sumutpos.jawapos.com – Pemerintah berencana menerapkan skema pembelajaran dari rumah atau kombinasi daring dan tatap muka mulai April 2026. Kebijakan ini menjadi bagian dari langkah efisiensi energi nasional di tengah meningkatnya tekanan ekonomi global, terutama akibat lonjakan harga energi.
Melansir Instagram @lambegosiip, Rabu (25/3/2026), langkah tersebut disiapkan untuk mengurangi mobilitas masyarakat, khususnya di sektor pendidikan, yang selama ini turut menyumbang konsumsi energi cukup besar. Dengan berkurangnya aktivitas perjalanan ke sekolah, diharapkan penggunaan bahan bakar dan energi bisa ditekan secara signifikan.
Pemerintah tidak akan sepenuhnya menghapus pembelajaran tatap muka. Sistem yang diterapkan nantinya bersifat hybrid atau campuran, menyesuaikan kebutuhan setiap mata pelajaran. Artinya, kegiatan belajar tetap bisa dilakukan di sekolah untuk pelajaran tertentu yang membutuhkan praktik langsung.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, menegaskan bahwa kebijakan ini dirancang agar efisiensi energi tetap berjalan tanpa mengorbankan kualitas pendidikan. Pemerintah juga mempertimbangkan kesiapan infrastruktur digital serta akses internet di berbagai daerah sebelum kebijakan diterapkan secara luas.
Selain itu, kebijakan ini menjadi bagian dari paket strategi nasional dalam menghadapi dinamika harga minyak dunia yang berdampak pada berbagai sektor, termasuk pendidikan. Dengan mengurangi aktivitas fisik yang tidak mendesak, pemerintah berharap dapat menjaga stabilitas konsumsi energi dalam negeri.
Meski demikian, rencana ini langsung menuai beragam reaksi dari warganet di media sosial. Banyak yang mendukung, namun tidak sedikit pula yang menyampaikan kekhawatiran.
Salah satu netizen menulis, “Kalau memang bisa hemat energi dan mengurangi macet, kenapa tidak dicoba. Tapi jangan sampai kualitas belajar turun.”
Komentar lain menyoroti kesiapan fasilitas, “Masih banyak daerah yang sinyalnya susah. Jangan samakan semua wilayah, kasihan yang di pelosok.”
Ada juga yang mengaitkan dengan pengalaman selama pandemi, “Dulu belajar online banyak kendala, anak jadi kurang fokus. Semoga sekarang sistemnya lebih matang.”
Namun, sebagian warganet mendukung penuh kebijakan tersebut. “Bagus sih, sekalian dorong digitalisasi pendidikan. Tinggal dibenahi infrastrukturnya,” tulis pengguna lainnya.
Tak sedikit pula yang menyoroti beban orang tua, “Kalau belajar di rumah, orang tua juga harus siap dampingi. Ini juga perlu dipikirkan pemerintah.”
Baca Juga: Diduga Korsleting, Ranger Rover Gosong Terbakar di Tol Paluh Kemiri
Perdebatan di media sosial pun terus berkembang, mencerminkan pro dan kontra masyarakat terhadap kebijakan baru ini.
Kebijakan belajar dari rumah ini menjadi langkah strategis pemerintah dalam menekan konsumsi energi, namun keberhasilannya akan sangat bergantung pada kesiapan infrastruktur, sistem pembelajaran, serta dukungan dari masyarakat luas.(lin)
Editor : Redaksi