KARO, Sumutpos.jawapos.com – Harapan keluarga agar kondisi Krismas br Sihite segera membaik belum juga terwujud. Siswi SMA Negeri 1 Berastagi yang menjadi salah satu korban keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) itu kini kembali menjalani perawatan di ruang Pediatric Intensive Care Unit (PICU) RS Haji Medan.
Ini menjadi kali kedua Krismas harus mendapat perawatan intensif setelah sebelumnya sempat dinyatakan membaik dan diperbolehkan pulang. Kondisinya yang kembali menurun membuat keluarga diliputi kecemasan sekaligus trauma.
Hingga Minggu (13/9), Krismas masih mengeluhkan sakit perut, pusing, hingga kebas pada kedua kakinya. Meski demikian, keluarga melihat sedikit perkembangan positif. Krismas yang sebelumnya kesulitan berbicara kini mulai mampu berkomunikasi, meski masih terbata-bata.
Baca Juga: Derby Manchester Memanas! MU dan Man City Diprediksi Saling Bobol di Old Trafford
Kakak kandung Krismas, Apriati br Sihite, mengatakan kondisi adiknya sempat sangat mengkhawatirkan ketika kembali dirawat di RS Haji Medan.
“Saat diminta Gubernur Sumut dirujuk kembali ke RS Haji Medan, kondisi kesehatan Krismas memang sangat mengkhawatirkan. Berbicara saja dia tidak sanggup. Tapi saat ini korban sudah mau bicara meski terbata-bata,” kata Apriati kepada Sumut Pos.
Sempat Dinyatakan Sembuh
Krismas merupakan salah satu korban dengan kondisi yang cukup mengkhawatirkan setelah insiden keracunan MBG pada 13 Agustus 2026.
Ia sebelumnya dirujuk ke RS Haji Medan untuk mendapatkan penanganan. Setelah menjalani perawatan selama 10 hari, Krismas dinyatakan membaik dan diperbolehkan pulang pada 21 Agustus 2026.
Namun, kepulangan tersebut ternyata belum menjadi akhir dari persoalan. Kondisi kesehatan Krismas kembali memburuk saat berada di rumah.
Pada 10 September 2026, keluarga akhirnya kembali membawa Krismas ke RS Efarina Berastagi. Pada hari yang sama, Gubernur Sumatera Utara Bobby Afif Nasution datang menjenguk sejumlah korban, termasuk Krismas.
Melihat kondisi Krismas yang dinilai mengkhawatirkan, Gubernur Sumut meminta agar siswi tersebut kembali dirujuk ke RS Haji Medan.
Malam itu juga, Krismas kembali dibawa ke Medan untuk mendapatkan perawatan intensif.
“Ini kedua kalinya Krismas dirawat di PICU RS Haji Medan. Tapi kondisi kesehatannya tak kunjung membaik,” ujar Apriati.
Keluarga Masih Menunggu Kepastian Diagnosis
Di tengah proses perawatan tersebut, keluarga mengaku masih menunggu kepastian mengenai kondisi medis Krismas.
Apriati mengatakan, pada perawatan sebelumnya, dokter sempat menyampaikan diagnosis berupa infeksi saluran pencernaan pada usus. Namun, untuk perawatan kali ini, keluarga mengaku belum mendapatkan penjelasan lebih lanjut mengenai diagnosis terbaru.
“Kami masih menunggu kepastian kondisi kesehatan adik kami,” katanya.
Kondisi tersebut membuat keluarga semakin khawatir. Mereka berharap ada penanganan menyeluruh agar Krismas tidak kembali mengalami kondisi serupa setelah diperbolehkan pulang.
Tak hanya persoalan medis, keluarga juga mengaku belum mendapatkan pendampingan dari Badan Gizi Nasional (BGN) selama mendampingi Krismas menjalani perawatan di Medan.
Baca Juga: Warga Kembali Kebanjiran, DPRD Batu Bara Pertanyakan Instruksi PSDA Sumut
Bahkan, Apriati menyebut kebutuhan hidup keluarga selama berada di rumah sakit masih harus ditanggung sendiri.
“Kami sendirian menunggu kepastian kondisi kesehatan Krismas. Biaya hidup selama di rumah sakit juga kami tanggung sendiri,” ungkapnya.
Berharap Dirujuk ke Jakarta
Dalam kondisi tersebut, keluarga berharap pemerintah memberikan perhatian lebih terhadap penanganan Krismas. Harapan itu juga dikaitkan dengan komitmen pemerintah untuk memastikan korban keracunan MBG mendapatkan penanganan kesehatan secara optimal.
Keluarga bahkan meminta agar Krismas dapat dirujuk ke rumah sakit di Jakarta. Mereka menyebut dua korban lainnya, Febiola br Bangun dan Agnesia Silitonga, telah menjalani perawatan di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta.
“Untuk kesembuhan adik kami, kami minta dirujuk ke rumah sakit di Jakarta,” pinta Apriati.
Menurutnya, permintaan tersebut muncul dari kekhawatiran keluarga setelah Krismas harus kembali menjalani perawatan meski sebelumnya telah dinyatakan sembuh.
“Karena ini kedua kalinya adik kami dirujuk ke sini. Kami hanya ingin adik kami sembuh total dari penyakitnya dan tidak bolak-balik masuk rumah sakit,” lirihnya.
Bagi keluarga, yang paling penting saat ini bukan sekadar Krismas kembali diperbolehkan pulang, melainkan memastikan kondisi kesehatannya benar-benar pulih dan mendapatkan penanganan medis yang menyeluruh. (deo/han)
Editor : Johan Panjaitan