Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Ziarah ke Makam Pejuang Perang Songgal, Wawako Jiji: Binjai Bukan Sekadar Kota Rambutan

Johan Panjaitan • Sabtu, 23 Mei 2026 | 17:10 WIB

Wawako Binjai, Hasanul Jihadi berdialog dengan Datuk Bendahara Sunggal Serbanyaman, Aja Muhammad Ikram saat ziarah di Masjid Raya Kedatukan Sunggal Serbanyaman. (Teddy Akbari/Sumut Pos)
Wawako Binjai, Hasanul Jihadi berdialog dengan Datuk Bendahara Sunggal Serbanyaman, Aja Muhammad Ikram saat ziarah di Masjid Raya Kedatukan Sunggal Serbanyaman. (Teddy Akbari/Sumut Pos)

 

BINJAI, Sumutpos.jawapos.com- Jejak heroik Perang Songgal kembali dihidupkan dalam momentum Hari Ulang Tahun ke-154 Kota Binjai. Wakil Wali Kota Binjai, Hasanul Jihadi, berziarah ke kompleks makam pejuang Perang Tanduk Benua di Masjid Raya Kedatukan Sunggal Serbanyaman, Jalan Sunggal Pekan, Medan, Jumat (22/5/2026).

Ziarah itu bukan sekadar agenda seremonial. Pemerintah Kota Binjai mulai menegaskan kembali identitas sejarah daerah yang selama ini dinilai tenggelam di balik julukan “Kota Rambutan”. Di hadapan para tokoh adat Kedatukan Sunggal, Jiji — sapaan akrab Hasanul Jihadi — menyebut Binjai lahir dari tradisi perjuangan panjang melawan kolonialisme.

Kedatangan Jiji disambut Datuk Bendahara Sunggal Serbanyaman, Aja Muhammad Ikram. Sebelum berziarah, keduanya berdialog mengenai sejarah Perang Songgal, perang rakyat yang berlangsung sejak 15 Mei 1872 hingga 20 Januari 1895 melawan kolonial Belanda.

Baca Juga: BNNK Binjai Gerebek Barak Judi dan Narkoba, Puluhan “Pasien” Kocar-kacir Tinggalkan Motor

Di kawasan Masjid Raya Kedatukan Sunggal yang dibangun sejak 1630 itu, terdapat makam para panglima perang yang memimpin perlawanan rakyat lintas etnis. Nama lima datuk pejuang terukir di area kompleks makam sebagai simbol persatuan dan keberanian masyarakat Sumatera Timur pada masa penjajahan.

Menurut Ikram, Perang Songgal merupakan salah satu perang paling heroik di Nusantara karena mampu menyatukan empat suku besar untuk menghadapi Belanda. Bahkan, dalam pertempuran tersebut, tiga perwira Belanda disebut tewas.

“Perang Songgal ini perang paling heroik se-Nusantara. Mereka mampu menyatukan empat suku melawan Belanda dan berhasil membunuh tiga perwira Belanda,” ujar Ikram.

Ia menilai Kota Binjai layak menyandang predikat Kota Pahlawan karena menjadi salah satu titik penting dalam puncak perlawanan tersebut.

“Puncak Perang Songgal itu terjadi di Kota Binjai. Jadi sangat layak Binjai disebut Kota Pahlawan,” katanya.

Ikram berharap Pemerintah Kota Binjai mulai mengabadikan nama para pejuang Songgal menjadi nama jalan, gedung maupun fasilitas publik lainnya agar generasi muda mengenal sejarah daerahnya sendiri.

Baca Juga: Perlintasan Tanpa Palang Kembali Makan Korban, Pajero Ditabrak KA Barang hingga Terseret 50 Meter

“Supaya masyarakat tahu, orang-orang Binjai dulu bukan pengecut. Mereka punya keberanian, prinsip dan tanggung jawab menjaga tanahnya,” ucapnya.

Usai berziarah, Jiji diajak melihat langsung kondisi Masjid Raya Kedatukan Sunggal yang hingga kini masih berdiri kokoh. Tiang-tiang kayu besar dan kusen asli bangunan tua itu tetap dipertahankan, meski sebagian lantai telah diperkuat dengan pemasangan keramik demi menjaga struktur bangunan bersejarah tersebut.

Bagi Jiji, ziarah itu menjadi pengingat bahwa kemerdekaan tidak lahir dari ruang kosong, melainkan dari darah dan pengorbanan para pejuang daerah.

“Bukan hanya keringat, tapi darah yang mereka berikan untuk membela nusantara dan menyatukan bangsa ini,” katanya.

Ia mengaku Pemerintah Kota Binjai kini memiliki pekerjaan rumah besar untuk mengangkat kembali nama para tokoh pejuang lokal ke ruang publik.

“Ada banyak catatan bagi kami. Nama jalan dan gedung di Kota Binjai harus mulai menggunakan nama para pejuang seperti Datuk Kecit dan Datuk Soeloeng Barat,” ujar Jiji.

Menurutnya, para tokoh Perang Songgal bukan hanya berjuang untuk Binjai, tetapi juga memiliki pengaruh hingga wilayah Karo, Medan dan Langkat.

Di akhir kunjungannya, Jiji menegaskan bahwa identitas Binjai tidak boleh berhenti hanya sebagai kota penghasil rambutan. Ia ingin sejarah perjuangan menjadi narasi utama yang diwariskan kepada masyarakat.

“Binjai bukan hanya dikenal sebagai Kota Rambutan. Binjai adalah kota para pejuang, kota para mujahid, dan kota yang melahirkan pembela panji-panji kebenaran,” pungkasnya.(ted/han)

Editor : Johan Panjaitan
#perang songal #ziarah #Wawako Binjai #Hasanul jihadi