Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Massa GPM-PALAS Geruduk Kantor Bupati, Dugaan Manipulasi Data Plasma PT APN Picu Kemarahan Mahasiswa

Johan Panjaitan • Selasa, 12 Mei 2026 | 16:02 WIB
Masa dari Gerakan Pemuda dan Mahasiswa Padang Lawas ( GPM PALAS), geruduk Kantor Bupati Senin 11 Mei 2026. (Mitra Harahap/Sumut Pos)
Masa dari Gerakan Pemuda dan Mahasiswa Padang Lawas ( GPM PALAS), geruduk Kantor Bupati Senin 11 Mei 2026. (Mitra Harahap/Sumut Pos)

 

PADANG LAWAS, Sumutpos.jawapos.com- Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Pemuda dan Mahasiswa Padang Lawas (GPM-PALAS) menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Bupati Padang Lawas, Senin (11/5/2026). Mereka menuntut transparansi terkait dugaan manipulasi data penerima manfaat plasma PT Agrinas Palma Nusantara (APN).

Aksi yang dimulai sekitar pukul 14.00 WIB itu berlangsung panas. Massa tampak berulang kali melontarkan kritik keras kepada pemerintah daerah karena menilai persoalan plasma menyangkut hak masyarakat kecil yang tidak boleh dipermainkan.

Ketegangan sempat terjadi ketika massa mencoba mendekat ke area kantor bupati dan dihalau aparat kepolisian serta Satpol PP yang berjaga. Aksi saling dorong pun tak terhindarkan.

Kekecewaan demonstran semakin memuncak karena Bupati Padang Lawas tidak hadir menemui massa untuk memberikan penjelasan langsung.

Dalam orasinya, salah satu orator, Fandi Andika Hasibuan, menilai absennya kepala daerah di tengah polemik publik menunjukkan lemahnya tanggung jawab moral terhadap masyarakat.

Baca Juga: 124 Warga Kelurahan Mangga Terima Bantuan PKH Medan Makmur

“Ketidakhadiran bupati dalam situasi seperti ini mencerminkan lemahnya etikalitas dan tanggung jawab kepada rakyat,” tegas Fandi di hadapan peserta aksi.

Ia menekankan bahwa kepemimpinan seharusnya berdiri di atas tiga prinsip utama, yakni etikalitas, intelektualitas, dan elektabilitas.

Senada dengan itu, Sopang Muda Hasibuan menyebut dugaan manipulasi data plasma bukan persoalan administratif biasa. Menurutnya, jika tidak dibuka secara terang, persoalan tersebut berpotensi memicu konflik sosial yang lebih besar di kemudian hari.

“Ini menyangkut hak masyarakat. Kalau dibiarkan, akan menjadi bom waktu,” ujarnya.

Sementara itu, Koordinator Aksi Panaekan Hasibuan menegaskan bahwa gerakan mahasiswa tidak akan berhenti hanya pada aksi demonstrasi. Mereka mengaku siap membawa persoalan tersebut ke jalur hukum dan mengawal prosesnya hingga tingkat tertinggi.

“Kami meminta aparat penegak hukum mengusut tuntas kasus ini tanpa ada yang ditutup-tutupi. Siapa pun yang terlibat harus diproses sesuai hukum. Semua sama di mata hukum,” tegasnya.

Massa juga mendesak kepolisian dan kejaksaan bekerja independen tanpa intervensi pihak mana pun dalam mengusut dugaan manipulasi data plasma tersebut.

Baca Juga: BMKG Prakirakan Sepekan Kedepan Sumut Dilanda Hujan

Dalam aksinya, mahasiswa turut menyinggung dugaan adanya keterkaitan antara pengelolaan data plasma PT APN dengan pihak eksekutif daerah. Karena itu, mereka meminta klarifikasi terbuka dari pemerintah kabupaten agar polemik tidak berkembang menjadi spekulasi liar di tengah masyarakat.

Meski aksi berlangsung dinamis dan diwarnai ketegangan selama lebih dari satu jam, demonstrasi akhirnya berakhir dengan pengawalan aparat keamanan.

Namun, massa memperingatkan akan kembali turun dengan jumlah yang lebih besar apabila tuntutan mereka terkait transparansi dan penegakan hukum tidak segera direspons.

Hingga berita ini diturunkan, Pemerintah Kabupaten Padang Lawas belum memberikan keterangan resmi terkait tuntutan mahasiswa maupun dugaan manipulasi data plasma PT Agrinas Palma Nusantara tersebut.(mag-12/han)

Editor : Johan Panjaitan
#gpm-palas #Kantor Bupati #manipulasi #plasma