendapatkan pasar yang lebih stabil.

"Keterlibatan Sofyan Daulay juga menjadi gambaran penting tentang regenerasi pertanian di desa," imbuhnya.

Baca Juga: DAIKIN Raih Paritrana Award 2025, Bukti Komitmen Perlindungan Tenaga Kerja

Program seperti yang dijalankan SPPG Negeri Lama membuka peluang baru bahwa pertanian bukan lagi aktivitas subsisten semata, tetapi dapat menjadi bagian dari rantai ekonomi modern berbasis kebutuhan pangan masyarakat.
Petani muda seperti Sofyan tidak hanya menjual hasil panen, tetapi menjadi bagian dari program sosial yang berdampak langsung terhadap pemenuhan gizi masyarakat.


Di titik inilah pertanian memiliki nilai yang lebih luas: bukan sekadar produksi pangan, tetapi juga investasi sosial.


Kepala SPPG Negeri Lama, Iroy Al Ridhan RF, menegaskan bahwa pihaknya ingin menjadi mitra bagi petani dan peternak lokal di Bilah Hilir.
Menurutnya, kolaborasi antara dapur MBG dan masyarakat sekitar penting untuk menciptakan ekosistem pangan yang sehat, mandiri, dan berkelanjutan.


Melalui pendekatan pemberdayaan, masyarakat justru dilibatkan sebagai bagian dari rantai pasok utama. "Petani menanam, peternak memproduksi, dapur MBG menyerap hasilnya, lalu masyarakat menerima manfaat gizi dari produk yang berasal dari lingkungan mereka sendiri," harapnya.


Pemberdayaan petani lokal dalam program MBG ini, sebutnya merupakan arahan langsung dari Ketua Yayasan Kumle Jaya Bermartabat, Raja Gompulon Rambe.
"Yayasan tersebut sesuai arahan Ketua mendorong agar seluruh program MBG melibatkan masyarakat sekitar sehingga manfaat ekonomi dan sosial benar-benar dirasakan warga lokal," tegasnya.


Jika petani berkembang, peternak tumbuh, dan kebutuhan dapur terpenuhi dari desa sendiri, maka program MBG tidak hanya memberi makan masyarakat, tetapi juga membangun kemandirian ekonomi lokal.


Di Desa Sei Tampang, melon-melon milik Sofyan Daulay kini bukan hanya hasil kebun biasa. Dari ladang sederhana itu, tersimpan harapan tentang bagaimana program gizi bisa berjalan beriringan dengan pemberdayaan masyarakat.
Dan mungkin, dari langkah kecil di Bilah Hilir inilah, gagasan tentang ketahanan pangan berbasis desa mulai menemukan bentuk nyatanya. (fdh)

Editor : Johan Panjaitan
#PETANI LOKAL #masyarakat #Bilah Hilir #ketahanan pangan #Mbg