BATUBARA, Sumutpos.jawapos.com– Upaya mengendalikan debit Sungai Bah Bolon dan mengurai persoalan banjir di Kabupaten Batu Bara terus dilakukan. UPTD Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Bah Bolon Pematangsiantar menyiapkan sejumlah langkah teknis, mulai dari pengaturan pembagian debit hingga perbaikan bangunan pengendali aliran.
Kepala Seksi PSDA Bah Bolon Pematangsiantar, Sadikan, mengatakan pengendalian debit dilakukan dengan membagi aliran Sungai Bah Bolon ke Sungai Tanjung dan Sungai Gambus. Skema tersebut disiapkan untuk mengurangi tekanan debit air yang mengarah ke wilayah hilir.
Namun, pelaksanaannya belum berjalan maksimal lantaran debit Sungai Bah Bolon masih cukup tinggi.
“Saat ini sedang dijalankan pengalihan debit air Sungai Bah Bolon, dibagi untuk Sungai Gambus dan Sungai Tanjung. Cuma hingga beberapa hari ini debit air Sungai Bah Bolon tinggi. Kita sudah ada perencanaan, akan dibagi ke Sungai Tanjung sebesar 70 persen dan 30 persen ke Sungai Gambus,” ungkap Sadikan saat dikonfirmasi Sumut Pos, Senin (14/9/2026).
Baca Juga: Fenomena Unik, Sejumlah Negara Gunakan Bahasa Indonesia untuk Papan Informasi
Selain pengaturan debit, PSDA juga menyiapkan perbaikan Cofferdam II Bendung Sidalu-Dalu yang sebelumnya dibongkar masyarakat. Perbaikan tersebut berkaitan dengan upaya mengembalikan fungsi Bendung Cinta Maju dalam sistem pengelolaan air di kawasan tersebut.
“Kita juga akan memperbaiki Cofferdam II Bendung Sidalu-Dalu yang dibongkar masyarakat,” katanya.
Sadikan menegaskan, pekerjaan pengelolaan sumber daya air memiliki karakter khusus karena sangat bergantung pada kondisi aliran di lapangan.
“Patut digarisbawahi, pekerjaan PSDA itu kerjanya di air,” tegasnya.
Untuk memperkuat pengaturan aliran, PSDA juga merencanakan pembukaan Bendung Tanah Merah. Sebagian debit akan diarahkan ke Sungai Tanjung bagian hilir.
Dari sekitar 70 persen debit yang dialirkan ke Sungai Tanjung, sebagian nantinya diarahkan ke kawasan Sipare-Pare untuk mendukung kebutuhan Daerah Irigasi (DI) Perkotaan sekitar 20 persen.
“Itulah fungsi pembagi Bendung Tanah Merah dan DI Simodong,” jelasnya.
Terkendala Debit Tinggi
Sadikan mengakui pekerjaan di lapangan belum dapat dilakukan secara maksimal. Tingginya debit Sungai Bah Bolon menjadi salah satu kendala utama.
“Saat ini belum maksimal karena debit air Bah Bolon masih tinggi. Jadi kita belum maksimal bekerja,” ujarnya.
Meski begitu, dia memastikan material dan peralatan yang dibutuhkan telah tersedia. Di antaranya geobag, batang kelapa dan excavator.
PSDA Bah Bolon juga telah memberikan penjelasan teknis kepada dua anggota DPRD Batu Bara terkait kondisi dan langkah penanganan di lapangan.
Baca Juga: Cegah Stunting, Pemkab Paluta Aktifkan Posyandu hingga Pelosok Desa
“Saya sudah jelaskan dan saya sampaikan kepada dua orang anggota DPRD Batu Bara, dan sudah mengerti dengan respons PSDA,” katanya.
Sadikan sekaligus membantah anggapan adanya rekayasa maupun pembiaran dalam proses penanganan regulator dan bendung.
Menurut dia, pekerjaan tersebut harus dilihat berdasarkan kondisi teknis di lapangan. Penanganan konstruksi di aliran sungai tidak bisa dilakukan tanpa memperhitungkan kedalaman dan debit air.
“Saya akan jelaskan secara teknis di lapangan, tidak dijelaskan lewat handphone. Ini soal teknis, sehingga jangan ada anggapan ada rekayasa atau apa sehingga sudah sebulan belum siap. Padahal secara teknis kerja di air perlu sondir, perlu standar kedalaman air berapa, dan cofferdam itu kita arahkan berapa hari,” jelasnya.
Dia juga mempersilakan kondisi Bendung Cinta Maju dievaluasi secara langsung. Menurutnya, sejumlah material telah diturunkan untuk mendukung pekerjaan.
“Silakan dicek sendiri di Bendung Cinta Maju. Sudah turun lebih kurang 50 batang kelapa, besi dan beton. Saya rasa silakan dievaluasi,” katanya.
Tiga Tahun Gangguan Irigasi
Persoalan pengelolaan air di kawasan tersebut, lanjut Sadikan, tidak hanya menyangkut banjir di hilir Sungai Gambus Laut. Sejumlah desa di sekitar aliran Bendung Sidalu-Dalu juga terdampak.
Kondisi tersebut turut berimbas terhadap aktivitas pertanian masyarakat. Bahkan, terdapat wilayah yang disebut mengalami hingga delapan musim tanam atau sekitar tiga tahun gagal bercocok tanam karena pasokan air tidak mengalir ke saluran primer persawahan.
Karena itu, keberadaan Bendung Sidalu-Dalu yang berfungsi baik dan permanen dinilai penting untuk mengembalikan kelancaran irigasi.
Baca Juga: World Atopic Eczema Day, Kenali Eksim Atopik yang Tak Sekadar Masalah Kulit
Dengan berfungsinya bendung tersebut, saluran irigasi di lima desa seluas sekitar 1.460 hektare diharapkan kembali mampu mengairi areal pertanian secara optimal.
Sadikan menyebut persoalan tersebut juga mendapat perhatian Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.
Banjir Gambus Laut Mulai Surut
Di sisi lain, kondisi banjir di Desa Gambus Laut mulai menunjukkan perbaikan.
Berdasarkan pantauan Sumut Pos, Rabu (16/9/2026) sekitar pukul 20.30 WIB, genangan yang sebelumnya merendam halaman dan memasuki rumah warga mulai surut.
Kepala Dusun VII Desa Gambus Laut, Budiman, mengatakan kondisi banjir saat ini jauh membaik dibanding sebelumnya.
“Kondisi banjir di Gambus Laut sudah surut. Kondisi banjir yang kemarin menggenangi halaman dan air masuk ke rumah warga saat ini tidak ada lagi. Bisa dikatakan kondisi banjir 80 sampai 90 persen sudah surut,” ungkapnya.
Alpon Minta Gambus Hilir Dinormalisasi
Anggota DPRD Batu Bara, Alpon Sirait, menyambut baik langkah UPT PSDA Bah Bolon Pematangsiantar dalam mengendalikan debit Sungai Bah Bolon.
Namun, menurut dia, pengendalian debit tidak cukup hanya dengan rehabilitasi Bendung Cinta Maju. Normalisasi Sungai Gambus bagian hilir juga perlu menjadi perhatian Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.
Baca Juga: Jangan hanya Gigi, Lidah juga Harus Disikat, Ini Manfaatnya
Alpon berharap normalisasi Sungai Gambus Hilir sepanjang sekitar dua kilometer dapat dimasukkan dalam program kerja Dinas PSDA Provinsi Sumut Tahun Anggaran 2027.
“Normalisasi Sungai Gambus Hilir mutlak harus masuk dalam program kerja Dinas PSDA Provinsi Sumatera Utara di tahun 2027. Panjangnya sekitar dua kilometer, dimulai dari jembatan penghubung Desa Limau Sundai di Kecamatan Air Putih menuju Desa Pematang Tengah di Kecamatan Limapuluh Pesisir sampai ke muara Sungai Gambus di Gambus Laut,” terangnya.
Menurut Alpon, persoalan banjir di Gambus Laut tidak semata-mata disebabkan kondisi Bendung Cinta Maju.
“Karena tanpa ada pun kegiatan rehabilitasi Bendung Cinta Maju, Desa Gambus Laut tetap menjadi langganan banjir pada saat debit Sungai Bah Bolon tinggi,” ujarnya.
Dia juga memaparkan besarnya cakupan Daerah Irigasi (DI) Bah Bolon yang mencapai sekitar 10.065 hektare dan melayani empat kecamatan, yakni Air Putih, Sei Suka, Medang Deras dan Limapuluh Pesisir.
Menurut Alpon, kinerja DI Bah Bolon telah terganggu sekitar tiga tahun, terutama setelah mercu Bendung Cinta Maju jebol pada 2022.
“Dengan jebolnya Bendung Cinta Maju, kecenderungan aliran ke Sungai Dalu-Dalu semakin deras. Akibatnya dasar saluran semakin rendah dibanding Sungai Tanjung di hulu dan Sungai Gambus,” jelasnya.
Kondisi tersebut kemudian memunculkan persoalan berbeda ketika debit Sungai Bah Bolon rendah. Air tidak mengalir optimal menuju Sungai Tanjung maupun Sungai Gambus, tetapi justru lebih banyak terbuang ke laut.
Alpon merinci Sungai Tanjung melayani DI Tanjung Muda seluas 1.150 hektare, DI Perkotaan 3.350 hektare, DI Simodong 2.650 hektare, serta kebutuhan air baku perumahan PT Inalum.
Baca Juga: Badak Putih Utara di Ambang Kepunahan, Ilmuwan Berjuang Selamatkan Spesies Terakhir
Sementara Sungai Dalu-Dalu melayani DI Purwodadi seluas 1.350 hektare dan DI Cinta Maju sekitar 1.540 hektare.
Menurut Alpon, persoalan kekeringan juga pernah terjadi pada Mei-Agustus 2025 dan kembali berlangsung pada Mei-Juli 2026.
Karena itu, dia menilai rehabilitasi Bendung Cinta Maju menjadi salah satu bagian penting untuk mengembalikan fungsi sistem irigasi Bah Bolon secara keseluruhan.
“Kunci sukses kinerja DI Bah Bolon adalah dengan melakukan rehabilitasi Bendung Cinta Maju. Dengan demikian muka air di Sungai Dalu-Dalu akan naik, dasar sungai akan terisi sedimen pasir secara perlahan sehingga air bisa dialirkan ke Sungai Tanjung di hulu dan Sungai Gambus,” ungkapnya.
Alpon berharap sistem irigasi Bah Bolon kembali mampu mendukung pola tanam normal minimal 2,5 kali dalam setahun di areal seluas 10.065 hektare.
“Dengan pola tanam normal minimal 2,5 kali dalam setahun, tentunya akan sangat membantu kesejahteraan petani di empat kecamatan tadi dan menjadikan Kabupaten Batu Bara sebagai salah satu sentra pertanian padi di Sumatera Utara,” pungkasnya.(lib/han)
Editor : Johan Panjaitan